
Di sebuah ruang keluarga yang cukup mewah bernuansa klasik Wisang dan Famala sedang membicarakan tentang putri sematawayangnya. Mereka berencana akan menguliahkan Jesyca ke luar negri agar lebih mandiri dan disiplin, namun Famala menolak keras permintaan sang suami dia lebih memilih jika Jesyca secepatnya akan dinikahkan dengan putra sahabatnya Ratih.
"Menurut papa, Jesyca tingkah lakunya sudah diambang batas. Bicaranya ngelantur, lebih baik kita pindahkan kuliahnya saja ke Belanda biar dia mandiri dan merubah sikap." tegas tuan Wisang.
"jangan dong pa, kalau kita jodohin sama anak temen mama si Ratih itu gimana? anaknya Ratih mungkin bisa mengendalikan watak Jesyca." pendapat Famala.
Sembari menikmati teh hangat buatan bi Inah sang pembantu rumah tangga.
"Ratih, yang mana sih ma?" tanya tuan Wisang.
"Temen kuliah mama pa," ucap Famala.
"oh"
"Gimana, papa setujukan kalau Jesyca kita jodohin aja. Anaknya Ratih pemain sepak bola nasional lho, dia juga udah punya bisnis properti di Singapure." papa Famala dengan suara mendayu genit khasnya.
"Hah! itu kayaknya Becker, iya ngak sih." batin Wisang setengah curiga.
"mmmm Ratih, suaminya siapa ma?" tanya Wisang.
"Mr.Henderson, suaminya bule pah ganteng banget ah. Tapi, masih ganteng papa kok," kata Famala mendayu - dayu seperti mendesah suaranya.
"Astaga, mama itukan Henderson yang bule emang temen bisnis papa." sahut Wisang.
"nah, tunggu apa lagi kuliah Jesyca tinggal dua semester lho pa, mending kita tunangin aja dia." bujuk Famala semangat.
"no ma, awalnya papa memang mau menjodohkan Jesyca dengan si Becker. Tapi ma, lebih baik papa batalin aja biar Jesyca pergi kuliah ke Belanda." tukas Wisang bersikukuh kuat.
"papa, apa ngak pengen punya cucu sih." Famala mendengus kesal karena suaminya tak sepemikiran dengannya.
"Awalnya emang kami, mau jodohin Jesyca dan Becker. Papa takut kalau Becker tidak bisa mengendalikan Jesyca makanya papa akan mengembalikan permintaan Henderson." kata Wisang.
"ck, papa ah. Ngak sepemikiran sama mama, maunya Jesyca suruh kuliah aja sampe tua. Emang mau jadi pejabat apa! paling nerusin bisnis papakan." kelit Famala kesal.
"terserahlah, pokoknya Jeyca anak kita harus sekolah setinggi - tingginya." alih Wisang seraya menyeruput teh hangat di cangkir keramik cantik.
Karena Wisang berharap Jesyca menjadi anak terbaik, maka dia memutuskan untuk membatalkan perjodohan antara Becker alias Geo dan Jesyca Anggeline. Wisang fikir, setelah Becker menayamar menjadi pengemudi pribadi sang putrinya bisa berubah perilaku buruknya selama ini, karena Wisang dan sang istri Famala sudah angkat tangan.
••••
Saat sedang duduk di tepi kolam renang siang itu bi Surti memanggil Jesyca yang terlihat merenung seorang diri.
"Non, di cariin dua gadis bahenol." suara Surti membuat Jesyca terkejut.
"Eh, loe Surti siapa yang cari gue?" tanya Jesyca ingin tahu.
"Itu," tunjuk Surti pada dua gadis muda teman akrab Jesyca.
"Linda, ama lo**e ngapain dia kemari." tanyanya sadis.
"husss, jangan gitu non. Kalau kebalik gimana coba," timpal Surti.
"husss! minggat loe, bikinin mereka minuman. Dan yang satunya itu loe kasih air empang juga ngak apa - apa." tandas Jesyca.
Surti hanya mengelus dada dan berlalu dari hadapan Jesyca, dua orang sahabatnya Naya dan Linda datang menghampirinya.
"Jes, gue kesini mau minta maaf dan ngasih tau sesuatu sama loe." sela Naya seketika.
"ngasih tau apa?" sungut Jesyca pada Naya.
"Ini," ucap Naya menyerahkan handphone berisi video
Jesyca menerima handphone dari tangan Naya, dia melihat video di layar persegi panjang tipis itu. Matanya membulat, dia terkejut rasanya ingin segera membanting handphone Naya namun masih ingat kalau itu membuat Jesyca rugi.
"Yakin ini, loe dapat dimana,kenapa dengan bokap gue, kenapa mereka ngak jujur aja?" tanya Jesyca berulang - ulang.
Air mata Jesyca mulai tertumpah Naya dan Linda memeluknya, ternyata dia melihat video papa Wisang dan Geo sedang berunding tentang pembatalan pertunangannya, juga Geo adalah driver samaran atas perintah papanya dan Geo bukan nama sebenarnya. Dia ialah Bryan Alison Becker, pemain timnas sepak bola negara merah putih.
"jadi, semua ini palsu? kenapa harus di batalin. Gue udah cinta sama Geo. Gue ngak peduli siapapun dia, tapi kenapa harus nyamar jadi driver gue." kata Jesyca menangis tersiak.
"sabar Jes, cowok ngak cuma Becker aja. Loe cantik banyak kok di luar sana yang mau loe," ucap Linda lembut membelai rambut sahabatnya.
"Maaf Jes, bukan maksudku buat kamu syok atau menangis." sahut Naya.
"gue juga Nay, udah sering ngatain loe kasar. Maukan maafin gue,"
Tiga serangkai itupun berpelukan mesra, setelah Jesyca terkejut melihat semua isi percakapan di video Naya dia meminta maaf dengan Naya.
"maafin gue Nay," ucap Jesyca memeluk erat Naya.
"Iya Jes, maafin gue juga." sahut Naya masih dengan suara serak karena tangisan.
"kita balik bareng bertiga kayak dulukan," sela Linda.
"Iya, pasti." teguh Jesyca.
Tiba - tiba bi Surti dan bi Inah datang membawa tiga gelas jus jambu segar dan camilan untuk tamu nona mudanya, dua asisten rumah tangga itu meletakan barang bawaannya ke meja samping kursi.
"silahkan non," bi Inah mempersilahkan tetamu dan nona mudanya.
"Kenapa atu, pada tangisan?" tanya Surti ingin tahu.
"non Jesyca sakit lagi?" tanya Inah pula.
"udahlah, kalian jangan kepo ini bukan urusan kalian!" ketus Jesyca pada kedua asisten rumah tangganya.
"maaf non, kita permisi dulu," pungkas Surti sudah tahu jika diusir sang majikan mudanya.
Dua asisten rumah tangga itu berlalu dari hadapan mereka, tangusan ketiganya berhenti karena Jesyca sudah tahu siapa Geo sebenarnya. Geo adalah pria yang tidak jujur menurut Jesyca, dia ingin mengetahuinya dari mulut Geo bin Becker dahulu.
"gue, mau denger dari dia sendiri. Kalau itu di video adalah dirinya dan bokap gue." tegas Jesyca.
"tapi, kenapa loe bisa sih dapat video bengek ini." selidik Jesyca pada Naya.
"Gue, sengaja ngikutin mereka. Terus, gue video in." jelas Naya memper jelas akuannya.
"Thanks Nay, ngak nyangka kalau kita bisa kumpul lagi kayak gini," 'kelit Jesyca memluk tubuh Naya.
"Udah, sekarang kalian jangan marahan lagi, ngak asyik," sahut Linda yang sedari tadi hanya diam.