
• • • •
"Slow aja kale, natap gue kaya gitu," suara Revano mengagetkan Naya yang sedang melamun di depannya.
"Oh, hmmm.... iya yang mana tadi?" tanya Naya terperanjat dengan gema suara Revano.
"Ya ampun, makanya jangan ngelamun. Nih yang ini cocok buat ruang kerja. Terus nih, ruang meeting." ucap Revano menunjuk gambar yang ada di dalam tabloid.
Naya malah semakin canggung karena Revano tahu jika dia sedang melamunkan pria itu, terang saja di depannya malah menatap terus wajah Revano. Dalam hati Revano sebenarnya juga canggung dengan Naya, tetapi dia dapat menyembunyikan rasa aneh yang bergemuruh di dada Revano itu.
Setengah jam sudah mereka membicarakan tentang bangunan ruang kantor Linda yang akan di renovasi. Siang itu, Revano memberanikan diri mengajak Naya untuk makan siang bersama dan hanya mereka berdua kali ini. Entah ada angin laut menerjang dari mana Nayapun menuruti keinginan Revano.
"Ehemm," Revano melegakan tenggorokannya.
"Naya, kalau kita makan siang di blue Fish boleh?" ajak Revano.
" Boleh aja," jawab Naya singkat tanpa ragu.
"Ayok," Revano bangkit dari tempat duduknya.
Nayapun sama ikut berdiri dan berjalan beriringan menuju mobil Revano yang kemarin. Naya, masuk ke dalam kuda besi Revano. Dan melaju merambah kepadatan kota Melbourne, tampak kiri - kanan gedung pencakar langit menyapa mereka.Tampak di jalan depan alat trasportasi mewahpun menghiasi mata.
Sesampainya di lestoran yang Revano maksud, mereka berdua turun dan memasuki bangunan itu. Revano mengajak Naya duduk dan memesan menu makan siang yang ada di lestoran tersebut.
Karena lestoran Blue Fish hanya menjual berbagai jenis olahan ikan, terpaksa Naya yang kurang menyukai masakan bertema ikan diapun di orderkan oleh Revano. Beberapa menit kemudian menu tiba di meja seorang pelayan membawanya.
"Silahkan, tuan, nyonya." ucap pelayan berkulit putih menggunakan bahasa Inggris Australia yang kental.
"Terimakasih," jawab Revano sopan,
Setelah pelayan lestoran pergi meninggalkan mereka berdua, Revano membuka percakapan kembali.
"Nay, makan keburu dingin lho." ujar Revano menawarkan makanan didepan mejanya.
"Oke," jawab Naya singkat, ia segera memakan makanan itu.
"Besok kamu libur kerja ngak?" tanya Revano.
"Iya besokan, emang hari libur Nasional di sinikan." Naya tenang, namun enggan mengunyah hidangannya.
"Kita hangout bisa ngak, gue sepi ngak ada temen buat pergi." terang Revano.
"Loe ngak ada temen? masak sih, bukannya pemimpin perusahaan itu banyak temennya," sahut Naya.
"Bukan temen kerja, ah culun susah kalau di ajak ngomong huh," keluh Revano.
"Jadi, temen nongki atau ...." Naya terputus.
"Temen special." tukas Revano langsung saja tanpa jeda.
Naya jadi terkejut, baru kali ini ada seorang pria yang mengatakan jika ingin memjadiakan dirinya teman specialnya. Pasalnya, dulu ketika dia mencintai Becker dan hanya ada balasan semu hatinya telah koyak tak dapat di jahit kembali, tapi sekarang hati Naya telah tertata rapih sobekannya.
Gadis itu heran dengan pria yang ia benci ketika masih kuliah dulu, melihat Revano saja muak. Tapi kenyataannya sekarang desiran jantungnya bergetar tidak menentu.
"Sialan, gue ini istri orang. Walaupun belum tanda tangan buku nikah, kenapasih dengan si berandal ini hati gue rasa nyaman." kata Naya dalam hati.
"Kok ngak dimakan sih," Revano mengagetkan lamunan Naya kesekian kali.
"I-iya, Rev. Ini gue makan kok," jawab Naya kikuk.
"Atau, loe ngak suka ikan? udah jujur aja. Gue lihat dari ekspersi loe," gerundel Revano menebak raut wajah Naya.
"Sorry, gue emang ngak makan ikan. Anu a-alergi ikan laut kaya gini," terang Naya masih kikuk.
"Astaga, kenapa loe ngak bilang sih. Dasar culun," sesal Revano.
"Ya udah, kita pulang aja." tambah pria itu seraya bangkit dari kursinya.
"Hih, kenapa jadi kikuk gini sih," pekik Naya dalam hati, ia berjalan mengikuti langkah Revano.
Setelah membayar di casier Revano mengajak Naya kembali memasuki mobil mewahnya, dan pulang menuju kantor Naya, sebelum belok ke gedung milik Linda. Revano membelokan Naya ke tempat makan siap saji di depan sebrang jalan menuju gedung kantor Linda.
"Kok belok sini sih, bukanya loe anterin gue balik kantor." sela Naya.
"Loekan belum makan, jadi makan aku hutang dong sama kamu." kilah Revano mengganti panggilan jadi kamu, setelah loe.
Naya terdiam sesaat,
"Hih, sok perhatian banget sih Repanol ini." ucap Naya dalam hati.
Revano turun sebentar dari mobilnya, ia masuk ke sebuah lestoran cepat saji. Dan keluar membawa tentengan kardus makanan.
"Nih, makan ya. Jangan sampai ngak, nanti sakit Naya ngak bisa kerja." celetuk Revano, ia memberikan bungkusan kardus sedang ke tangan Naya.
"Thanks Revano, loe baik banget sih hehehe." kekeh Naya.
"Baik dong, kalau sama cewek secantik kamu. Udah ayo pulang ke kantor lagi, nanti si centil marahin kamu." ucap Revano, seraya menyetir kudabesinya menuju kantor Linda yang ada di seberang jalan.
"Biasa aja napa sih, masih cantik istri sama ibu loe kok." ujar Naya, merendahkan diri.
"Ye.... istri gue masih di jaga sama malaikat, jomblo. Nyokap suruh cepetan cari jodoh, hehehe...." kata Revano terkekeh renyah.
"Bohong," balas Naya ikut terkekeh.
"Ngak percaya," ucap Revano.
Tak terasa mobil berhenti depat di depan pintu masuk gedung utama, Naya turun dari mobil itu. Diapun mengucapkan terimakasih bayak kepada Revano, saat akan turun tak sengaja tangan Revano spontan memegang tangan Naya. Sesaat, mereka terhanyut dalam keheningan. Mata elang Revano menatap mata Naya seperti penuh dengan bunga yang bermekaran di taman.
"Eh, lepasin." Naya membubarkan lamunan keduanya.
"Ait," Revano melepas pegangan tangannya.
"Thanks a lot, udah nlaktir gue makan siang sampe dua kali,"
"Well, tiap hari juga ngak papa asal loe mau nemenin gue." goda Revano.
"Ngak akan!" sentak Naya.
"Ya udah, sana turun." usir Revano.
Naya membuka pintu mobil Revano, masih saja Revano menahannya.
"You, phone number please!" pinta Revano.
"Buat apa sih," jawab Naya mengernyitkan dahi.
"Hubungan lah," sunggut Revano.
"Ma-maksud nya apa sih aku ngak faham?" desak Naya pura - pura bodoh.
"Udah kasih aja," paksa Revano menekan Naya agar membagikan nomor handphonenya.
"Huh, bentar. 018××××××," decit Naya seraya membagikan nomor telfon bimbitnya kepada Revano.
"Thanks cantik," ucap Revano memuji Naya.
Naya sudah tidak peduli, ia keluar dari mobil Revano. Karena jantungnya akan copot ketika di samping pria nakal itu, Naya buru - buru kabur secepatnya. Seorang satpam penjaga melihat tingkah Naya terkekeh, karena berlari - lari seperti di kejar anjing saja.
Sedangkan Revano yang masih berada di tempat yang sama tadi, senyumnya mengembang merekah menatap layar handphonenya. Berharap keajaiban terjadi di hidup pria itu setelah pertemuan tak disengajanya dengan Naya.
"Ck, apaan sih kok jadi gini." decaknya dalam hati.
"Tapi, ibu udah merengek minta mantu aja." imbuh Revano lagi, seraya melajukan mobilnya kejalanan menuju kantor tempat ia bekerja.