
"secepatnya kita akan tunangkan mereka," ucap Henderson bersemangat empat lima.
Wisanggeni tampak tersenyum bahagia, begitu juga Famala tanda menyetujuinya. Dan Ratihpun terlihat senang dengan ucapan sang suami, wajah Jesyca dan Becker saling tertunduk mereka dalam hati bicara masing - masing dengan fikirannya.
Acara makan malam selesai, beberapa pelayan membersihkan sisa makanan dan alat makan, Wisang dan Henderson berbincang di ruang tamu sama halnya juga dengan Ratih dan Famala.
Sedangkan Jesyca juga Becker duduk di teras lantai atas samping kamar Becker, mereka berdua membicarakan tentang pertunangannya yang sudah di rencanakan.
"Aku emang sayang kamu jes,tapi...."
"Tapi apa?"
"Ubah ya, sikap burukmu. Mulai sekarang jadilah perempuan feminim, yang lembut sopan, seorang wanita suatu saat akan mempunyai keturunan makanya anakmu nanti akan menurun sifatmu itu."
"Hmmmm, berarti kamu enggak tulus dong mau tunangan sama aku."
"bukan gitu Jes,"
"terus apa?"
"Aku udah gagal di penyamaranku, jadi driver palsumu agar kamu itu enggak bedain orang miskin atau kaya. Yang bisa kamu rendahin sesuka hatimu."
Deg!
Seketika, Jesyca terasa dia tersindir karena selama ini memang demikian. Ia diam tidak berkomentar lagi, karena hati Jesyca menyimpan sejuta cinta untuk pria yang duduk di sampingnya.
Ternyata selama ini Beckerpun mempunyai perasaan yang sama dengan dirinya. Sebenarnya, Jesyca lega tetapi untuk merubah kebiasaan buruknya itu masih sulit.
"Jes,kok malah ngelamaun." Becker bersuara lagi.
Jesyca mengalihkan pandangannya ke samping.
"Iya,"
Becker mendekati Jesyca tangan kekarnya memegang jemari gadis itu, jantung mereka saling berdegup kencang jarak wajah keduanya semakin mendekat deru nafas hangat saling menerpa.
Bibir mereka kini bersentuhan, tetapi....
Suara Ratih dari ambang pintu mengagetkan kedua sejoli yang baru saja terungakapkan perasaannya masing - masing.
"Ampun, Becker main so**r aja." kilah Ratih terkekeh kecil.
Jesyca dan Becker menahan malu keduanya menundukan wajah.
"Jesyca, diajak pulang sama mama papanya. Udah, besok lagi tenang aja mommy ga ganguin kalian kok."
"ck, si**l gara - gara tante Ratih ngak jadi deh," bisik hati Jesyca.
"Iya mom, nanti Jesyca nyusul." kata Becker.
"Eh,ngak tan sekarang Jesy mau turun kok." alih Jesyca seraya bangkit dari tempat duduknya.
"Ssttt.... stop, kalian lanjutin lagi aja deh, mommy mau turun," ucap Ratih berbalik badan dan pergi menuruni anak tangga.
Tangan Becker meraih tubuh Jesyca, kulit mereka saling bersentuhan dengan ikhas Jesyca menerima pelukan Becker. Langsung saja tidak pakai lama, Jesyca menyerang Becker terlebih dahulu bibirnya di tautkan pada bibir pria itu. Jesyca cukup liar dalam hal demikian, entah dari mana dan siapa ia belajar semua itu.
Dengan senang hati, Becker menerimanya lalu me**mat mulut Jesyca tubuh keduanya tersungkur ke lantai balkon. Semakin panas saja Becker di buat tak berkutik oleh Jesyca,
"Kita lanjutin setelah tunangan," bisik Jesyca di telinga Becker.
Gadis itu melepas pelukan Becker dengan kasar. Lalu, pria itu merangkulnya kembali.
"Kita akan secepatnya menikah," lugas Becker dalam keadaan mereka berdua masih terduduk di lantai.
"Apa? Tapi, kuliahku gimana?" Jesyca kebingungan.
"Tenang, luar negeri luas. Aku sayang banget sama kamu Jes," tegas Becker.
"Kenapa, secepat itu menggambil keputusan? aku belum siap." tukas Jesyca pelan.
Becker menatap lekat wajah Jesyca, tangan kekar dengan jemarinya meraba wajah cantik Jesyca. Pelan sekali gerakan tangan Becker, lalu menyambar bibir sexy milik gadis itu. Mata keduanya terpejam kejadian indah yang tadi kini kembali menyapa mereka.
Jesyca dan Becker terlarut dalam de**pan tubuh. Ci**man panas keduanya terjadi begitu lama, sedetik kemudian Jesyca memberanikan diri untuk membuka mata. Dia, merasakan kehangatan nafas Becker yang berbau mint di mulutnya. Sedangkan Becker masih menikmati sensasi tersebut, malah semakin ganas tangan kekar Becker mulai nakal meraba tubuh Jesyca dengan mudahnya. Karena Jesyca hanya menggunkan dress tangtop maka Becker leluasa tangannya menari kesana kemari. Hingga akhirnya tangan pria itu menemukan sesuatu yang membuat Jesyca terperanjat.
" Becker!" sontak Jesyca melepaskan pelukan Becker.
"Kenapa sih Jesy?" kelit Becker kesal karena belum puas.
"Loe tulus ngak sih, kenapa tangannya nakal!" ketus Jesyca seraya berdiri membenahkan dressnya.
"Uupss, sorry Jes. Gue kelewatan,"
"Jadi, loe ngak seriuskan?"
"Sumpah demi Tuhan, gue serius sama loe." ucap Becker, ia pun berdiri menyeimbangi tubuh Jesyca yang lebih pendek darinya.
"Hmmm, awas aja kalau loe bo'ongin gue." ancam Jesyca dengan wajah pura - pura marah.
Tetapi Becker malah menggendong Jesyca masuk kedalam biliknya, dan menjatuhkan tubuh Jesyca di tengah ranjang Becker dengan pelan juga mendarat sempurna.
Jesyca semakin ketakutan rasanya dia ingin kabur tetapi tak mampu bergerak kakinya. Apa lagi Becker dia sudah hilang akal, karena ini pertama kalinya dia merasakan indahnya jatuh cinta walaupun karena jodoh dari orangtua.
"Jesyca Anggeline, please giveme one nigth." bisik Becker di telinga Jesyca.
Gadis itu langsung bangun dari ranjang. Dan, menjambak Becker dengan ci**man kasar. Becker menerima sentuhan itu kembali, rasanya didalam benak Becker belum puas karena ingin langsung ke intinya. Tetapi Jesyca seperti masih menolaknya.
"Jesy," ucap Becker melepas c**man gadis pujaannya.
"I wanted it, but not now!" tegas Jesyca menolak keras ajakan Becker.
"Oke, aku ngerti ini bukan saatnya sorry. Ayok aku antar kamu pulang." kata Becker turun dari ranjangnya.
Jesyca menuruti ajakan Becker, mereka keluar dari dalam kamar pribadi calon tunangannya itu. Dan menuruni anak tangga.
Di bawah orangtua Jesyca masih menunggunya, sedangkan Ratih cengingisan melihat kedatangan mereka berdua.
"Jeng Famala, pak Wisang biarin Jesyca tidur disini aja. Ada beberapa kamar kosong lho," ujar nyonya Ratih memecah rumpian mereka.
"Eh, jangan jeng. Takutnya nanti ah, itu anu...." suara Famala terputus.
"Biarin, punya cucu dulu ngak apa - apa kan Wisang." alih Henderson terkekeh, memotong ucapan Famala.
"Eeee anu, itu. Eh, iya malah bagus cepet punya cucu." sahut Wisang terbata mendengar ucapan calon besannya.
Henderson dan Ratih terkekeh bahagia, memang mereka berdua sudah menginginkan cucu karena Becker juga sudah cukup umur, tetapi Jesyca masih ingin kuliah. Jadi tuan Henderson dan nyonya Ratih harus bersabar.