I Love You Driver Handsome

I Love You Driver Handsome
Bab 38.Rencana yang belum terlaksana.



Semua ahli keluarga sudah berkumpul di ruang keluarga Wisanggeni  ada juga nenek Riantini ibu dari Famala, di sebelahnya nyonya Wijaya dan tuan Jayanto kakek nenek dari papa Wisanggeni.


Mereka sedang membicarakan rencana pernikahan Jesyca dan Becker yang akan dilaksanakan minggu depan, kedua belah pihak sudah mendaftarkan diri di gereja setempat dan kantor catatan sipil.


"Nenek harap, ketika kamu sudah menikah nanti akan menjadi istri yang baik buat suamimu," kata nenek Riantini kepada Jesyca.


"Juga kepada anakmu atau buyutku cu," sela nenek Wijaya.


"Mulai sekarang, rubahlah sikapmu cu' jangan manja belajar mandiri." kakek Jayanto ikut menimpali.


"Dengerin tuh Jesy," alih mama Famala.


"Iya, Jesyca tahu kalau selama ini sering buat kalian semua kecewa," ujar Jesyca pelan, ia memang merasa bersalah.


"Bagus, anak papa sudah mulai belahar jadi lebih baik." ucap Wisanggeni memberi jempol kanan kiri.


Semua tersenyum bahagia mendengar ucapan Jesyca, keluarga cemara itu menikmati hidangan yang ada di meja keluarga, buatan Inem dan Surti tentunya asisten paling setia di keluarga Wisanggeni.


"Kakek ingin, nanti buat pesta yang paling terbaik untuk cucuku ini," pinta Jayanto.


"Tentu kek, Famala sudah menyiapkan semuanya. Hotel royal yang terbesar di kota ini sudah saya pesan untuk pesta pernikahan Jesyca." jelas Famala pada mertuanya.


"Famala, ayah  sudah cukup kelurga kita berfoya - foya, Wisang ingin pernikahan Jesyca biasa saja asal kekal hingga mereka tua." alih Wisang seperti tidak menyetujui pendapat ayah dan istrinya.


"Tapi pa, bukannya ini sekali seumur hidup untuk Jesyca." sahut Jesyca.


"Iya, papa gimana sih Jesyca itu, anak kita satu - satunya lho." ujar Famala mendayu setengah merayu suaminya.


"Nenek sih terserah Jesyca sama calon suaminya aja," kata Riantini.


"Aku setuju dengan keputusan Wisang," sela Wijaya ibu Wisanggeni.


"Terserahlah," kakek Jayanto mengankat kedua bahunya. Beliaupun menyerah seeprtinya.


"Papa, kenapa sih ngak pernah setuju pndapat mama." lirih Famala.


"Ma, itu bukan pendapat. Tapi keinginan mama dan kegengsian karena teman sosialita mama kan," ketus Wisang.


"Sudah - sudah, biar Jesyca dan Henderson muda yang merancang semuanya, kita cukup memberi saran juga menasehatinya saja." alih Wijayanto, beliau bangkit dari duduknya dan berjalan ke bilik samping ruang keluarga.


"Betul kata kakekmu," suara nenek Wijaya keluar lagi, beliaupun bangkit dari duduknya dan mengikuti suaminya.


Famala terlihat cemberut dia bersedekap tangan dan memalingkan wajah dari Wisang. Begitu pula nenek Riantini pergi berjalan ke kamarnya, mereka berencana akan menginap di kediaman Wisang selama dua minggu. Karena menunggu acara pernikahan Jesyca dan Becker.


Jesyca juga pergi ke atas, dia menuju kamarnya dan ketika sampai di kamar ia meraih ponsel miliknya dan mencari nama Becker di kontak whatsap.


Setelah itu dia menekan tombol vidio call ke Becker. Sesaat kemudian di sebrang sana Becker mengangkat panggilan Vidio dari calon istrinya yang ia cintai.


"Eh, sayang tumben vidio call." sapa Becker memulai percakapan.


"Iya, bete nih keluar yuk." ajak Jesyca.


"Boleh, ntar ya aku lagi latihan di lapangan." kata Becker.


"Ah, kamu sama aja. Mau nikah  tapi masih sibuk main bola!" desah Jesyca  ketus.


"Iya - iya, aku otewe ke tempatmu sekarang." ujar Becker.


"Ngak usah, aku aja yang ke rumah kamu. Sekarang pulang!" perintah Jesyca diapun mematikan panggilan vidio call tanpa mengucap babay pada Becker.


Seorang driver menjemput Becker untuk pulang, pria itu sudah membukakan pintu untuknya. Becker masuk ke dalam mobil sedan berwarna hitam itu, kendaran tersebut melaju merambah perjalan ibu kota Merah putih.


Dua puluh lima menit kemudian, mobil yang di tumpangi Becker sudah sampai di pelataran rumah megahnya. Tampak mobil Jesyca parkir di halaman rumahnya juga, sepertinnya Jesyca datang lebih awal dari Becker.


Becker masuk rumah, dia mendapati Jesyca sedang duduk bersama mamanya. Melihat kedatangan Becker mereka berhenti ngerumpi. Becker menyapa Jesyca.


"udah lama, sayang."


"Baru aja,"


"Becker mandi dulu sana," sela nyonya Ratih.


Pria itu hanya menganguk meninggalkan Jesyca, tak butuh waktu lama Becker selesai mandi turun kebawah. Di ruang tamu hanya ada Jesyca seorang sementara mama Ratih tidak nampak lagi.


"Mama kemana?" tanya Becker seraya mendarat di sofa sebelah Jesyca.


"Keluar sama papa tadi, katanya sih mau cari sesuatu gitu," ujar Jesyca.


"Oh, oke. Btw  kamu bete kenapa sih sayang?" selidik Becker ingin tahu.


"Ngak apa - apa, cuma bosen aja di rumah." jawab Jesyca asal.


"Jalan - jalan yuk, ke Mall atau makan malam di luar," ajak Becker.


"Boleh, tapi makan malam aja kan? tinggal seminggu lagi lho janji suci kita." sela Jesyca menatap Becker penuh arti.


Becker tidak menjawab, malah dia memeluk Jesyca dan menggendongnya ke kamar kosong dekat ruang tamu, Becker mengunci pintu kamar itu. Di dalam dia langsung memeluk tubuh Jesyca dan ******* bibir sexy Jesyca. Jesycapun menerimanya dengan senang tangan indah milik Jesycapun memeluk erat tubuh Becker.


Bunyi letupan ciuman panas terdengar di telinga kedua insan yang tengah dimabuk cinta, kaki jenjang Jesyca melompat dan memeluk ke pinggang Becker. Ciuman semakin panas, tangan nakal Becker mulai beraksi baju yang Jesyca kenakan di masuki tangan kekar Becker. Lalu wanita itu tersadar.


"Iss, jangan dong." ucap Jesyca melepas ciuman Becker, tetapi masih tergendong dengan kaki menggantung di tubuh Becker.


"Kan udah pernah, aku ngak tahan sayang." bisik Becker jujur.


"Ck, sabar kenapa seminggu lagi," kata Jesyca seraya turunkan kakinya dan melepas pelukan Becker. Iapun duduk di tepi ranjang.


"Jes, sebenarnya kamu cinta ngak sih sama aku?" tanya Becker.


"Cinta Briyan Alison Becker, yang pernah nipu gua jadi Geo supir," omel Jesyca.


Membuat Becker malah semakin gemas melihat ekspresi wajah Jesyca.


"Sorry sayang, itu atas permintaan papa Wisang dan papi Henderson," ungkap Becker jujur.


"Kamu sekarang udah tahukan, siapa aku yang sebenarnya." imbuh Becker lagi.


"Iya, maaf perbuatanku selama ini aku kasar," kata Jesyca.


"Well, aku ngak nuntut kamu jadi baik, tapi aku akan berusaha membuat kamu menjadi istri dan ibu yang terbaik untuk anak kita kelak." lirih Becker seraya berlutut di hadapan Jesyca, tepatnya tepi bawah ranjang.


"I love you, Driver hansomeku." ucap Jesyca tersenyum sumringah.


Becker menyamakan tingginya dan duduk di tepi ranjang yang sama, merangkul tubuh Jesyca.


"I love you too, my baby. Mmmuaahhh...." balas Becker mengecup kepala Jesyca.


Jesyca membalas pelukan Bekcer, kedua insan itu saling berpelukan mesra. Suasana menjadi dingin seketika karena diluar rumah hujan turun seketika membasahi bumi, dan rencana keluar untuk makan malampun batal akhirnya Becker memutuskan untuk makan diruamah saja.