I Love You Driver Handsome

I Love You Driver Handsome
Bab. 8 Simpati



" kemarin siang, gue lihat cowok mirip sama loe Ge, " ujar Jesyca pada Geo yang duduk di tepi ranjangnya.


"dimana? kaya apa sih ciri tuh cowok?" berondong Geo berpura - pura tanya.


"di mall grand, dia mirip banget kaya loe. Semua rambut, boddy sama atau loe emang diyakdirkan kembaran sama pemain bola itu." papar Jesyca, dia tetap menekan Geo.


"ya ampun, itukan orang famous. Sedangkan aku cuma seorang supir, mana sama ya beda jauh lah." ujar Geo menutupi yang sebenarnya.


"Tapi suer. Bryan Alison Becker sama persis kaya loe, bedanya dia cool loe cupu hehehehe...." kekeh Jesyca meledek Geo.


"Ya cupu non. Mana bisa atau mampu saya dandan kaya pesepak bola yang gajinya gede," cetus Geo.


"oh, jadi gaji jadi supir gue kurang ya loe? emang bokap gue cuma ngasih UMR?" kelit Jesyca seraya membetulkan bantalnya.


"bukan gitu non, kenapa si non Jesyca tanya bengitu." kelit Geo menutupi mulutnya dengan tisu, dia ingin tertawa namun takut Jesyca curiga.


"Ck, udah bilang berapa kali sih. Jangan panggil gue non. Ah, loe ambilin air minum hangat sono." perintah Jesyca pada Geo alias Becker.


Geo menuruti perintah Jesyca, pria itu pergi dari kamar nona mudanya dan turun ke dapur mencari segelas air hangat. Di bawah beruntung dia tidak menjumpai majikan perempuan genit, juga tidak melihat bi Inah ataupun bi Surti. Fikir Geo mungkin pagi menjelang siang ini sibuk di depan atau bersih - bersih bagian ruang lain, karena asisten rumah tangga tuan Wisang hanya lima orang termasuk Geo yang menyamar sebagai driver untuk Jesyca. Berbeda dengan keluarga Geo mereka lebih kaya raya, para asisten rumahnya ada sepuluh orang lebih yang melayani keluarganya. Rumah Geopun berfasilitas VIP layaknya hotel bintang tujuh di kota Dubai, walaupun demikian Geo tidak sombong dan angkuh seperti Jesyca.


••••


Minuman air putih hangat pesanan Jesyca sudah sampai di tangan gadis itu. Jesyca mulai meneguknya dengan obat, kepala yang semalam pening agak hilang setelah Geo berada di sampingnya. Padahal bukan kekasih hanya sekedar driver pribadi, namun di hati Jesyca Geo membuat hidupnya penuh warna.


"Geo, jangan panggil gue non ya." ucap Jesyca dengan suara dan tatapan lembut.


Becker jadi salah fokus, jantung pria tampan itu berdetak cepat. Rasanya ingin pergi dari hadapan Jesyca namun tidak mampu, seperti ada lem yang merekat di kaki pria itu.


"ee, mmm.... Jesyca gitu non? " tanya Geo seraya berdehem, menutupi kegugupanya.


Gadis cantik yang duduk di tengah ranjangnya itu, hanya mengaguk seraya menatap wajah tampan Geo alias Becker. Jesyca sedikitpun tak menaruh curiga pada ciri - ciri Geo karena memang sama persis seperti pemain bola yang di gemarinya.


"jangan liat gitu Jes, jadi ...." suara Geo terputus.


Jesyca memutus ucapan Geo.


"jadi apa, GR banget sih loe. Gue ngak ngelihatin loe, tuh cicak." tunjuk Jesyca di tengah dinding kamarnya.


"Heleh, tadi ngeliatin gue, sekarang cicak yang kadi tersangka sial nih cewek." ketus Geo dalam hati.


"Mampus, Geo tahu kalau gue perhatiin." lirih Jesyca dalam hati.


"Ge," panggil gadis itu.


"ya," jawab Geo singkat.


"Loe pernah jatuh cinta ngak?" selidik Jesyca ingin tahu yang sebenarnya.


"pernah, rasanya ngak enak kok Jes." jawab Geo memancing emosi Jesyca.


"Oh gitu, siapa cewek yang loe taksir?" tanya Jesyca lagi.


"deket sih orangnya, dia cantik tapi agak nakal dan sombong juga." tukas Geo.


Seperti letupan mercon tengah malam tahun baru, hati Jesyca. Dia merasa sama cirinya dengan yang Geo sebutkan.


"siapa?" jesyca menekan Geo agar menyepilnya.


"deket sekarang deket banget, cuma terasa jauh Jes." papar Geo.


"Maksudnya?" Jesyca berusaha menekan Geo lagi.


Tetapi, tuan Wisang masuk ke kamar Jesyca tanpa permisi. Beliau berasama nyonya Famala, Geo yang berada di kamar anak gadis terkejut melihat kedatangan majikannya.


"Lho Geo? ngak ada jadwal nyupirkan hari ini, karena Jesyca sakit." Wisanggeni bertanya seraya duduk di samping putrinya.


"Tadi, non Jesyca yang telfon saya suruh kemari tuan." jawab Geo seraya menunduk seperti PRT yang lainnya.


"Oh, gitu oke deh." tambah Wisang.


Famala hanya diam saja, tak menyapa Geo wanita setengah baya itu mengechek jidat Jesyca apakah masih panas atau tidak. Juga menggunakan alat pengukur suhu panas pada badan, terlihat di alat tersebut sudah menunjukan angka di bawah berarti tandanya Jesyca sudah mau sembuh dari demamnya.


••••


Di rumah mewah bak istana laki - laki separuh baya sedang duduk di ruang keluarga seraya menyaksikan sebuah pertandingan bola di televisi layar lebar, beliau adalah tuan Herderson ayah dari Geo alias Bryan Alison Becker. Saat sedang asyik menonton siaran favoritnya sang putra datang memeluknya dari belakang.


"good nigth dady," sapa Becker pada orangtuanya.


"nigth my hero, dari mana aja sih seharian? dady suruh meeting malah main kabur aja." tukas tuan Henderson.


"Sorry dad, biasa penyamaran driver untuk calon mantu dady hehehe...." kekeh Becker seraya duduk di sofa bersebelahan dengan dadynya.


"Mau berapa bulan suruh nyamar? aneh si Wisanggeni itu. Kenapa ngak terang - terangan aja sih," cetus tuan Henderson.


"ngak tahu dad, Jesyca juga udah mulai curiga sama Becker nih." keluh Becker menghembuskan nafas kesal.


"ngaku aja yang sebenarnya, paling si Jesyca langsung klepek - klepek sama kamu." ujar tuan Henderson.


"No, dad. Tujuan Becker menyamar jadi Geo itu, supaya Jesyca merubah sifat buruknya." ujar Becker seraya menyerobot cake yang ada di atas meja.


"Jadi, Jesyca sebenarnya bukan gadis baik -baik?" selidik tuan Henderson.


"dia baik dad, cuma dimanja sama om Wisang dan tante Famala aja. Karena dia anak tunggal," papar Becker pada sang dady.


"yah, semoga rencana perjodohan kalian berjalan mulus. Dady berharap kamu dapat melukuhkan hati Jesyca," ujar Henderson pada anak laki - laki pewaris usahanya.


"Thanks dukungannya dad, Becker pergi ke kamar dulu mau istirahat." pungkas pria itu lalu pergi meninggalkan sang dady begitu saja.


••••


Dalam kamar Becker, setelah membersihkan badan dia langsung berbaring di tengah kasur empuknya. Dia mencoba memejamkan mata, tetapi tidak bisa bayangan Jesyca hadir menari di fikirannya. Becker jadi gelisah karena Jesyca gadis yang tidak pernah terlintas di dalam hidupnya, membayangkan saja malas. Apa lagi berteman akrab dengan gadis seangkuh Jesyca, mungkin takdir tuhan saja Jesyca saat ini lewat dalam hidupnya.


Ternyata Becker diam - diam menyimpan foto gadis sombong itu di dalam ponsel pintarnya, dia mencuri saat Jesyca di dalam club bersamanya waktu itu. Tempat favorit Geo alias Becker, namun dia tidak setuju jika tempat happy - happy duniawi itu menjadi rumah kedua bagi Jesyca, dia harus berusaha sekuat mungkin untuk menghilangkan kesukaan negatif Jesyca. Apa lagi dia anak gadis, gadis yang sedang di incarnya selama ini.


Wajah ayu Jesyca di pandangi oleh Becker, di elus seperti foto kekasihnya saja. Perasaanya setiap hari bercampur aduk setiap menatap foto atau sedang bersama Jesyca. Berharap dalam hati gadis sematawayang tuan Wisanggeni itu sama sepeti isi hati Geo alias Becker.