
•••••
Sebuah mobil toyot* memasuki pedesaan, melewati rumah juga ladang milik Jefri, terlihat mobil tersebut adalah taxi dari bandara yang membawa penumpang menuju desa itu.
Mata Jefri terpaku sesaat melihat pemunpang yang ada di dalam mobil itu, dia adalah sang istri yang sudah dua tahun menghilang setelah acara ijab qobul waktu itu.
Mobil taxi yang tadi melintasi depan rumah Jefri, berhenti tepat di depan rumah pak Ilyas. Mertua Jefri. Dari kejauhan dia mengamati kuda besi itu, tampak seorang wanita muda turun dari dalam mobil dia adalah Naya, juga sang pengemudi taxi menurunkan koper kecil bawaannya.
Tampak di sambut kejut juga haru oleh kedua orangtuanya dan adik sematawayang. Bu Kartini merangkul Naya menangis haru, begitu juga pak ILyas. Davi sang adik juga tidak mau diam dia merangkul sang kakak haru pula.
Taxi yang di sewa Naya tadi sudah meninggalkan rumahnya, kembali melewati depan rumah Jefri, seorang pria suruhan Jefri menghadang kuda besi tersebut. Sang pengemudi tampak heran dan ketakutan.
"Permisi pak, apakah bapak tadi membawa penumpang perempuan?" tanya pria berjanggut panjang, yang berdiri di samping jendela mobil.
"Betul sekali, maaf ada apa ya pak?" tanya balik pemngemudi taxi itu.
"Oh, tidak. Hanya ingin tahu saja, silahkan melanjutkan perjalanan kembali pak," ucap pria itu lagi.
"Terimakasih," kata pengemudi taxi.
Ramli, salah satu ajudan Jefri memberitahukan jika yang barusan sang bos lihat adalah benar itu Naya, istri yang selama ini dia tunggu dan dikabarkan hilang olehnya.
"Aku akan ke rumah, Ilyas kau dan yang lainnya tidak usah ikut. Aku akan menyelesaikan semua urusanku dengan baik - baik." ujar Jefri.
Keempat ajudan yang ada di dalam rumah Jefri hanya mengguk menuruti perintah atasannya, mereka kembali bekerja ke kebun kopi. Sedangkan Jefri berjalan ke kampung sebelah, karena sebenarnya kampung sang istri dan dia ialah perbatasan desa.
• • • • •
Terdengar suara ketukan pintu dan salam dari Jefri, bu Kartini segera pergi ke ruang tamu dia langsung saja mempersilahkan menantunya masuk ke dalam rumah.
"Ibu," sapa Jefri seraya mencium punggung tangan sang mertua.
"Nak, berkat do'a mu. Naya akhirnya kembali," sela bu Kartini pada Jefri.
"Benarkah bu, aku bahagia mendengarnya bu." alih Jefri rona wajahnya tampak ceria.
Naya sengaja berjalan ke ruang tamu, karena mendengar suara pria yang tidak ia sukai. Naya ingin cepat menyelesaikan kehidupannya dengan Jefri yang tidak ia impikan sama sekali.
"Naya," seru Jefri memangil istri sahnya.
"Ya, silahkan duduk kembali." ucap Naya seperti orang asing.
Jefri duduk di kursi sofa kayu kembali, karena saking bahagia menybut kedatangan Naya, tetapi salam tangan hangat dari Naya tidak menyapanya sama sekali.
"Ibu, permisi kebelakang dulu ya." pinta bu Kartini.
"Tetap duduk di sini ibu," pinta Naya.
Bu Kartini tetap menuruti permintaan Naya, mengkin ada sesuatu yang akan ia sampaikan. Selang beberapa menit sebelum Naya membuka percakapanya Davi dan Pak Ilyas datang ke ruang tamu.
"Papa, Davi, sini." pinta Naya lagi, tangannya menepuk kursi kosong di sampingnya,
Davi dan pak Ilyas menurutinya.
"Karena sudah lengkap, Naya akan berbicara. Dan tolong dengarkan untuk yang terakhir kalinya, karena Naya tidak akan kembali lagi kesini." celetus Naya.
Membuat semua orang tercengang, termasuk Jefri. Mereka diam semua, menyimak yang akan Naya sampaikan.
"Pertama, aku akan membayar semua hutang papaku, dan menarik kembali perkembunan kopi milik keluarga kami." kata Naya dengan tegas.
Jefri masih diam, bibirnya tidak bisa dibuka seperti terkunci rapat.
"Kedua, Naya minta di ceraikan uda. Aku indak pernah cinto, tolong jangan di pertimbangkan ini dan besok surat cerai harus uda tanda tangani." tambahnya.
"Bagaimana, apakah uda Jefri setuju permintaan Naya?" tekan Naya pada sang suami.
Pria di depan keluarga Naya itu, dia seperti terpojokan niat untuk memperbaiki hubungannya musnah sudah.
"Kalau, dik Naya sudah tidak ada cinta buat uda. Silahkan lanjutkan hidup Naya, saya hanya mengikuti saja. Dan kita akan cerai sekarang juga," ucap Jefri pelan, namun dapat terdengar oleh sumua orang yang ada di dalam ruang tamu.
"Naya, Jefri," sela bu Kartini.
"Apakah kau mampu membayar hutang kami, Naya?" sela pak ILyas yang belum percaya sepenuhnya pada ucapan sang putri.
"Papa, Naya selama ini bekerja di perushaan luar negri. Milik teman akrabku, Linda apa papa dan mama tidak ingat ketika di Jakarta dulu Linda sering datang ke rumah kita." Papar Naya kepada kedua orangtuanya.
Pak Ilyas dan Bu Kartini mengingat sosok Linda, keduanya langsung ingat. Ternyata selama Naya menghilang bekerja di tempat kawannya.
"Naya, maafkan mama. Jika kau harus bekerja dan tidak melanjutkan studimu nak." kilah bu Kartini, dia mengeluarkan air mata hingga menetes ke pipi senjanya.
"Tidak masalah ma, yang penting aku di ceraikan uda Jefri dan tanah kopi papa kembali lagi." sela Naya, matanya melihat ke arah wajah Jefri.
Wajah yang di tumbuhi brewok dan jenggot lebat, Naya sangat benci dengan pria seperti Jefri, apalagi dia mengenakan baju besar hingga mata kaki.
Naya juga pernah dengar kalau Jefri adalah dalang pengeboman di suatu tempat peribadahan. Benar - benar membuat Naya muak dan ingin menendang wajah polos Jefri.
" Baik, aku kembalikan tanah pak Ilyas, kita akan cerai." ungkap Jefri lirih.
"Aku mau talak tiga, dan tandatangan surat perceraian minggu ini juga, tolong dengan sangat hormat penuhi permintaanku." ucap Naya begitu terdengar lantang dan lugas.
"Baik," angguk Jefri lemas.
"Permisi, terimakasih pak Ilyas." imbuh Jefri.
"Kami yang harus berterimakasih nak, maafkan selama ini." sahut pak Ilyas.
"Seharusnya kita tidak saling mengenal, saya menyesal menunggu adik Naya." ungkap isi hati Jefri yang sebenarnya.
"Oh ya, tapi uda bukankah pernikahan kita hanya sebatas hutang piutang? mengapa uda, seperti tidak rela. Saya punya pilihan hidup untuk cinta saya sendiri, jadi tolong ceraikan dengan ilkhas di pengadilan agama." tegas Naya. Dada wanita yang masih gadis itu memanas seperti tersengat api membara.
Rasanya ingin meremas mulut Jefri, pria yang tidak pernah dia mau seumur hidupnya.
"Hatiku, hanya milik Revano!" lirih Naya dalam hati.
Mata Naya dan Jefri saling bertatapan, namun sorot mata Jefri tampak teduh sedangkan, mata milik Naya tersorot kebencian yang dalam kepada Jefri.
"Ku kira, setelah adik Naya kembali kita akan baik - baik dan menjalani kehidupan berdua." sela Jefri kembali, memecah keheningan.
"Hah, katakan berapa aku harus membeli tanah perkebunan kopi papaku!" sentak Naya, membuat semua orang tertegun.
Tangan Davi mencengkram tangan sang papa.
"Lima ratus juta!" sahut Jefri kuat, karena saking emosinya.
"Baik," kata Naya.
"Davi, tolong ambilkan tas kecil kakak ya, di atas meja makeup." perintah Naya pada sang adik.
Davi menurutinya, tak lama kemudian Davi membawa tas kecil milik sang kakak.
"Yang ini kak," suara Davi.
"Iya, makasih ya." sela Naya.
Lalu dia mengeluarkan uang ratusan ribu sebanyak lima ratus juta jumlahnya. Jefri yang menerimanya tertegun melihat jumlah uang yang ada di depan matanya, sungguh bukan Naya seperti dulu.