
"Belum seberapa, sakitnya yang kau tuduhkan padaku!" sentak Famala naik pitam.
"M-maafkan saya Famala, saya iri liat kamu hidup enak sementara saya susah." ujar Lanni terbata gemetaran menahan tamparan dari Famala.
"Ibu, ayo kita pergi dari sini." ajak Revano.
"Iya, memang kalian harus minggat dari sini!"sahut Wisang berjalan mendekati mereka.
" Kalau perlu, sejauh mungkin dan carilah ayah kandungmu yang sesungguhnya." imbuh Wisanggeni.
Revano tidak dapat berucap lagi, amarah yang biasa dia lampiaskan kepada siapapun kini redam tak lagi menyala.
Lanni menangis tersedu, Revano langsung membawanya pergi dari hadapan mantan suami ibunya yang kaya raya itu.
Jesyca lega, pertama kali mendengar ucapan Lanni sebenarnya dia tidak yakin, namun setelah membaca dengan seksama kertas tes DNA ia akhirnya percaya jika Revano bukan saudara seayah dengannya.
• • • •
Di kediaman Henderson, Lanni dan juga putra sematawayangnya mengemas barang - barang miliknya yang akan mereka bawa pergi. Setelah selesai aktivitas berkemas barang Revano dan Lanni sang ibu melangkah ke ruang keluarga tuan Henderson, keduanya akan berpamitan.
Nyonya Ratih juga tuan Henderson tercengang setelah tahu jika dua abdinya akan pergi meninggalkan kediamannya.
"Ada apa, kenapa mau pergi, bukankah Revano sudah lulus kuliah akan bekerja di perusahaan saya." ucap Henderson bertubi.
"Maafkan kami tuan, ada hal yang harus di selesaikan di kampung kami," kata Lanni beralasan.
"Kalau begitu, pulanglah dan kembali kemari lagi. Kita udah jatuh cinta sama masakan kamu," sela Ratih.
"Sekali lagi maafkan kami bu," ulang Lanni membungkuk dan meminta maaf.
"Tolong tuan, maafkan saya karena tidak dapat bekerja untuk anda." Revano mulai ikut bersuara.
"Fikirlah kembali, mencari kerja di luar sana sangat sulit," ujar Henderson seraya menghisap cerutunya.
"Saya tahu tuan, tapi di kampung ada hal keluarga." imbuh Revano.
"Hmmmm, kalau gitu silahkan kita tidak memaksa dan ini gaji terakhir kalian." Henderson merogoh kantong saku celananya.
Beberapa lembar uang seratus dan lima puluh ribu rupiah di berikan oleh Lanni juga Revano. Keduanya menerima uang upah terakhir bekerja.!
"Terimakasih pak, " ucap Lanni pada tuan Henderson.
"Sebenarnya, saya masih menginginkan kalian di sini." ungkap Henderson jujur.
Lanni juga Revano hanya menelangkupkan kedua tangannya.
Perpisahaan antara majikan dan asisten itu sedikit haru, karena tuan Henderson sudah msnggangap mereka keluarga sendiri.
• • • •
Perjalanan pulang kampung, Revano dan Lanni hanya menggunkan kendaraan pribadi sebuah motor yang khususus untuk Revano.
Tiga jam sudah pasangan anak dan ibu itu nenaiki montor, akhirnya tiba di sebuah tempat peristirahatan pertama Lanni turun dan pergi ke toilet .
Setelah itu, mereka melanjutkan kembali ke tempat tujuan akhir. Cukup melelahkan jika hanya menunggang montor, perjalanan ke kampung Lanni banyak memakan waktu membuat tubuh senja Lanni letih.
Ketika hari sudah hampir senja, barulah tiba di tempat tujuan. Sebuah rumah tua di tengah sawah berdiri kokoh menghadap utara menyapa kedatangan Lanni juga putranya Revano. Montor yang di kenakan Revano di hentikan juga, terlihat wanita tua renta menyambut kedatangan mereka.
"Lanni, Revan sudah lama kalian tidak pulang." kata nek Sarinah.
"Maaf nek, kami banyak pekerjaan." alih Lanni.
"Iya -iya, ayo masuk hari sudah gelap," ajak sang nenek.
"Revan, dirumah lama nek tenang ya." imbuh Revano menenangkan nenek nya.
Ketiga orang itu berjalan beriringan memasuki rumah. Nenek Sarinah memerintah putri serta cucunya untuk membersihkan diri,satu jam kemudian mereka sudah terduduk di meja makan.
"Apakah, masih mencari pria itu?" imbuh Sarinah lagi.
"Maksud nenek apa?" tanya balik Revano yang tidak mengerti.
Sarinah terdiam , lalu Lanni bercerita.
"Dia sudah tahu, kalau sebenarnya Revano bukan darah dagingnya. Aku benci dengan perempuan itu ibu, kenapa dia yang harus menang." Lanni tertunduk air matanya mulai menetes.
"Ibu sudah bilang, carilah Jhony bukan Wisanggeni kamu yang salah selama ini kasihan Revano." sela Sarinah.
"Jadi, ayahku siapa kalau bukan papa si anak perempuan jal*ng itu bu," tanya Revano.
"Cucuku, Revano hati - hati kalau berbicara jangan mengaitai perempuan seenaknya." ketus nenek Sarinah menunjuk Revano.
"Biar, memang Jesyca mani*k Revan benci!" ujarnya.
"Revano diam," bisik ibunya.
"Sudah, makanlah percuma bicara dengan kalian." lanjut Sarinah.
Merekapun menikmati hidangan yang tersaji di atas meja makan, nenek Sarinah dan asistennya yang telah membuat semua makanan di atas meja itu.
••••••
Di lain tempat, Jesyca dan para teman - temannya merayakan acara perpisahan. Malam semakin larut, pesta semakin meriah di tepi pantai semua muda mudi berjoget mengiringi alunan musik keras yang berasal dari sound sistem sewaan mereka.
Ada yang membawa pasangannya ada juga yang sendiri, kebetulan Jesyca tidak membawa Becker. Pria setengah bule itu sedang ada acara pertandingan sepak bola di provinsi sebelah karena jadwal tahun ini adalah liga negara merah putih.
Tetapi Jesyca iri juga melihat kemesraan para temanya yang membawa pasangannya ke tempat pesta. Seandainya saja Becker ada di sampingnya sudah ada yang memeluknya, fikir Jesyca yang tengah melamun mabuk cinta sendiri di tengah keramaian.
"Udah, yang ngak ada jangan di fikiri." suara Riko memudarkan lamunan Jesyca.
"Eh, ngapain loe," kening Jesyca ia kerutkan.
"Duduk sini boleh dong," Riko mendaratkan bokongnya di kursi sebelah Jesyca.
"Duduk aja, tapi jangan deket - deket takut ada kuman nanti." ketus Jesyca mendelik jijik pada Riko.
"Kuman, enak aja emang gue kloslet wc hehehehe...." kekeh Riko renyah dia mencoba menggoda wanita.
"Apaan sih, mau loe!" sentak Jesyca.
Namun tak membuat semangat Riko merayu Jesyca pudar.
"Gue, sebenarnya mmmm punya niat baik sama loe. Berhubung yang gue mau sudah dapat jodoh ya kita selingkuh aja gimana," ajak Riko terkekeh bahagia.
"Apa! gila loe, ogah gue dasar cowok ngak punya harga diri," hardik Jesyca.
"Harga diri gue, hahahaha ya ada dong sepuluh ribu dollar. Mahalkan," kekeh Riko.
"Kalau gue jadi loe sih, pilih cowok lucu imut kayak sebelah loe ini babang Riko cowok terganteng se pancasila sakti," imbuhnya berbangga pada diirnya sendiri.
"Sok, ngak ada kaca ya loe! gelay gue dengernya ih, pergi sana." usir Jesyca kesal.
"Jangan gitu dong, sayang." alih Riko menggoda Jesyca tanpa menyentuhnya.
"Ih, pantesan ngak ada yang mau ama loe," ketus Jesyca seraya bercagak pinggang menghadap Riko.
"Loe, jangan kasar - kasar. Pernah dengarkan kalau cowok pemain bola itu banyak istrinya dimana - mana." Riko meyakinkan Jesyca.
"Calon laki gue ngak seperti ucapan loe barusan." sahut Jesyca.
"Yakin banget sih loe Jes, hahaha...." kekeh Riko lagi.
Jesyca bengkit dari tempat duduknya, sudah meluap air mendidih di otaknya lalu tangan Jesyca gatal dan menampar wajah Riko, semua teman - temannya melihat kejadian itu.