I Love You Driver Handsome

I Love You Driver Handsome
Bab. 54



• • • • • • • • • • • •


Mentari pagi sudah menampakan sinarnya menerpa melalui celah kaca jendela, sedangkan Famala juga Ratih telah selesai mengerjakan tugas rumah. Karena di Belanda tidak ada asisten rumah tangga jadi mereka berdua yang mengerjakan semua, kecuali Jesyca karena sedang hamil muda.


Famala mencoba mengetuk pintu kamar Jesyca, karena sejak semalam dia tidak keluar kamar. Hari ini Famala akan pulang ke Indonesia agar Jesyca dapat menenangkan diri bersama janin yang di kandungnya.


Tok!


Tok!


Tok!


"Jesy, bangun nak udah siang nih. Sarapan yuk." ajak Famala di balik pintu kamar.


Tetapi Becker baru bangun dia berjalan menuju kamarnya.


"Lho, kamu tidur dimana Becker?" selidik Famala, matanya ia sipitkan.


"Sofa depan tivi ma," jawab Becker, suaranya masih serak.


"Hah, jadi Jesyca beneran sendiri di kamar?" tanya Famala lagi, sungguh sangat ingin tahu.


"Ya dia ngak mau sekamar sama aku ma, mau gimana lagi. Ngambek Jesyca." cetus Becker.


"Astaga, masih aja kekanakan. Huh, mungkin karena mama salah ngomong semalam." decak Famala,


"Entahlah ma," Becker membuka pintu kamar.


"Ngak di kunci," lanjut Becker.


"Jesyca!" serempak Becker dan Famala.


Jesyca tidak ada di dalam kamarnya, Becker dan Famala terkejut mereka berteriak memanggil Jesyca. Karena di dalam kamar mandi juga kosong, di ruang apartement tidak melihat sosok Jesyca. Wisang, Henderson dan Ratih kelimpungan datang menuju suara teriakan ke kamar pribadi anaknya.


"Ada apa ini?" tanya Ratih.


"Jesyca ngak ada!" teriak Famala, ibu setengah baya itu sangat kebingungan.


"Ya ampun," ucap Ratih seraya memegang kepalanya dengan kedua tangannya.


"Cari cepat!" perintah Henderson.


"Mungkin dia sarapan diluar, huh Jesyca." sela Wisanggeni pelan, kedua tangannya di lipat ke dada.


Becker kemudian berlari keluar rumah mencari dimana Jesyca, Famala, Ratih dan Henderson juga keluar. Sementara Wisanggeni santai di rumah dia sudah hafal gelagat sang putrinya jika sedang marah Jesyca memilih pergi.


•••••


Keempat orang itu berpisah tempat mencari dimana Jesyca, Famala berjalan dia menangisi putrinya yang tiba - tiba menghilang. Famala menyesal karena hal sepele semalam yang ia katakan.


Di sekitar rumah, Henderson juga Ratih tidak menjumpai dimana Jesyca. Kedua pasutri setengah baya itu merasa bersalah kepada Jesyca sang mentu.


"Kita membebani fikiran mama calon cucu kita," keluh Henderson, saat berjalan cengingukan mencari Jesyca.


"Mommy yang salah dad, kalau aja ngak ideku ngak mungkin seperti ini." sesal Ratih.


"Kamu Ratih memang maunya menang,"sungut Henderson.


" Maaf dadd, bukan maksud mommy menyinggung Jesyca." kata Ratih nada intonasinya pelan.


"Ck, serah kamu lah! aku ngak suka kayak gini sumpah." decak Henderson ia kesal kepada Ratih sang istri.


Becker berjalan sudah hampir sekilo juga belum berjumpa dengan sosok sang istri, dia sangat kebingungan bertanya kepada siapapun, namun nihil tidak dapat informasi tentang dimana Jesyca.


Dalam hati Becker sangat menyesal karena sudah membuat Jesyca membenci dirinya, dia tidak dapat membela Jesyca di depan orangtuanya.


"Arrhhh, dimana kamu sayang?" tanyanya sendiri.


"Please pulang," harap Becker dalam benaknya.


Di gerai sarapan dekat dengan sungai yang jernih mata airnya ada deretan tempat duduk, suasana tempat tersebut sangat nyaman bila di gunakan untuk bersantai pada pagi hari.


Karena hari ini libur kerja ataupun sekolah, jadi tempat itu ramai di kunjungi oleh turis atau orang tempatan yang akan menikmati sarapan khas roti negara Belanda.


Pada deretan tempat duduk itu, ada salah seorang yang dikenali oleh Becker, wanita itu adalah Jesyca. Dia malah sedang asyik menyantap makanan di tempat itu. Becker dengan pelan memberanikan diri mendekati Jesyca.


"Ck, kenapa nyariin?" ketus Jesyca memberondong Becker dengan pertanyaan.


"Semua orang dirumah cemas, lagian ibu hamil ngapain makan diluar sendiri." kilah Becker seraya mendaratkan bokongnya di kursi.


"Ngak perlu, aku lagi mau sendiri. Tolong pergi ya," usir Jesyca dengan suara pelan, namun berhasil membuat lemah hati Becker.


"Jangan gini bisa!" ketus Becker setengah menggebrak meja di depan mereka berdua.


"Aku lagi malas debat, tolong pergi dari sini!" usir Jesyca.


Becker masih saja duduk manis di depan Jesyca yang sekarang sudah menampakan wajah garangnya.


"Nunggu apa sih, minggat loe!" usir Jesyca lagi.


"Mata loe buta! gua baru sarapan nih," ujarnya semakin ketus dan marah.


"Aku mau pulang, asal sama kamu. Dan kita bicara baik - baik. Habiskan makananmu!" ucap Becker tegas memerintah sang istri.


"Aku mau pulang, kalau orangtua kita sudah pergi dari rumah." jelas Jesyca gamblang.


"Hari ini, mereka akan segera pulang." jawab Becker.


"Pokoknya. Ngak suka kalau harus ikut pendirian oranglain," alasan Jesyca.


"It's oke," angguk kepala Becker.


"Kenapa semalam kamu diam aja? Ngak bilang apapun ha!" kerlit Jesyca, dia semakin memanas.


"Tolong ya, mommymu itu ngak usah ngatur pernikahan kita. Kalau masih ada aturan dari keluarga kamu lebih baik kita berpisah." papar Jesyca kepada Becker.


Pria itu terdiam sesat, entah apa yang ada dalam benaknya. Sakit hati Becker tadi mendengar kalimat terakhir dari Jesyca, membangun pernikahan dengannya susah setenga mati malah dia mengancam perpisahan.


"Sadar Jes, kamu baru kerasukan. Tolong ulur ucapan kamu di kalimat terakhir tadi!" ujar Becker.


"Aku itu sadar, Becker. Kamu yang ngak faham." alih Jesyca.


"Terserah," jawab Becker pelan.


•••••••


Famala yang sibuk mencari Jesyca tadi, juga menemukan sang putri yang sedang makan duduk manis di deretam gerai makanan.


"Jesyca," serunya dalam hati.


Wanita setengah baya itu langsung mendekati Jesyca yang terlihat masih ngambek dot kom.


"Kalian, kenapa sarapan dilur aih Jes." seru maman Famala saat mendekati meja makan mereka semua.


"Mama, ngapain sih kesini?" selidik Jesyca.


"Nyariin kamu itu, dasar anak nakal, udah besar mau jadi seorang ibu haruas bijak." ujar Famala.


"Jesyca ngak mau aja, pengen makan disini dengan leluasa. Jadi kalian boleh pulang." ketus Jesyca kepada bibi dan iparnya.


"Tolong nak, berfikirlaah dewasa kamu akan menjadi sorang ibu untuk anakmu. Masak ibu sama anaknya sama keras kepalanya," kata Famala memberi nasihat.


"Ma, Jesyca cuma ngak sudi kalau di atur hidupnya, mau tinggal di manapun itu urusan Jesyca!" jawab Jesyca ketus, meluruskan masalah semalam.


"Oke, mama tahu kamu udah dewasa. Tapi fikiranmu mirip anak sekolah SMP," cetus Famala.


"Udah lah sayang, ayo kita pulang," alih Becker.


"Matamu ngak liat, aku masih makan." sahut Jesyca intonasi suranya kuat.


Hingga membuat orang yang duduk di deretan sebelahnya melihat kearah mereka. Becker juga mama Famala menjadi risih karana mereka membuat pemilik gerai akan kehilangan pelanggan.


"Ngapain sih mama masih sewot dengan hidupku," lirih Jesyca.


"Karena aku yang melahirkanmu nak," tegas Famala.


Becker sedari tadi hanya diam tidak menanggapi mama dan Jesyca. Dia hanya menyimak saja.