I Love You Driver Handsome

I Love You Driver Handsome
Bab. 12 Cie Becker



"Kamu tuh mirip ya sama itu tuh, pemain bola." Naya mengingat seseorang di otaknya, yang kala itu pernah ia lihat atau jumpai.


"Pemain bola?" Becker memiringkan kepala dan menyipitkan kedua matanya.


"iya, mirip banget. Malah sama, atau dia emang kembaran kamu." ujar Naya posisi berdirinya lebih didekatkan pada depan tubuh Becker.


"Ah, ngak. Cuma sama aja kali, " jawab Becker santai.


"Geo, ke kantin yuk. Biar aku yang tlaktir ya,please!" pinta Naya memohon kedua telapak tangannya di telangkupkan.


"boleh, ga usah kamu tlaktir deh. Biar aku aja yang bayarin," sahut Becker, dia melangkah kearah kantin kampus.


"yes," sorak batin Naya.


"thanks ya, " ucap Naya berjalan beriirngan dengan Becker.


"wellcome, " Becker tersenyum manis.


Geo alias Becker dan Naya duduk di kursi tengah kantin. Mereka memesan menu yang ada di kantin tersebut, karena Naya suka nasi goreng special dia memesannya. Sedangkan Geo memesan jus melon dan nasi goreng juga, tak selang beberapa lama pesanan mereka diantar ke meja.


"Kamu suka nasi goreng ya?" tanya Geo bin Becker.


"suka banget, apa lagi makan bareng kamu." jawab Naya seraya melilitkan jarinya ke rambut.


"Kenapa gitu?" tanya Geo.


"hmmm, ngak sih seneng aja." kata Naya.


"ya udah, di makan dong." ujar Geo mempersilahkan Naya menyantap menunya.


Pandangan mata Naya tak lepas dari wajah pria tampan didepannya, mereka saling mengobrol. Naya terus menyelidiki Geo, bertanya dari mana asalnya dan sebelumnya bekerja dimana. Geo hanya mengaku bahwa dia berasal dari kampung pulau sebrang yang jauh dari kesibukan ibu kota seperti Jakarta ini. Dia juga mengatakan jika pernah kerja ke luar negri karena menjadi tenaga kerja Indonesia, setelah itu Geo bekerja untuk keluarga Wisanggeni dia benar - benar pandai menutupi yang sebenaenya.


"Astaga, kamu pekerja keras yah. Beruntung lho nanti istri kamu Ge," puji Naya.


"aku biasa aja Nay, lagian mana ada sih yang mau sama supir kaya aku. Udah miskin, jelek lagi." sambung Becker merendah.


"eh, jangan gitu dong. Suatu saat ada yang tergila - gila sama kamu," imbuh Naya.


"emang ada? siapa sih dia?" kelit Geo.


"ya ngak tahu, pasti ada suatu hari nanti. Cewek yang bakal nerima kamu apa adanya." ujar Naya menyunggingkan senyuman kudanya.


Becker hanya mengaggukan kepala, menikmati segelas jus yang ada di depannya. Siang ini lumayan panas membuat tenggorokan terasa panas dan sebentar - sebentar haus.


Sepasang mata cantik sedang mengawasi dua orang yang duduk di kantin berdua, jantung pengawas itu panas membara bagaikan tersengat api dari kompor meleduk diiiaaarrrr....!!!


"ba***gan, lo**te Naya." umpat Jesyca dalam hatinya.


Namun punggung wanita itu di tepuk oleh seorang pria seumuran dengannya.


"Jes, ngapain loe. Ayok makan," ajak Jhodi.


Pemuda yang diam - diam suka kepada Jesyca tetapi tidak berani mengungkapkanya.


"eh, Jhod. Oke ayuk," jawab Jesyca sedikit terkejut dengan tepukan tangan di pundaknya.


Jesyca dan Jhodi jalan melewati Naya dan Geo, tetapi pura - pura tidak tahu kalau mereka duduk disitu. Naya ketakutan, jika nanti sahabatnya marah karena telah berjalan dengan sang pengemudinya.


"aduh, please deh jangan marah ya Jes." lirih batin Naya, kepalanya menunduk menutupi wajahnya dengan tas.


Begitu juga si Geo alias Becker, dia pura - pura tidak tahu kalau majikannya duduk di meja sebrangnya. Hati Becker gemuruh mungkin dia merasa cemburu kepada Jesyca, karena pria yang duduk bersama wanita impiannya itu juga tak kalah tampan penampilannya steel seperti Geo menjadi Becker yang sebenarnya.


"semoga bukan pacarnya," kelit Geo dalam hati.


"Geo, udah yuk balik ada itu...." tunjuk Naya.


"Oke," jawab Geo singkat mereka bangkit dari tempat duduk dan Geo pergi kekasir.


"Ganjen banget sih loe, sama supir gue!" geram Jesyca, tangan kanannya kuat mencekram rambut Naya.


"sorry, Jes. Kenapa loe semarah ini? diakan cuma supir," keluh Naya menahan rasa perih di kepalanya.


"heh, supir gue itu jalannya harus sama gue. Bukan sama cewek gatel kaya loe!" sentak Jesyca masih mencengkram kuat rambut Naya.


"lepasin Jes, sorry gue ngak akan ngulangin." lirih Naya memohon.


BRUKK!!


Tubuh Naya didorong oleh Jesyca, karena tak kuat menahan emosi yang begitu dahsyat di hatinya. Kemudian datanglah si Becker dengan berlari terpongoh - pongoh ke arahnya,


"Jesyca! kamu apain Naya?" bentak Geo dengan suara keras.


"Oh, jadi loe lebih ngebela dia timbang gue majikan loe ha!" tukas Jesyca.


"gue ngak bela siapapun! tapi loe ngak lebih baik dari Naya, loe liar!" ujar Geo dengan nada suara yang masih keras.


"sial," batin Jesyca.


"sukur loe Jes," batin Naya tersenyum miring.


"Dan loe itu ngak berpri kemanusian! angkuh!" bentak Geo lagi.


Jesyca hanya terdiam mendengar ucapan Geo, mulutnya terbuka bulat ternyata Geo benar berani kepadanya. Jesyca merasa kalau dirinya memang seperti yang di katakan Geo, gadis itu melangkah pelan pergi meninggalkan Naya yang tersungkur dan Geo.


Tak terasa air matanya menetes ke pipi, langkah kaki Jesyca seperti tertahan. Fikirnya dia telah lumpuh, dia sangat sakit hati mendengar ucapan dari bibir Geo. Tubuh indah Jesyca Anggelin terjatuh dan si Jhody tiba - tiba saja langsung sigap dari belangkang menamgkapnya.


Akhirnya Jhodi menggendong tubuh Jesyca dan di gotong ke dalam clinic, terlihat oleh Geo juga yang sedang berjalan menuju parkiran bersama Naya, Geo segera mengikuti langkah Jhodi yang mengendong tubuh Jesyca.


"kenapa dia? Jesyca kenapa?" tekan Geo pada Jhodi yang masih menggendong tubuh Jesyca.


"sibuk banget loe, bukannya asisten dia malah ngebela orang lain." geram Jhodi yang tidak faham puncak permasalahannya.


Sesampainya di clinic Jesyca di letakan pada ranjang. Seorang perawat yang bertugas di kampus itu memeriksa tubuh Jesyca.


"dia kenapa mbak?" tanya Geo pada perawat perempuan berjilbab putih itu.


"cuma shock mas, kayaknya punya penyakit asma deh mbaknya ini." jelas mbak perawat.


"sebaiknya, dibawa langsung aja kerumah sakit." imbuh mbak perawat lagi.


"Oke, mbak thanks." ucap Geo gugup, dia keluar dan....


"Nay, tolong jagain Jesyca aku mau ambil mobil bawa kesini. Jesyca harus di bawa ke RS." papar Geo.


Naya terkejut, dengan sergap dia masuk ke kadalam ruang perawatan di dalam. Dia merasa bersalah pada sahabatnya.


"Jes, maafin gue." lirihnya.


" kalian, kenapasih tumben berantem?" selidik Jhodi yang duduk di samping ranjang Jesyca.


"kepo loe, pergi sana. Jesyca udah ngak butuh loe." usir Naya pada Jhodi.


"An**ng sialan. Kalau bukan Jesyca gue ngak sudi nolong!" cetus Jhodi seraya berjalan keluar dari ruang rawat.


Mata Jesyca tertutup rapat tetapi telinganya dapat mendengar samar - samar, nafasnya tidak beraturan terasa sesak di dada.


Beberapa menit kemudian, Becker masuk ke ruang rawat bersama mbak perawat tadi dan Becker menggendong tubuh Jesyca keluar memasuki mobilnya.


"Geo, aku ikut." pinta Naya.


"iya, masuk cepat." jawab Becker tergesa - gesa, deru nafasnya memburu cepat.


Dia memacu mobil sang juragan yang dicintainya itu dengan kencang dan teliti.