
"Heh, culun! gue ngak bisu ngerti!" hardik pria itu.
Pria yang berkulit sawo matang, berambut gondrong sepertinya di ikat ke belakang dan berwarna hitam pekat. Matanya menatap wajah Naya dan Linda dengan penuh tanya.
"Culun pala loe, hei kita disini kerja. Lha loe ngapain kok bisa sampai sejauh pergi kemari?" tanya Linda pada sang pria di depannya itu.
"Orang kaya kayak kalian kerja? ya aku jelas misqueen kerja dong kesini," cetus sang pria berpenampilan seperti penyanyi rock tersebut.
"Mau kaya miskin, kita ini tetap harus kerja loe kira kaya nganggur aja gitu. Butuh proses kalee," timpal Linda lagi.
"Ck, kerja apaan kalau loe pada. Heh, paling ngabisin duit ortu kalian," decak Revano pemuda yang paling di takuti ketika di kampus dulu.
"Kita kerja, di perusahaan mendiang papinya Linda. Loe sendiri disini kerja di mana Van?" alih Naya bertanya halus pada Revano, padahal sudah di katain kalau Naya adalah si culun.
"Oh, yaya gue percaya lun. Tapi, aneh loe juga orang kaya seharusnya ngak kerja ke perusahaan orang lainkan?" selidik Revano ingin tahu.
"Ceritanya panjang." jawab Naya polos.
"Alah, udah loe brandal ngak usah kepo kehidupan Naya ama gue," sahut Linda kesal melihat gaya Revano yang tak bisa berubah.
"Woi, anj*r! gue juga ngak peduli hidup loe pada, kan kebetulan aja kita ketemu disini." geram Revano pada Linda.
"Udah - udah, Linda kitakan serumpun jangan bergaduh di sini dong." sela Naya.
"Tuh, dengerin si culun aja bijak." tunjuk Revano pada Naya.
"Huh!" Linda memberi tonjokan bohong pada Revano.
Pria itu adalah Revano yang sedang refresingkan dirinya dengan penat aktivitas selama bekerja, ternyata selama ini dia pergi ke benua kanguru untuk menggais rezeki bersama sang ibundanya. Dengan bakat otaknya yang cemerlang Revano mendapatkan pekerjaan yang bagus juga gaji setara pejabat yang ada di Indonesia.
Dulu sebelum dia dan ibunya Lanni pergi ke Australia pulang ke kampunghalaman dulu, setelah itu Revano anak tengil nekad mencari pekerjaan ke luar negeri melalui dinas tenaga kerja kabupaten jawa barat.
Mereka sekarang jadi rekreasi bertiga melihat keindahan aquarium tangan manusia, Revano bercerita tentang kisah hidupnya yang suram pada Naya dan Linda. Dua gadis itu mendengarkan cerita Revano.
"Aku menyesal menjadi berandal, semua karena orangtuaku. " Revano bercerita ketika mereka bertiga jalan.
"Kenapa dengan orangtuamu Van?" Naya penasaran dengan kehidupan Revano.
"Ibuku sebenarnya dulu istri sah pak Wisanggeni, papanya Jesyca." lanjut Revano lagi.
"What?" Naya dan Linda serempak.
"Berhubung ibu gue hamil bukan sama pak Wisang, beliau diceraikan. Pak Wisanggeni menikah dengan bu Famala dan mengandung Jesyca," cerita Revano langsung ke intinya.
"Terus loe anak siapa?" Linda semakin penasaran.
"Gue anak supir pribadi pak Wisang, karena dulu ibu gue katanya mertuanya mandul. Eh, ternyata setelah ibu gue mengandung mertuanya naik pitam malu sendiri dan diusir dari rumah pak Wisang," kata Revano melanjutkan ceritanya.
"Memurut cerita ibu gue sendiri, katanya bapak biologis gue ada di Ausy sini tapi bukan di Melbourne. Dia ada di Canberra," ungkap Revano.
"Terus, kalau bokap loe udah jelas alamatnya ngak mau nyariin?" kerlit Naya pada Revano yang berjalan pelan di samping kanannya.
"Ya, mau nyari tapi nyokap belum siap buat ketemu beliau. Kami dapat alamatnya dari kantor dinas tenaga kerja dan trasmigrasi," jelas Revano.
"Kenapa nyokab loe ngak mau?" ganti Linda yang masih penasaran di samping kiri Revano.
"Sabar aja ndal, brandal semoga nyokab loe mau ketemu sama bokap biologis loe yah." sela Linda meledek Revano,seraya menepuk pundak pria itu.
"Eit, sialan loe. Gue udah taubat jadi berandal," balasnya.
"I-ih, kalian emang ngak bisa saling akur! kita ini sama - sama serumpun dan sebangsa, kenapa sih harus ledek - ledekan kayak anak kecil." tukas Naya pada kedua orang itu.
"Tau nih, dasar si centil sok kecantikan satu nih. Mending si culun ni cantik beneran." Kilah Revano memojokan Linda, lalu memuji Naya.
"Resek, bilang aja loe demen Naya!" decit Linda bersidekap tangannya.
"Ya enggaklah, masak gue cinta ama culun. Selera gue gini - gini bule atau cewek Korea, secara wajah gue tampan menawan." pujinya pada dirinya sendir.
"Siapa juga yang demen sama loe," sahut Naya membelalakan mata dan menghantap kecil lengan Revano.
"Repanol, mendingan loe ga usah sok deh. Loe bukan selera kita orang!" ketus Linda kesal.
"Bodo ah, eh berhubung gue lagi baik hati yuk kita makan bareng, biar gue yang tlaktir kalian," tawar Revano renyah, mengalihkan pembicaraan yang tidak bermutu.
"Boleh, tapi yang enak terus mahal juga. Biar kita tahu seberapa kaya sih loe sekarang," alih Linda menantang Revano.
Revano hanya mengangguk tanda setuju, dia berjalan lebih dulu dan di susul Naya juga Linda di belakangnya, mereka bertiga keluar dari gedung aquarium terbesar di kota Melbourne.
Sesampainya di parkiran mobil, Linda dan Naya tercengang. Karena melihat Revano memasuki mobil mewah buatan negara Germany, Revano sepertinya bukan orang sembarangan seperti dulu ketika masih kuliah yang di kenal oleh semua mahasiswa di kampusnya.
Naya dan Linda mengikuti mobil Revano keluar dari parkir area VIP, disana juga terparkir mobil milik Linda. Mereka berduapun mengikuti Revano, mobil milik pria mantan berandal itu belok ke sebuah lestoran yang paling bergengsi di kota itu.
"Yakin ngak nih, si berandal mau nlaktir kita disini," racau Linda pada Naya.
" Dari penampilan kendaraannya sih, kayaknya meyakinkan Lind," tebak Naya saat masih di dalam mobil.
"Ayok turun, tuh dia udah turun." imbuh Linda seraya turun dari mobil pribadinya.
Dua orang gadis itu, mengikuti Revano yang melangkah memasuki lestoran tersebut dan duduk di satu tempat.
"Sini, malah bengong." ucap Revano.
Linda dan Naya duduk satu meja dengan Revano, pri itu memesan menu makanan kepada seorang pelayan kulit putih berambut pirang, sepertinya pekerja lestoran itu keturunan Inggris atau orang Eropa.
Setalah beberapa saat, makanan untuk tiga porsi datang kemeja mereka dengan bantuan robot. Naya dan Juga Linda heran dengan Revano dia seperti sudah terbiasa makan di lestoran semahal itu.
"Silahkan, nikmati aja." ucap Revano mempersilahkan dua wanita di depannya.
"Oke, thanks Van." jawab Naya.
"Eh, ndal. Loe udah sering datang kemari?" tanya Linda penasaran.
"Yah, hampir tiap makan malam atau siang, sama ibu gue aja sih." jelas Revano. Ia mengunyah daging di dalam mulutnya.
"Ngak sama cewek bule sini, atau Korea gitu?" selidik Linda ingin tahu.
"Ga ada lah centil, lagian males gue. Perempuan cuma ngabisin waktu aja." tukas Revano.