
"Huh, dam loe ngatain gue centil." protes Linda tidak terima.
"Emang loe lembut, tapi resek, judes juga, nah kalau Naya sih lembek, centil juga sih pernah naksir mantan majikan gue waktu fi Indo, ya kan hahaha...." kekeh Revano memberi penilaian pada dua gadis itu.
"Ck, udah makan aja gih. Ngak usah nilai orang itu kayak apa, loe sendiri juga ngak kece tau," sela Naya.
Revano seperti tidak terima ia mengehentikan aktivitas makannya, tangannya yang menggengam pisau dan garfu di letakan juga.
"Culun, gue ngak terimanih. Berhubung loe agak baik sama gue, pintu maaf tersedia." renyah Revano.
"Hei, Naya ngak mau minta maaf sama loe brandal." alih Linda mengejek Revano lagi dengan sebutan itu.
"Ih, udah kita lagi makan ini. Malah jadi ngak enakkan kaya anak kecil aja." sungut Naya.
"Makan - makan lun, loe ngak usah hirauin si centil satu ini, habisin semua kalau kurang tingal order lagi ya," ucap Revano dengan gagahnya akan menjadi bos di siang itu.
Linda tidak menggubris ocehan Revano, karena sudah faham sejak masih duduk di bangku kuliah dulu. Pria kumal yang terlihat dederhana sekarang telah menjelma menjadi sosok pemuda tampan, yah walaupun penampilan Revano sidiki kurang rapih siang itu. Akan tetapi wajah tampan yang menempel di dirinya tidak menghalangi gayanya berfahsion, yang menirukan penyanyi rock asal America sayangnya hanya dia tidak bertindik. Dan gambar ukiran di kedua lengannya itu menjadi ikonik ke kerenannya.
Setelah makan siang di lestoran, Revano mengajak kedua gadis yang bersamanya pergi ke rumahnya yang tidak jauh dari tempat wisata tadi. Hanya menempuh jarak tiga puluh lima menit untuk sampai ke rumah Revano. Ternyata Revano tinggal di perumahan elit, tidak semua orang di Melbourne mampu membelinya. Linda dan Naya tercengang sekali lagi mereka tidak percaya dengan yang di lihatnya sekarang,
"Kayaknya, Revano bukan orang sembarangan dia bisa tinggal disini," kilah Linda matanya mengamati seluruh halaman rumah bernuansa modern.
"Gila, ini rumah impian Lin, dulu rumah gue di Jakarta aja ngak sekeren ini lho," Naya merasa kagum.
Revano memanggil kedua gadis itu agar masuk ke rumahnya.
"Woi, centil and culun. Sini kalian," panggil Revano di depan pintu masuk rumahnya.
Naya dan Linda segera bergegas jalan ke pintu masuk rumah Revano. Di ruang pertama mereka di suguhkan ruang luas bersamaan dengan dapur modern, juga samping kiri ada sebuah meja makan panjang kanan - kiri kursi cantik buatan tahun ini.
Tak nampak dimana ibu Revano berada di dalam rumah itu, namun di dinding terpajang bingkai foto Revano bersama ibu Lanni ketika Revano masih kecil dulu, mereka terlihat sederhana.
"Ini rumah loe ndal?" tanya Linda untuk meyakinkan lagi.
"Iya, kenapa sih centil. Rumahku emang enggak sebagus dan mewah kaya rumah kalaian." ketus Revano.
"Ini keren bodoh, apartement kita enggak semewah ini. Lagian disini cari hunian susah," ujar Linda.
"Memang susah, nih minum. Eh, culun ngapain sih loe malah kaya orang nyari sesuatu, sini gabung ama kita." Revano memberikan dua botol coke kepada tetamunya.
"Eh, iya Rev. Gue cuma kagum aja sama bangunan rumah loe, interior dan eksteriornya modern banget. Ini yang disign cari arsitek mana sih?" tanya Naya penasaran sekali.
"Ya ampun, ini rumah biasa aja kalee. Gue lah arsteknya." ucap Revano bertepuk dada dengan membanggakan dirinya sendiri.
"Loe disini jadi arsitek?" tanya Linda lagi.
"Ck, ya gitulah yang penting bukan kerjaan haram lagi," kata Revano pelan.
"Kenapa wajah loe jadi berubah gitu Rev, apa Linda salah tanya." alih Naya, ia berjalan mendekati Revano yang tengah duduk di kursi makan bersama Linda.
"Ngak, yang salah gue." ujar Revano.
"Terus?" selidik Linda di sampingnya.
"Dulu gue adalah preman, tukang penjual obat terlarang dan begitu ketemu pak Henderson. Kami dia ajaknya pulang kerumah dan gue di kuliahin," papar Revano pada dua gadis tersebut.
"Kan udah bilang, kalau gue udah ngak di dunia hitam lagi." kelakar Revano.
"Udah jelaskan," imbuhnya.
"Iya syukur deh, kalau loe udah di jalan yang lurus. Semoga kedepanya akan lebih baik lagi, " dalih Naya memberi semangat Revano.
"Thanks Naya, loe emang baik." ucap Revano pelan.
"Ya ampun, kalian ini kenapa sih jadi sendu gini. Gara - gara cerita masalalu loe Revano." sela Linda.
"Hmmm, minum nih. Ntar haus kalian," dehem Revano mempersilahkan dua gadis yang duduk di kursi makan bersamanya.
••••
Dua hari telah berlalu sejak pertemuan tak disengaja kala di tempat wisata saat itu, kini Linda dan Naya bekerja di kantor peninggalan mendiang orangtua Linda kembali.
Hari ini Naya di tugaskan oleh Linda untuk pergi meeting di luar kantor bersama dengan seorang peminpin perusahaan arsitek. Karena, rencananya Linda akan merenovasi beberapa ruang kerja di kantornya. Maka dari itu dia akan memilih design arsitektur yang profesional.
Di luar kantor, tepatnya cafe. Naya memasuki ruang cafe tersebut, dengan membawa laptop di selipkan pada tangan yang bertempat di tas. Dia tengah mencari seseorang yang akan berjumpa dengannya, ada satu tangan melambai kerahnya tampak tidak begitu asing dengan orang itu. Naya segera menghampirinya.
"Revano lagi, loe manggil gue?" tanya Naya saat berada di depan meja Revano.
"Iya, loekan yang dari kantor Brivo?" kata Revano tanpa mempersilahkan Naya duduk.
"Kok loe tahu," Naya heran.
"Ya bukannya kantor kalian akan di renovasi?" Revano mengernyitkan dahi.
"Jadi, pemimpim perusahaan arsitektur world wall and Architecture itu tempat loe kerja." tebak Naya.
"Iya culun, please sit." Revano baru mempersilahkan Naya duduk.
"Oke, thankyou." ucap Naya seraya mendarat di kursi.
"Jadi, langsung aja loe mau design yang kaya mana? " Revano menyodorkan majalah tentang design perumahan ataupun perkantoran.
Naya menerima benda itu, membaca dengan teliti dan memilih yang paling sesuai untuk kebuhtuhan kantor Linda.
Satujam kemudian setelah memilih gambar ruang design, Naya menemukan gambar design yang paling cocok untuk ruang kerja yang akan direnovasi.
"Loe sekarang, bener - bener keren, udah berubah Revano." puji Naya.
Membuat Revano menjadi salah tingkah, di mencoba tenang sedikit karena desir jantungnya tidak karuan, penampilan Revano lebih rapih dari pada hari lepas. Rambut gonderongnya masih diikat kebelakang, ia mengenakan jas hitam di padu dengan kemeja merah maroon pada dalam jas tersebut.
"Ah, biasa aja kali Nay. Ngak usah lebay muji gue." ujar Revano.
"Gue ngak lebai, sekarang loe udah bener berubah drastis." sangkal Naya.
"Btw, loe juga semakin cantik Nay." puji Revano.
Tubuh Naya rasanya mendidih darahnya, jantung di dalam dadanya berdesir hebat karena telinga Naya baru saja mendengar pujian dari Revano, karena dari kuliah dulu Revano tidak pernah memujinya.