
****
Malam itu hujan turun rintik - rintik di ibu kota Merah putih, kediaman Henderson sedang mengadakan pesta pertunangan antara Becker dan juga Jesyca.
Tampak semua kolega, beberapa sahabat dekat Henderson maupun Wisanggeni hadir di acara tersebut. Semua menu tersedia, malam itu Jesyca terlihat anggun karena menggunakan dress mewah buatan perancang busana terbaik di negri Merah Putih. Begitu juga Becker gagah, tampan dan perkasa bak pangeran yang turun dari kayangan.
Semua teman juga timnas sepak bola dan paman pelatih Matheow hadir di acara tunangannya. Tetapi, Domanic tak menampakan batang hidungnya entah kemana dia?
Domanic memang kurang menyukai Becker, sejak dia masuk ke tim sepak bola impiannya.
Para teman kuliah Jesyca turut hadir meramaikan pertunangannya. Linda dan Naya terlihat hadir, walaupun hati Naya hancur berkeping melihat orang yang ia cintai ternyata tak memihak dirinya dia terlihat tegar di depan Jesyca dan Becker.
Seorang pengisi acara memerintahkan Becker memasangkan cincin di jari manis Jesyca. Beckerpun memasukan cincin berlian yang siang tadi ia beli bersama Jesyca, sebenarnya Jesyca tak meminta cincin itu nyoya Ratih yang memilihkan.
"Sekarang, kalian sudah resmi tunangan." ujar pembawa acara wanita itu.
"Cium kening calon istrimu, untuk tanda cinta." perintah sang pembawa acara.
Becker mengikuti perintah pembawa acara, Jesyca sudah antusias untuk itu dia memasang wajah sedikit gugup, mungkin karena dilihat oleh banyak orang. Becker bukannya kening yang di ci**m malah bibir Jesyca. Sontak semua tamu undangan bertepuk tangan meriah. Kemudian, setelah itu Becker meminta microfon sang pembawa acara.
"Terimakasih, buat semua yang sudi datang menjadi saksi tunangan kami. Semoga tuhan memberkati," kata Becker pada semua hadirin di ruang dalam rumah megahnya.
Semuanya bertepuk tangan meriah, dari ruang seberang terlihat Revano menggunkan baju pelayan. Dia risih jika harus keluar mengantarkan makanan ataupun minuman, karena di ruang depan banyak para tamu yang dari teman kuliahnya, dia tidak tahu jika Jesyca yang akan di tunang oleh majikannya.
"Ck, si***lan ogah gue keluar, ntar di bully anak - anak orang kaya itu." cetuknya pada pelayan lain.
"Mereka teman kuliah loe?" tanya Beno.
"Iya, pada sombong semua. Ji**k gue apa lagi tunangan si Becker, songong banget anaknya." tukas Revano.
"Orang kaya mereka, emang pada tinggi suka ngrendahin yang kaya kita gini. Tapi, kita juga kalau ngak ada mereka ga bisa dapat duit. Loe enak di kuliahin bos," kata Beno.
"Sebenarnya, gue malas kuliah. Enak jadi copet, dapet duit lha ini kerja sambil kuliah ngak asik hidup gue," keluh Revano.
"Ya udah, sana jadi copet aja. Belum tau loe rasanya di gebukin orang satu bis sih," seru Beno.
"Itu sih, copet bodoh dia ngak ahli mal**ng." sahut Revano kemudian ia pergi ke belakang meninggalkan Beno,
Revano melangkah keluar dari rumah besar sang majikannya, ia berjalan sebuah rumah kecil yang di tempati dirinya juga sang ibu.
Sesampainya di rumah berukuran enam kali enam meter itu, Revano melepas baju pelayannya, dia berganti pakaian biasa lalu tangan Revano menyambar jaket kulit hitam kepunyaannya sejak ia berprifesi sebagia co**et.
Lanni terkejut ketika memasuki ruangan rumah kecil, ia melihat anak sematawayangnya akan pergi.
"Kenapa, kamu tukar baju, mau kemana sih ini acara den Becker tau!" bentak Lanni memberondong Becker.
"Ibu, kepo aja. Malas jadi pelayan, itu di depan sana banyak temen kuliah Revan, nanti pasti bully aku habis - habisan." alihnya seraya menggunakan topi hitam pula.
"Kamu sadar ngak sih, sekarang kita di tempat siapa?" desis Lanni pada putranya.
"Iya Revan tahu bu, sampai kapan kita tinggal disini dan ibu jadi ba**u! kalau ibu jadi simpanan papanya Becker sih ngak masalah," geram Revano.
Lanni mengeluarkan air mata, hatinya hancur mendengar ucapan Revano demikian. Lanni telah salah menjaga Revano dari kecil, dia merasa berdosa tidak pandai mendidik sang putra.
Anak muda itu pergi meninggalkan ibunya yang masih mematung menangis, dia tidak perduli dengan sang ibu yang hatinya terluka. Revano terus melangkah pergi keluar dari rumah Henderson, rencananya dia akan pergi menco**t lagi setelah sekian lama vakum.
••••
Acara pertunangan antara Jesyca dan Becker masih berlanjut, semua teman kuliah Jesyca memberi selamat pada kedua pasangan tunangan itu. Begitu juga teman tim sepak bola Becker.
"Selamat ya Jes, cepet ke pelaminan ya," ujar Linda mencium pipi kanan kiri Jesyca.
Lalu berganti Naya.
"Jesyca, loe pemenangnya. Selamat ya, semoga kalian bahagia," Naya memeluk Jesyca dengan tulus.
"Thankyou Nay, semoga loe juga dapat jodoh yang baik dan tulus." ucap Jesyca membalas pelukan Naya.
Becker dari kejauhan melihat mereka, karena masih asyik menemui rekan olahraga maupun bisnisnya.
"Gila loe Beck, dapet calon bini cakep amat kaya artis Korea gitu." puji Devano menepuk pundak Becker.
"Thanks a lot, iya Dev." jawab Becker tersenyum bangga.
"Becker, selamat ya loe pilih dia." suara seseorang di balik tubuh Becker.
"Tania, loe masih disini?" Becker berbalik badan dan mengerutkan alisnya.
"Iya, gue ada bisnis kecil - kecilan disini." jawab Tania.
"Oh, iya oke." pungkas Becker, lalu pergi meninggalkan Tania yang masih mematung menatap Becker.
Becker berjalan kearah Jesyca, dan meraih tangannya. Berbisik di telinganya, Jesycapun menuruti permintaan calon sang suami.
"Ada apa sih honey?" tanya Jesyca ketika sudah di dalam kamar Becker.
"Surprise...." kejut Becker memberikan sebuah kunci, mirip seperti kunci rumah.
"Kunci rumah? buat apa, ngak faham aku." Jesyca kebingungan, dia fikir akan di ....
"Apartement, di Singapure untuk kamu." lugas Becker.
"Astaga, aku ngak minta lagian papaku juga bisa beliin kok." cetus Jesyca.
"Hei, ini hadiah pertunangan kita dariku sayang. Please terima dong," pinta Becker memasang wajah puppy eyese di matanya.
"Hmmm, oke deh sayang. Thankyou ya," ucap Jesyca menerima kunci itu di tanggannya.
"I love you, driver handsomeku." bisik Jesyca pelan melihat wajah Becker.
"Anj**r, driver! aku itu tunangan kamu." kelit Becker tak terima.
"Salah siapa, pakek nyamar jadi supir. Bilang aja kalo loe itu calon suami gue ribet!" ujar Jesyca semakin mendekati wajah Becker.
"Aaisss, hilangin loe gue!" tukas Becker.
Diapun menyambar tubuh Jesyca, dan gadis itu menerima sentuhan tangan kekar Becker, tak peduli di bawah sana acara masih berlangsung.
"Becker, sayang." bisik Jesyca di telinga Becker.
"Iya," jawab Becker singkat.
"Please, give me one nigth." ucap Jesyca tulus.
" Yakin?" Becker membulatkan matanya, dan terbaring mennyampingi Jesyca.
Jesyca menanggukan kepala tulus, dia memang sudah terobsebsi dengan Becker. Karena, seumur hidup Jesyca belum pernah merasakan jatuh cinta segila ini.
Becker bangkit dari ranjangnya, ia menguci pintu. Dan mulai melucuti jas hingga celana yang ia kenakan, kini dada bidang Becker terlihat oleh mata Jesyca.
Dan....