
Handfone yang berada di saku celana Becker berbunyi cukup keras, buru - buru tangannya meraih benda berbentuk kotak panjang tipis itu. Tertera di layar handphone om wisang,
"hallo om," sapa Becker mengawali pembicaran dalam telfon.
"Jesyca curiga sama kamu, katanya tadi dia ketemu kamu di mall." ujar tuan Wisang.
"astaga. Tapi aku bilang kalau salah orang kok om, apa Jesyca masih curiga?" tanya Becker kebinggungan.
"jelas, jelas banget dia naruh curiga. Karena ciri - cirinya mirip sama kamu, katanya." imbuh tuan Wisang dalam sambungan telfon.
"jadi gimana om kalau aku, lebih baik ngaku aja." ucap Becker mengusulkan ide itu.
"Jangan, sampai anak gadisku berubah sifat angkuhnya baru kamu boleh mengakui semua." papar tuan Wisang.
"baik om, saya cuma tidak enak saja. Kalau nanti setelah Jesyca tau semua akan semakin parah tingkahnya." kata Becker, masih dalam sambungan telfon.
"Tidak, om kira kamu bisa mengatasi keangkuhan Jesyca." ucap tuan Wisang.
"semoga rencana kita berhasil om." tambah Becker, ia tersenyum bahagia. Berharap lebih tentang Jesyca.
"Om harap juga demikian. Udah dulu takut mamanya Jesyca denger, bisa jadi kacau nanti." pungkas tuan Wisang mengakhiri percakapan.
"baik om, selamat sore. Terimakasih sudah percaya sama Becker," kata Becker pun mengakhiri telfon itu.
Becker tersenyum tipis, dalam hatinya sangat berbunga. Walaupun dia dijodohkan oleh orang tuanya dengan Jesyca, yang sebenarnya adalah gadis cantik, sexy, dan sedikit baik. Membuat senyum pada hari - hari Becker, walaupun pria itu tak mengetahui kalau Jesyca menyukainya atau tidak.
Masih duduk di kursi VIP, dalam cinema dimana mall yang sebelumnya bertemu dengan Jesyca beberapa jam yang lalu, terlihat Tania baru dari dalam toilet dan gadis itu duduk di samping Becker. Ia tersenyum pada Becker, rasa dihati gadis itu sangat bahagia karena duduk bersampingan dengan pria yang di dambanya selama ini. Sudah lama Tania ingin berduan dengan Becker sepeti sekarang ini, namun baru terlaksana sekarang. Karena sejak lulus SMA Tania kuliah ke luar negeri dan bekerja menetap disana, baru - baru ini dia pulang hanya untuk menui Becker.
"Becker. Aku mau popcrown yang ini," Tania meminta berondong jagung, yang di pegang oleh pria tampan itu.
"nih," Becker menyorokan gelas kertas berisi berondong jagung.
"iihh, bukan. Maksudku tolong kamu suapin dong," pinta Tania manja dan genit.
"ck, makan sendiri lah! suruh nyuapin emang kamu sakit." tukas Becker memalingkan pandangannya kedepan.
"kamu nggak asyik sih sekarang." ucap Tania bibirnya maju kedepan, tangannya bersedekap ke dada.
"Biasa aja," imbuh Becker tak menoleh kearah Tania duduk.
Film layar lebar di dalam cinema akhirnya berakhir. Semua penonton, keluar dengan tertip, begitu juga Tania dan Becker mereka berjalan beriringan. Gadis itu menggandeng lengan Becker begitu saja, tampak seperti pasangan kekasih. Tetapi Becker melepas kasar tangan Tania, membuat gadis cantik itu marah dan disaksikan oleh beberapa pasang mata.
"Kamu keganjenan, selama di Germany ga ada cowok deketin ya." ujar Becker pada gadis yang berdiri di sampingnya.
"Ngerti ngak! aku sayang kamu Bryan Alison Becker." bentak Tania,
Sehingga orang yang berada di sekeliling mereka melihat kearahnya, serta seorang wartawan merekam kejadian itu.
"apa? sorry aku dari dulu anggep kamu sahabatku. Udah jangan buat story deh, orang pada liatin kita. " ucap Beker seketika.
Tania bagai disambar petir disiang bolong, cinta yang ia perjuangkan selama ini bertepuk sebelah tangan. Gadis cantik itu pergi meninggalkan Becker sendiri, pria berpendirian teguh itu tidak sudi mengejar Tania. Entah apa yang ada di benak Becker, dia malah jadi tak menyukai sikap Tania demikian.
••••
Kamar mewah berukuran tujuh kali tujuh meterpersegi milik anak dara nyonya Famala, malam ini di tempati penghuninya. Jesyca baru saja tidak enak badan, gadis itu merebahkan tubuhnya di ranjangnya. Nyonya Famala memijit pundak Jesyca, merayu anaknya agar mau di panggilkan dokter pribadi keluarga itu.
"badanmu panas semua, kok tiba - tiba jadi gini sih nak?" selidik nyonya famala.
"nggak apa - apa kok ma, paling cuma kedinginan. Mama pergi bobok ya, Jesyca mau istirahat dulu." ucap Jesyca.
"Oke, tapi kamu minum obat dulu. Baru mama pergi tidur." pinta nyonya Famala pada anak gadisnya.
"iya, Jesyca minum," Jesyca menuruti permintaan mamanya, dia meneguk obat serta setengah gelas air putih.
"Anak pinter, mama pergi tidur ya nak kamu bobok. Kalau ada apa - apa cepet panggil bi Inah atau Surti." ujar nyonya Famala.
"iya mama," jawab Jesyca singkat.
Nyonya Famala keluar dari kamar Jesyca, sedangkan Jesyca menyelimuti tubuhnya dengan selimut lembut favoritnya. Lampu tidur ia nyalakan, tetapi tangan gadis itu meraih bingkai foto. Di dalam bingkai itu, nampak gambar Geo alias Becker. Dia tersenyum kecil melihat foto pengemudi pribadinya, fikirnya mirip pria yang ia jumpai di Mall tadi siang dan pesepak bola saat Geo tak mau menjemputnya.
Jesyca, mengelus foto Geo dia menciumi dengan lembut. Dalam benaknya Geolah yang membuat dunia Jesyca berwarna selama ini,
"apa dia sama, seperti yang aku rasain?" tanyanya sendiri.
"gue mikir apa sih! anjai, masak gue suka sama si dekil itu. Kalau Becker beneran sih ngak apa - apa, gila jadi berubah seketika gue." desis Jesyca sendiri di tangah kesunyian malam.
" badan kok rasanya pegel semua, lemes habis ngerti cowok yang mirip si culun gandengan sama jan**y." lirihnya sendiri.
Gadis itu tidak dapat tidur, fikirannya tergiang - ngiang wajah tampan Geo. Dia tidak bisa menyangkal kalau sedang jatuh cinta dengan supir pribadinya. Bagaimana tidak cinta bisa datang kapan saja, tetapi Geo bukan tipe Jesyca. Geo terlihat rendah di mata gadis cantik berego tinggi itu. Kadang Jesyca benci dengan dirinya sendiri terkadang tidak, ketika Geo libur kerja Jesyca sangat kesepian ingin rasanya dia mencari dimana Geo berada.
Jam sudah menujukan pukul 11.40 pm namun tubuh Jesyca masih terasa dingin menggigil. Selimut yang ia gunakan di tambah lagi, sampai dua lapis. Namun rasanya belum dapat menghilangkan rasa dingin yang menyerang tubuhnya. Tangan Jesyca menekan tombol telfon rumah dan menyambungkan ke asisten rumah tangganya, sesaat kemudian Inem membawakan minuman jahe merah hangat untuk majikanya. Jesyca segera minum jahe buatan bi Inem, akhirnya tubuhnya dapat mengeluarkan sedikit keringat. Tetapi rasa pening di kepala Jesyca masih saja bertahan, bi Inem menyarankan agar Jesyca di bawa kerumah sakit saja. Karena demamnya parah walaupun sudah mengeluarkan keringat.