
"Besok kita prepare ke Belanda sayang, soalnya aku udah di tunggu sama club bola di sana," ujar Becker memberi tahu istrinya.
Jesyca mengeryitkan dahi, sebenarnya dia belum ingin meninggalkan negri Spanyol yang indah. Jesyca masih ingin menikmati suasana romantis di negara Dora theexploler.
"Kamu dengerkan sayang!" sungut Becker suaranya meninggi.
"Eh, denger loe kira gua budeg," sahut Jesyca meruncingkan bibirnya.
"Dasar BIMOLI," ledek Becker.
"Apaan sih, sebel." Jesyca bangkit dari sofa di balkon, ia berjalan menuju kamar hotel.
"Yaelah, si aneh ngambek lagi." imbuh Becker mengikuti langkah istrinya.
Dan langsung memeluk dari belakang, dia menindih tubuh sang istri. Jesyca jadi sedikit sesak nafas tangannya meraih kepala Becker dan langsung menjambaknya.
"Rasain ya, ngatain gue BIMOLI!" ucap Jesyca ia membalas dendam.
"Sakit, huhuhu...." tangis Becker pura -pura seperti menghibur anak kecil yang sedang marah.
"Sukur, emang BIMOLI apaan sih sayang?" Jesyca penasaran.
"Bibir monyong lima senti, hahahaha...." renyah Becker sampai terguling - guling di kasur.
"Rese! ah, awas kamu ngak aku kasih." ancam Jesyca.
"Bodo, weeek," lidah Becker di keluarkan sedikit.
Langsung saja Jesyca merapihkan semua barang bawaanya yang akan di bawa pindah ke Belanda, Becker juga membantu sang istri memasukan baju ke dalam koper, bibirnya bersiul - siul menirukan sebuah lagu romantis membuat Jesyca menghentikan aktivitasnya.
"Sayang," panggil Jesyca seraya berjalan mendekat.
"Hmmm," hanya jawaban dehem dari Becker.
Jesyca memeluk sang suami dengan erat, hawa musim dingin menjadi berubah hangat di dalam kamar hotel itu. Becker membalas dekapan sang istri, dia heran dengan Jesyca tiba - tiba saja memeluknya.
"Why honey?"Becker bertanya.
" Kamu bahagiakan dengan aku?" tanya balik Jesyca.
"Ya jelas bahagia dong sayang, kamu itu bukan cuma pilihan momy, dady tapi aku juga. Dan kita sampai tua nanti akan tetap berpelukan seperti ini." ungkap Becker panjang.
Jesyca menatap condong keatas, melihat sinar mata maya Becker. Disana tergambar ketulusan, tetapi entah mengapa hati Jesyca sedikit mengganjal dengan ketulusan cinta Becker.
"Ada apa sih? jangan ngliatin gitu," cetuk Becker seraya merapatkan pelukannya.
"No," Jesyca menggelengkan kepala.
Becker mencium bibir Jesyca dengan lembut suasana semakin hangat seperti pemanas ruangan di tempat itu. Jesyca menerima serangan ciuman Bekcer tangannya semakin erat memeluk tubuh kekar sang suami, perlahan Becker sengaja menjatuhkan diri di ranjang. Tanpa melepaskan sentuhan di bibir Jesyca mereka saling tindih menindih.
Ciuman semakin panas tangan nakal Jesyca sudah berani menyentuh area sensitif milik suaminya. Becker sangat menyukai Jesyca yang sekarang dia lebih berbeda dari yang dulu ia kenal, kini ganas dan sering ketagihan dengan sentuhan cinta Becker.
"I love you," ucap Becker melepas ciumannya.
"Love you to, very much. Tanpa kamu aku ngak bakal nemuin cinta seindah ini," jawab Jesyca masih menindih tubuh Becker.
"Semua karena keteguhan cintamu," imbuh Jesyca lagi.
Becker memeluk Jesyca dengan erat, hari sudah semakin siang namun musim di negara Spanyol dingin jadi tidak terasa kehangatan raja dunia.
Sampai lupa jika dia harus cepat sampai di Belanda hari ini juga, lalu Becker melepas pelukan sang istri. Diapun bangkit di ikuti Jesyca juga langsung melanjutkan mengemasi barang - barang yang tadi masih tersisa. Karena Becker belum mandi, diapun pergi ke kamar mandi dan mandi menggunakan air hangat.
••••
Dengan menempuh perjalanan udara 2 jam tiga menit, sampai di tempat tujuan di bandara internasional Amsterdam. Becker dan Jesyca di jemput oleh bodyguard tim club sepak bola, mereka berjalan hingga ke parkir area dan menaiki mobil sedan buatan negara itu sendiri, cukup mewah dan elegan juga. Empat puluh menit dari bandara untuk menuju apartement tempat tinggal Becker juga Jesyca selama sang suami di kontrak oleh club negara pabrik kue wafer tersebut.
"Gimana? kamu suka ngak sayang?" tanya Becker pada Jesyca.
"Suka," jawab Jesyca singkat seraya tersenyum manis kearah Becker.
"Syukur deh, kalau gitu istirahat aja dulu sayang." perintah Becker.
"He'emmmm.... aku emang mau istirahat kok, capek banget." Jesyca menguapkan kantuknya.
"Eh, sampai lupa. Kamu laperkan?" tanya Jesyca pada Becker.
"Udah, jangan kawatir. Nanti aku beli delivery," jawab Becker santai.
"Thankyou, sayang I love you. Pergi bobok duluyu ya bye," pamit Jesyca.
"Well, me to babe," jawab Becker seraya mengecup kening Jesyca.
Becker melanjutkan beberes barang bawaannya tadi, waktu di Amsterdam telah menunjukan pukul sepuluh lewat duapuluh lima menit malam, setelah pejerjaanya selesai dia melihat ke dapur, ada beberapa roti, sayur dan gading frozen yang di belikan oleh penjemput orang club bola tadi.
Pria gagah itu, langsung membuat makanan simple kesukaanya. Salad dan roti sanwich isian daging, ketika sudah selesai dia langsung melahap semua makanan itu dan menaruh di kulkas satu potongan sanwich untuk sarapan sang istri di esok pagi hari.
Setelah menyikat giginya dia langsung ke tempat tidur, ia membaringkan badan di samping Jesyca dan tidur memeluk sang istri.
Hingga pagi hari.
••••
Pagi hari di kota Amsterdam.
Jesyca bangun lebih awal untuk membersihkan diri, walaupun hari itu musim masih dingin seperti di Spanyol kemarin. Rasa tubuhnya lengket karena sudah tidak tersiram air selama dua hari, karena hawa cukup dingin mencem membuat orang - orang penghuni benua Eropah enggan untuk membersihkan diri, terkadang ada juga yang tiga bulan berturut - turut hanya mengosok gigi dan tidak mandi. Karena saking dinginnya membuat bulu kuduk berdiri penduduk disana terbiasa seperti itu di kala musim dingin maupun badai salju datang.
Hidup di negara mempunyai empat musim memang ada tantangan tersendiri, pertama kali Jesyca menginjakan bumi Eropa dia langsung terkena serangan flue. Beruntung Becker membawanya ke dokter cepat, dan obat di Eropa sangat baik juga tenaga medis disana menangani pasien dengan tangkas.
Pagi itu, setelah membersihkan diri terlihat Becker masih terbaring di ranjang. Jesyca sengaja tidak membangunkan dan bergegas pergi ke dapur samping ruang tamu. Ia membuka kulkas dan mendapati roti sanwich yang dibuat oleh suaminya semalam.
"Lumayan deh buat ganjal perut, hmmm masak apa ya hari ini?" Jesyca berfikir sejenak.
"Eh, kan gua ngak bisa masak apapun. Mampus dah. Dibawah ada lestoran ngak sih," matanya seraya melirik ke kaca besar di dekat kursi sofa ruang tamu.
Di bawah terlihat lestoran Asia milik orang China, terlihat bangunan tua tepat pada depan apartement yang Jesyca duduki hanya bersebrang jalan.
"Yes, tuhan emang adil." pekiknya bahagia melihat lestoran tersebut.
Becker memang sengaja mencari tempat dimana banyak makanan Asia, karena lidahnya juga terlalu jatuh cinta dengan masakan benua ibu yang telah mengandungnya.