
"Apa pacar?" sontak Naya membelalakan mata.
"Iya, kalian pacaran ya selama ini. Tapi Revano baru bilang semalam." ungkap bu Lanni.
"Emang udah satu bulankan sayang, kita jalan." tukas Revano seraya mengedipkan matanya.
"Oh, i-iya bu." jawab Naya terbata.
"Aaaa sialan! tapi ngak apa - apa sih, lumayan ganteng juga." batin Naya.
"Sebulan kok, ngak sering main ke sini. Kerja atau kuliah nak disini?" tanya bu Lanni kemudian.
"Kerja aja kok bu," ucap Naya pendek, ia tidak mau cerita yang sebenarnya.
Mereka bertiga duduk di meja makan, menyantap menu buatan ibu Lanni. Naya memuji jika masakan beliau sangat sedap sekali, bu Lanni berharap Naya akan pandai masak suatu saat nanti.
"Nanti, kalau kalian udah menikah. Naya harus pandai memasak untuk suami dan anak - anakmu ya neng," ujar bu Lanni memberi nasihat Naya.
"Itu harus, karena calon mertuanya ibu." cetus Revano terkekeh kecil.
Naya yang duduk di hadapan pria itu, membelalakan mata memberi tanda agar Revano segera jujur.
"Hmmm, makanya jangan kelamaan pacaran. Cepet lamar Naya. Maukan neng Naya?" dehem bu Lanni, menekan Naya.
"Eeemmmm, saya...."
Revano menyela ucapan Naya barusan.
"Tenang bu, secepatnya akan Revano lamar kok Naya."ucap Revano.
" Kamu bersediakan Naya," sahut bu Lanni.
"Anu, mmm....."
"Bersedia, iyakan sayang?" kelit Revano mengedipkan mata sebelah pada Naya.
"Bagus, lusa kita akan mendatangi orangtuamu nak Naya." ujar bu Lanni kembali.
"Orangtua saya, di Indonesia. Maaf sebelumnya saya belum siap untuk berumah tangga dan kami hanya berteman baik sebagai patner kerja, sekali lagi maaf bu jika saya lancang. Permisi!" kata Naya berucap jujur.
Lanni tercengang, Revano terlihat panik, sedangkan Naya berdiri kemudian berlalu dari hadapan mereka berdua.
"Kamu bohong dengan ibu, Revano!" ucap Lanni matanya menatap sang putra tajam.
"Revano! otakmu memang sama dengan ayah biologismu," batin Lanni dalam diam.
Revano yang kalut ia mengejar Naya keluar rumah, dengan langkah cepat Revano dapat menangkap tangan Naya.
"Tunggu Nay, biar aku jelasin!" ucap Revano menyetop Naya dengan memegangi tangan Naya.
"Perlu!" bentak Naya.
"Nyokab gue, ngebet pengen cepet punya mantu Nay. Dan cewe yang gue kenal di sini cuma loe," ungkap Revano di belakang punggung Naya.
"Udah, ngak usah gombal! loe lebih lama tinggal disini, jadi lebih banyak pengalaman tentang lawan jenis." sahut Naya.
Gadis itupun berjalan menuju tempat mobil parkir Linda tadi, masih ada kuda besi yang ia tumpangi bersama dengan sahabatnya. Naya memasuki mobil tersebut.
"Cepet! jalan Lin," perintah Naya, wajahnya tampak tak bersemangat.
"Oke," jawab Linda singkat, ia melajukan mobilnya.
Revano tidak tinggal diam, diapun mengejar mobil yang di tumpangi Naya. Sepanjang peejalan Linda menekan gas kencang, hingga kecepatannya terlampaui. Beruntung jalanan di negara itu longgar dan besar tidak macet sesak sepeti kota yang sebelumnya mereka huni.
Tampak dari kejauhan mobil yang dikemudikan oleh Revano memdekat, Revano lebih lincah menyertir dibanding Linda, walaupun baru dua tahun dia latihan karena dia dilatih seorang pembalap mobil provesional maka ilmunya menurun kepada Revano.
Mobil Revano membelok ke kanan, menghalangi laju mobil milik Linda.
"Sialan tuh berandal, maunya apa coba!" geram Naya.
"Slow, mungkin dia ngak berniat jahat sama kita Nay, " imbuh Linda.
Revano nampak keluar dari mobil bugatti veyron hitam mengkilap miliknya, pria itu berjalan ke arah sedan bmw yang di kendarai Linda.
"Mau loe apa sih?" berondong Linda langsung saja pada Revano ketika dia sudah berdiri di depannya.
"Lin, tenang gue ngak sejahat dan sekejam yang loe kira," ucap Revano serius.
"Yakin loe! bukanya bekas ba*ingan bisa mengulang kejahatan lamapunya?" kerlit Linda.
"It's oke, gue emang mantan gond*s! tapi apa salahnya kalau gue jatuh cinta sama temen loe Naya!" bentak Revano.
Naya keluar dari dalam mobil.
"Hah! loe cinta sama gue? palsu! itu cuma akal - akalan loe buat ngibulin nyokab loe dan ngerjain gue!" sergah Naya seraya bercagak pinggang.
"Tapi gue serius! gue berani sumpah! Naya please, gue mohon percaya sama gue, kalaupun loe ngak mau nerima cinta ini terserah loe," racau Revano namun tegas, dia bertekuk lutut di depan Naya.
Linda yang melihat kejadian itu hanya diam menyaksikan saja, karena itu adalah urusan mereka berdua jadi Linda tidak akan turut campur.
"Gue sayang sama loe Naya." lirih Revano, pria itu masih berlutut di hadapan Naya.
"Terserah! minggir!"usir Naya.
Gadis itu masuk kembali kedalam mobil.
" Rev, tolong minggir dong. Gue ngak mau masuk ke penjara gara - gara nabrak orang," pinta Linda, agar pria yang bertekuk lutut dibhadapannya itu segera berlalu.
Namun Revano menampik usiran Naya dan Linda.
"Enggak, gue ngak akan pergi. Sebelum Naya jawab 'iya atau ngak' itu yang gue harapkan sekarang juga. " jelas Revano.
"Oke, kita akan putar balik!" tandas Linda lalu masuk ke dalam mobil.
Linda mundur dan meluncur melalui belakang mobil Revano, pria itu langsung masuk dan mengejar kembali mobil yang di kendarai oleh Linda.
Hanya beberapa menit mereka sampai di pelataran apartementnya. Beruntung sekali karena orang yang tidak menghuni apart, tersebut tidak di izinkan masuk kecuali mempunyai kartu tanda penduduk di block appartement itu.
Linda langsung memarkirkan mobilnya dan mereka keluar dari parkir area itu.
"Naya, kayaknya Revano tadi itu serius. Gue lihat dari mimik wajahnya." ujar Linda saat berjalan melewati area parkir mobil.
"Gue ngak yakin, ternyata dia cerita sama nyokabnya kalau gue adalah ceweknya. Gila ngak!" lugas Naya.
"Ya itu mungkin kejutan aja buat loe," sahut Linda.
Selang beberapa menit, telfon yang ada di dalam tas Naya berdering nyaring. Tangan Naya mencari sumber suara dari handphone.
Dari layar tertulis nama Repanol sedang menelfonya. Kemudian Naya menutupnya.
"Hih, ngapain coba hubungin gue terus," keluh Naya.
"Loe temuin Nay," perintah Linda.
"Ngak sudi!" tukas Naya, kemudian berjalan cepat menuju lift dan menekan pintunya lalu masuk ke dalam lift tersebut.
Di ikuti Linda, dia berdiri di samping Naya. Sesampainya di tingakat lima belas mereka keluar dari dalam lift.
Handphone Naya berbunyi lagi, kali ini sudah panggilan ke lima kali dari Revano.
"Woi! angkat Naya, disini ngak boleh brisik!" hardik Linda kesal melihat tingkah sahabatnya itu.
Naya yang merasa tersentuh hatinya, karena bentakan Linda tadi terpaksa ia mengangkat telfon dari Revano.
"Mau loe apa!" ketus Naya di dalam telfon.
"Naya, gue serius sama loe! please turun gue ada di samping security gued." jelas Revano di dalam telfon.
"Sorry, antara kita hanya teman biasa. Tidak lebih," pungkas Naya menutup telfonya.
Ia langsung masuk kedalam ruang rumah dan kekamar mengunci pintu.
"Gue sebenernya sayang sama loe! tapi gue udah milik orang lain!" pekiknya di kamar sendiri menangis tiada henti.