I Love You Driver Handsome

I Love You Driver Handsome
Bab 35. Dan gagal lagi.



••••


Dan....


Jesyca membelalakan mata bulatnya, sekarang dia melihat jelas dada bidang milik Becker. Sempurna, seperti pangeran turun dari kayangan. Jantung Jesyca berdetak cepat dia kira akan mati di dalam kamar calon suaminya saat itu, ternyata tidak. Beckcer mendekati Jesyca yang duduk terpojok di dinding tepi ranjang, bulu kuduknya naik semua seperti melihat sosok gaib saja.


Semakin dekat, tangan Bekcer mulai meraba halus pangkalan kaki putih Jesyca. Gadis itu terlihat ketakutan, tetapi tidak dapat menolak sentuhan lembut tangan Becker. Pelan - pelan tangan pria tampan itu menjulur ke bagian pangkal paha, membuat Jesyca semakin menjadi.


Gejolak hati Becker menggelora menginginkan de**pan lembut dari Jesyca.


"Sayang, jangan sekarang." tolak Jesyca menyahut tangan Becker yang akan menuju sel**ng.


"Kamu cantik Jesy, aku cinta mati sama kamu." ucap Becker dengan suara parau menahan salivanya.


"Aku juga sayang kamu, tapi sorry aku ngak bisa ngasih yang kamu mau sayang." ketus Jesyca.


"Jadi, kamu nolak? bukannya udah janji mau ngasih kalau kita udah tunangan." Becker mencoba mengingatkan janji Jesyca beberapa hari yang lalu.


"Oh, ya? heh, sebenarnya apakah cinta itu kayak gini. Aku emang masih tabu, tapi ngak se tokai itu." ujar Jesyca ia melipatkan kedua tangannya ke dada.


"Cinta itu kasih sayang, saling berbagi. Dan bukanya kamu udah janji?" desak Becker nafasnya sudah memburu.


Aliran darah di tubuh Becker semakin memanas, mendengar ucapan ketus dari mulut sang kekasih tunangannya.


"Berbagi?" kelit Jesyca menautkan kedua alisnya.


"Hmmm," Becker mengaggukan kepala.


"Jujur, aku deg deg an. Si***lan, kamu ternyata otak mes*m." kata Jesyca terkekeh begitu saja mengejek tunangannya.


"Rese, dasar calon istri jahara." sahut Becker.


Pria itu menyambar tubuh Jesyca, lalu memeluknya, begitu juga Jesyca membalas pelukan Becker.


"Sialan, gue kena jebakan betmen hahaha...." gelak tawa Jesyca penuh bahagia.


"Sayang, janji itu adalah hutang. Dan kamu harus bayar sekarang," ucap Becker lembut di telinga Jesyca.


"Aku malu tau, besok aja kalau udah resmi nikah ya aku penuhin janjiku." ucap Jesyca jujur begitu polos.


Becker melepas pelukanya, ia menatap wajah Jesyca.


"Kamu, jangan main - main dong. Awas kalau ngak, aku per**sa kamu lho sayang hehehe...." kekeh Becker.


"Iyaaa, ihh gila ya kamu emang. Udah pakek lagi jasnya, malu kalau ada orang kesini dikira kita ngapa - mgapain." tandas Jesyca.


Akhirnya, Becker kalah gairahnya yang sudah memuncak kembali luntur seketika, karena Jesyca menolak ajakannya. Dalam hati,


"Apa mungkin dia mempunyai rasa dengan orang lain," ujar Becker dalam hati.


"Napa. Kok malah ngelamun sih?" tanya Jesyca ia membantu merapihkan jas yang di gunakan oleh Becker.


"Kamu ada cowok lain?"


"Ya enggak lah, cuma kamu. Kecewa aku ngak ngasih itu."


"Jelas, apa kamu sebenarnya udah ngak...."


"No, I'm still virgin!" dengus Jesyca menguatkan dasi di leher Bekcer.


"Aaauuukkk, sayang! kira - kira dong, belum nikah mau bun**h aku ya." Becker kesakitan menahan lehernya yang di cekik Jesyca dengan dasi.


"Uuppsss, ngak sengaja hehehe...."


"Nanti, aku bakalan kasih. Tapi, jangan di rumahmu dong malu sama mommy daddy." kata Jesyca merangkul leher pria tunangannya.


"Ya ampun, bilang gitu aja belok - belok. Sekarang juga aku pesen kamar hotel nih,"


Jesyca berlajan keluar ruang, ia turun di tangga menuju lantai bawah. Di bawah sana sudah sedikit sepi, banyak tamu yang pulang tinggal beberapa teman sepak bola Bekcer. Kedua orangtua Jesycapun sudah tidak lagi nampak batang hidungnya, karena acara sudah selesai. Jesyca pergi menghampiri mommy dan daddy Becker yang tengah duduk di tempat bekas pesta tadi.


"Ee, mommy, dad, apa papa sama mama Famala udah pulang?" tanya Jesyca.


"Aduh, anak mantu mommy. Ya udah dari tadi, kok kamu malah turun sih, ngak nemenin Bekcer?"


"Mmmm eeehhh, anu...."


"Hmmm, kayaknya nih mom, Jesyca masih malu - malu kucing." alih tuan Henderson.


"Hehehe...." kekeh Jesyca.


"Boleh pulangkan, dad?"


"Ini juga rumah kamu, ngak usah balik lagi keatas. Please!" pinta tuan Henderson pada Jesyca.


"Ampun, ini aki - aki. Masak gue di paksa tidur sama anaknya, huh...." batin Jesyca kesal.


"Iya, sayang. Kamu balik lagi ke atas, papa mamamu udah bilang tadi kalau kamu suruh tinggal disini sebelum pernikahan kalian."


"Hah! terus kuliah Jesyca gimana mom?"


" Nanti, kamu akan kuliah di luar negri."


"Mampus, sekamar sama Becker." batin Jesyca seraya kembali berjalan lagi ke arah kamar Becker.


Tampak seorang pelayan setengah baya mengamati semua gerakan Jesyca. Dia adalah Lanni, bekas istri siri papa Wisanggeni sebelum adanya Jesyca lahir kedunia. Wanita itu melihat sengit Jesyca, bahkan ia mempunyai rencana keji untuk membalaskan rasa sakitanya pada Famala mama Jesyca yang telah merenggut kebahagiannya menurut Lanni.


"Andai saja, kau hidup menderita seperti aku. Tunanganmu bukanlah tuan muda Becker." ucapnya dalam hati.


"Ngapain sih itu, pembongkat ngliatin gue?" ujar Jesyca sendiri, ketika berjalan akan mendekati Becker dan kawan - kawanya.


Malah Jesyca menghampiri sang asisten rumah tangga di rumah daddy Hendersonya itu.


"Eh, bibi ngapain jam segini belum istirahat?" sapa Jesyca pada perempuan setangah baya itu.


"Oh, non. Mau minum ya, biar bibi buatin."


"No, kenapa bibi ngliatin aneh gitu sih sama Jesyca dari tadi, aku ngerasa lho."


"Oh, anu non. Mirip sama itu artis yang ada di tipi," alih Lanni.


"Gitu ya," sahut Jesyca.


Lalu pergi meninggalkan Lanni yang masih mematung di tengah pintu masuk dapur, sedangka Jesyca pergi mendekati Becker yang sedang asyik bersendau gurau dengan teman pemain sepak bola.


"Lihat saja, kau juga akan menderita seperti kami Jes!" hardik batin Lanni kesal tak menentu menatap calon istri tuan mudanya penuh kebencian.


Lalu wanita setengah baya itu pergi melanjutkan aktivitasnya lagi, seorang pelayan rumah yang tengah  membereskan alat -alat bekas pesta tunangan tadi menyapa Lanni.


"Mpok Lan, anak lu kemana sih. Bukanya kerja malah keluyuran," cetus Mini wanita muda, dia ketua pelayan di rumah Mr. Henderson.


"Anu, itu tadi...."


"Udah deh, jangan ngarang cerita basi tau. Mini tahu kalau anak mpok  yang sok kaya and ke gantengan itu lagi pesta nar*ba kan!" ujar Mini menebak asal.


Lanni membelalakan mata, dia setengah terkejut mendengar ucapan dari mulut Mini.


"Apa? kamu kalau ngomong jangan asal ya sialan!" bentak Lanni gemetaran, fikirannya jadi runyam.


"Lha, bukannya si  Revanno itu pengguna itu," kata  Mini seperti dirinya tahu saja.


Mini tersenyum miring, dia pergi berjalan menjauh dari Lanni.