I Love You Driver Handsome

I Love You Driver Handsome
Bab. 17 Naya keGeeran



Selama perjalanan menuju rumah, Jesyca hanya diam memainkan ponselnya tak banyak bicara seperti hari - hari sebelum Geo menyatakan cinta pada Naya. Begitu juga di kampus Jesyca malas berinteraksi dengan Naya, kadang disapa oleh Nayapun tidak mau merespon.


Mobil yang di kemudikan oleh Becker, sudah memasuki rumah Jesyca. Mama Famala berdiri di tengah teras megah rumahnya, beliau sengaja menunggu kedatangan sang putri dan terutama driver pribadi Jesyca.


"sayang, selamat sore," sapa Famala pada putri sematawayangnya.


"Hemm," Jesyca hanya berdem dia melangkah masuk kedalam rumah.


"Jesyca kamu kenaapa?" tanya Famala berusaha mengejar sang putri.


Geo alias Becker yang melihatnya hanya diam tak mau ikut campur urusan mereka. Dia segera pergi meninggalkan rumah Jesyca karena perkerjaan di tempat tuan Wisang sudah selesai, Geo menaiki motor buntut miliknya.


Dari lantai atas, mata Jesyca tidak mengalihkan pandangannya pada kepergian Geo. Di tepi jendela, dia terus saja melihat pria itu hingga menghilang dari pandangan matanya. Famalapun tahu kini yang sedang di alami sang putri sematawayangnya.


"Kamu, suka sama Geo Jes?" tanya Famala lembut seraya membelai rambut Jesyca dari belakang.


"apaan sih ma, enggak lah. Dia cuma supirku, dan cowok Naya mereka baru aja jadian kok." ujar Jesyca, dia menahan saliva agar tidak menjatuhkan air mata.


"Jesyca, mama ini yang nglahirin kamu. Jadi  mama lebih tahu apa yang kamu alami nak, "


"kamu sekarang sedang cemburu." pungkas Famala memeluk sang putri dengan penuh kasih sayang.


Jesyca meneteskan air mata, diapun tidak tahu air mata apa yang tiba - tiba saja keluar dari kornea mata indahnya. Gadis cantik itu berbalik badan memeluk erat tubuh sang mama, dia menagis sesenggukan. Famala mencoba menenangkan  Jesyca.


Dari ambang pintu kamar terlihat Wisanggeni menyaksikan istri dan anaknya berpelukan, dia juga ikut terharu. Wisang tahu kalau rencana perjodohan dengan putra Henderson itu akan berhasil walaupun ada sedikit kesalahan, Wisang menyadari kesalahannya jika dia memerintah calon menantunya menjadi supir pribadi Jesyca.


"ada apa ini?" tanya Wisang berpura - pura tidak tahu yang sebenarnya.


"ngak pa, si Jesyca lagi kecapekan. Katanya besok ada kemping di kampusnya," ujar mama Famala berbohong.


"kalau letih, Jesyca itirahat aja dulu dirumah. Takut asmanya kambuh lagi." kata Wisanggeni.


"iya pa," jawab Jesyca .


"Sekarang, mandi terus istirahat ya." perintah Wisang pada Jesyca.


Gadis itu hanya mengangguk faham menuruti perintah papanya, Famala dan Wisang segera pergi dari kamar putrinya.


••••


Di tempat yang berbeda, Naya sedang menefon ke nomor Becker oh salah Geo yang pembaca tahu. Sudah memanggilnya sebanyak empat kali panggilan, namun tidak ada jawaban sama sekali. Naya jadi curiga apakah Geo betul mencintai dirinya atau hanya main - main, karena dia tahu kalau Geo adalah jodoh terbaik menurut fikiran Naya. Gadis itu, mengirim pesan kepada Geo dia berusaha menunggu selama sepuluh menit tidak ada balasan juga. Akhirnya, Naya menelfon kembali kali ini panggilan keluar ke nomor Geo yang ke sepuluh kali namun nihil jawaban sekalipun tidak ada untuk Naya. Dia menjadi putus asa, berharap Geo disana sedang baik - baik saja.


"Kenapa sih, yang sering hubungin aku terus!" keluh Naya sendiri di kamarnya.


"apa dia cuma bo'ongan,"


"aku jadi curiga, kayaknya ada apa gitu sama Jesyca juga. Sudah berhari - hari kalau aku dekat sama Dia kayak Jealous gitu." ujarnya sendiri.


Naya juga menghubungi Jesyca akan tetapi dia tidak merespon Naya juga.


"masak seorang Jesyca jealous ama supir." bisiknya sendiri.


"Ah, ada apa sih ini sebenarnya." Naya membanting kepalanya ke bantal.


Dia mulai menyalakan televisi di sudut ruang kamarnya, terlihat di layar acara siaran langsung liga sepak bola tim nasional. Matanya tertuju pada laki - laki yang sama persis dengan wajah Geo, dia sangat tidak asing dan mempercayai kalau itu adalah Geo.


"Iya, itu Geo tapi kenapa namanya berubah jadi Bryan Alison Becker." pekiknya sendiri.


Naya semakin tidak mengerti, mengapa ada pemain bola yang sama wajahya dengan kekasih barunya itu. Akhinya dia mencoba menelfon nomor Geo kembali, untuk memastikan orang apakah pemain bola yang  dilihatnya itu adalah Geo atau bukan.


Beberapa detik setelah dia menyambungkan telfon lagi, seseorang mengangkatnya.


"iya hallo, maaf tuan muda Becker sedang ada pertandingan ada yang bisa saya bantu?" ucap seseorang di seberang telfon itu dengan suara laki - laki tegas dan datar.


"Becker? jadi ini bukan Geo driver Jesyca itu?" kelit Naya dalam sambungan telfon.


"ini nomor tuan muda saya, Bryan Alison Becker. Anda jangan coba - coba mengatakan kalau majikan saya adalah driver!" ketus suara disebrang sana.


"Maaf, tapi driver teman saya mirip dengan tuan muda anda pak. Namanya Geo," jelas Naya.


"Mungkin anda salah sambung." suara di sebrang sana mematikan telfon dari naya.


"astaga, dimatiin. Tapi bener itu mirip banget sama Geo." ujar Naya sendiri.


Matanya mengamati layar televisi terus, hingga acara itu selesai dia mencoba menghubungi nomor telfon Geo.


"semoga aja beneran Geo," katanya lagi.


Suara yang ia kenalpun mengangkat panggilannya dan mulai memyapa hangat Naya.


"hai, hallo  sayang." sapa Geo pada Naya.


"Beneran kamu!" seru Naya girang, dia melihat nomor yang tadi di panggilnya dan diangkat oleh Geo.


"Iya, bener kenapa say?" tanya suara disebrang sana heran.


"Ngak, tadi aku telfon nomor ini yang angkat bukan kamu, katanya dia kamu tuan mudanya orang yang angkat telfonku tadi say." jelas Naya.


"Hah!" Becker terkejut matanya melotot membulat.


"Salah dengar kali kamu," elak Becker di sebrang telfon.


"Ngak, nomor kamu ini kok. Aku ngak salah!" ujar Naya membela diri.


"bukan, kamu salah pencet kali." alih Becker mencoba menghilangkan jejak.


"Kamu sebenarnya siapa sih?" selidik Naya.


"Ya aku Geo,cowok kamu." katanya.


"Ya kalau kamu Geo, sekarang juga datang ke rumahku. Aku kirim alamat aku cepet ya aku tunggu." pungkas Naya seraya mematikan sambungan telfon.


••••


Stadiun masih meriah, karena acara pertandingan bola masih satu season lagi dan Becker masih akan berlaga di lapagan atas perintah sang pelatih. Tetapi Becker hilang akal, karena sebentar lagi harus pergi kerumah Naya sementara pertandingan bola babak kedua bermain antara empat puluh lima menit sekarang sudah istirahat sepuluh menit, berarti lima menit lagi akan dimulai babak kedua. Becker memcari akal agar terhindar dari Naya,


"resek! gara - gara ide gila Linda nih, Naya jadi beneran ngebet ama gue." ketus Becker sendiri.


"aaarrrkkkkhhhh...." desah Becker setres memikirkan caranya untuk tidak jadi pergi menemui Naya.