I Love You Driver Handsome

I Love You Driver Handsome
Bab. 14 Makan bakso



Sudah pulang dari rumahsakit, Jesyca dinyatakan oleh dokter sembuh. Sekarang dia tengah duduk merenung seorang diri di tepi kolam renang belakang rumah mewahnya, dalam fikirannya wajah Geo alias Becker menari - nari disana, tersenyum manis, mengajak Jesyca terbang melayang keangkasa. Sudut bibir Jesyca mengembang membayangkan hal indah bersama Geo, sedangkan tangan yang menggenggam hanphone layar datar itu jemarinya mengusap layar, mencari nomor kontak Geo dia akan mencari cara agar malam itu berjumpa dengan pria tampan. Atau mungkin paling tampan di kota metropolitan itu, nomor yang di tuju di sebrang sana terangkat.


"iya, hallo Jes, ada apa? udah sehat? " tanya Geo dalam percakapan telfon.


"udah, loe ngak ngawatirin guekan? ngak mau jenguk gue gitu, terus beliin gue bakso yang loe suka." ujar Jesyca lembut tanpa sadar.


"hah! iiiya.... kawatir dong. Sama majikan, masak ngak kawatir. Kamu mau bakso yakin?" kata Geo di sebrang sana, dia agak gugup jantungnya berdetak tak menentu. Sudut bibirnya mengbang senyum bahagia.


"hmmm, beliin ya. Sekarang, aku tunggu." pungkas Jesyca seraya mematikan panggilan telfon.


"ya ampun, ternyata dia ngak mikirin aku. Kedengarannya gugup gitu." keluh Jesyca dalam hati.


Sementara Bryan Alison Becker. Sedang bersiap - siap pergi kerumah Jesyca, tetapi dia lupa akan status samarannya sebagai supir pribadi Jesyca. Geo membawa mobil sedan Rolls Royce dengan santai dia keluar dari halaman parkir rumahnya yang cukup besar.


Di dalam mobil Becker bersiul gembira, seraya medengarkan lagu yang ia putar di dalam mobil mewahnya. Until I found you menjadi soundtrack Becker didalam hatinya, dia menirukan suara penyanyi berkebangsaan Amerika Serikat.


Sebelum ke rumah Jesyca dia belok kiri dulu, turun untuk membeli bakso pesanan Jesyca. Didalam warung sederhana itu, Becker di perhatikan oleh banyak orang pelanggan di warung tersebut. Karena wajah dia familliar, seseorang perempuan fansnya memberanikan diri untuk berfoto dengannya, Beckerpun menuruti ajakan fans perempuan itu. Mamang tukang bakso juga tak mau kalah, dia juga ingin berfoto dengan Becker.


"abang, yang pemain bola ntu kan?" tanya mang Asep pada Becker, saat menunggu pesanan bakso.


"oh, iya benar itu saya." jawab Becker jujur.


"mau foto juga, boleh ya." pinta mang Asep.


"boleh, sini kang." Becker mempersilahkannya.


Lalu mereka foto bersama, senang rasanya mang Asep berfoto dengan idolanya.


"Makasih, udah di bolehin poto, ini baksonya. Kagak usah bayar, saya seneng ada atlet terkenal jajan dimari." ujar mang Asep seraya menyerahkan dua bungkus bakso didalam kantong plastik hitam.


"Jangan gitu kang, ini businees. " tolak Becker menyerahkan uang lima puluhan ke tangan mang Asep bakso.


"Aye beneran ini. " kata Mang asep mendorong tangan Becker agar tidak menyerahkan uang itu.


"saya ikhlas mang, tolong terima ini. Jangan nolak rezeki," kata Becker memaksa memberikan uang itu.


"yaya, udah deh. Aye terime, terimakasih bang Bryan Alison Becker." ucap mang Asep.


"Sama - sama, panggil saja Becker. Saya permisi dulu," pungkasnya kemudian melambaikan tangan pada semua pelanggan dan berlalu.


••••


Bi Surti membukakan gerbang, sebuah mobil sedan hitam rolls royce memasuki halaman rumah majikannya. Wanita itu setengah ternganga, dia bertanya dalam hati sebenarnya siapakah yang membawa mobil sekeren itu? teman nona mudanya kah? atau calon besan sang juragan Wisanggeni.


"astogel, maneh mobil teh cakep pisan." ujar Surti seraya mendekati mobil itu dan mengelusnya.


Dia terkejut, matanya membulat, bibir Surti terbuka lebar seperti gua. Ternyata yang keluar adalah Geo supir pribadi Jesyca. Surti tidak mencurigai dengan gaya Geo, dia hanya menggangguk saat Geo menyapanya dan Surtipun terpana.


Di dalam rumah. Tuan Wisang sedang asyik membaca surat kabar beliau melihat kedatangan Geo memasuki ruangan tersebut dengan membawa kantong plastik hitam.


"Sstt.... Becker! ngapain kamu malam - malam kesini? itu apaan sih?" selidik tuan Wisang.


"Jesyca yang nyuruh aku kesini om, dia pengen makan bakso." bisik Becker pada tuan Wisang.


"Ya udah, sana cepet. Kalau mamanya tahu bisa ketahuan identitas aslimu,"


"ngak om, tenang aja. Aku bisa jaga - jaga kok, " ucapnya.


"oke, pergi temuin Jesyca langsung pulang." cetus tuan Wisang.


Becker hanya mengangguk faham akan hal tersebut. Sesampainya di belakang rumah, tepatnya tepi kolam Becker menjumpai Jesyca yang duduk di kursi samping kolam renang.


"Jes, ini pesananmu." ucap Geo seraya menyerahkan kantong plastik hitam.


"Tapi Jes, papamu suruh aku cepat pulang." ujar Geo pada Jesyca.


"Lagian, kamu malam - malam di luar pinggir kolam kayak gini. Nanti masukangin, gi masuk sana." sambung Geo memerintah Jesyca.


"males, gue udah sembuh. Papa ngak usah gibris! sekarang aku mau makan sama kamu titik. " sergah Jesyca memaksa Geo untuk tetap di dekatnya.


Pria itu menuruti ucapan Jesyca, diapun duduk di kursi dekatnya. Mereka saling menyembunyikan senyum penuh arti, dalam hati Jesyca bersorak kegirangan.


Namun di dekat jendela dapur, terlihat Surti dan Inah sedang melihat keakraban dua pemuda dan pemudi itu. Surti tampak geram tangannya di cabikan ke dinding sementara, Inah ******* - ***** rok seragam yang digunakannya.


"rese! saingan kita berat buat dapetin Geo. " rintih Inah begitu kesal melihat dua pemuda dan pemudi itu.


"Ternyata, saingan kite non Jesyca." ucap Surti menangis tetapi takengeluarkan air mata.


Dari tepi kolam renang, Jesyca memanggil Inah untuk mengambilkan mangkok intuknya.


"Inah! sini loe pembongkat." teriak Jesyca nyaring.


Bi Inah yang di panggil segera menemui sang juragannya, dengan berlarian bibi itu mendekati Jesyca yang duduk dengan Geo.


"Iya non, " jawab Inah, matanya seraya melirik kearah Geo.


"sini?" ujar Jesyca.


"Ada apa non panggil saya." jawab Inah sopan.


"tolong ambilin makok kosong!" perintah Jesyca.


Bi Inah segera melagkah meninggalkan mereka berdua untuk memgambil mangkuk sub.


Di dalam dapur bi Inah mengomel sendiri, Surti mendekatinya.


"ngapain sih, itu mas Geokan?" Surti sangat antusias.


"iya, Geo cowok tertampan supri non Jesyca gila itu." sahut Inah kesal.


"husss.... kalau denger bisa dut kamu." dalih Surti. Seraya mengibaskan tangan keleher.


Inah buat masa bodoh, dia mengantar mangkuk sup kosong dan dua gelas air putih di atas nampan.


"makasih bi, Inah." ucap Geo ramah.


"sama - sama, atu mas." jawab bi Inah.


"Udah, sana minggat dari sini. Bengek gue liat loe babu!" gertak Jesyca mengusir sang abdi di rumahnya.


Bi Inah segera pergi menjauh dari mereka, takut jika Jesyca memarahinya.


"Jes, kamu bisa ngak sih sopan sama yang lebih tua." tukas Geo.


"Sopan?" kelit Jesyca.


"iya, sama bi Inah, bi Surti dan pembantu yang lain kaya mamang Ucup." jelas Geo.


"ngapain, mereka cuma babu. Buat apa di sopanin." tukas Jesyca dia mulai menyantap bakso.


"Walaupun mereka pembantumu, dan orang kecil kamu enggak boleh semena - mena, kita ngak tahu kalau suatu saat jatuh miskin Jes." ucap Geo bin Becker memberi nasihat untuk Jesyca.


"mmmm, enak baksonya, makan dong. Nggak usah mikirin mereka." ujar Jesyca.