
Pagi sekitar pukul sembilan waktu Melbourne, Naya juga Linda turun dari lantai atas menuju kebawah apatement sewaanya.
Ketika dua gadis manis itu sampai di bawah, tempat security Naya matanya melotot tidak percaya dia melihat Revano berdiri di sana.
"Hai, selamat pagi," sapa Revano pada Naya.
"Sepagi ini, cie demi cinta udah rela pagi - pagi kemari lho Nay," cetuk Linda seraya terkekeh.
"Ngapain loe disini?" selidik Naya sadis pandangannya.
"Mau ngejar cintaku," alih Revano tersenyum polos.
"Ck, basi!" ketus Naya.
Gadis itu berjalan cepat, tidak menghiraukan ucapan Revano sedangkan Linda ikut mengejar Naya. Keduanya akan pergi ke toko Asia untuk mencari bahan makanan mingguan.
Terus saja Naya berlari menjauh dari Revano, membuat Linda yang mengejarnya sampai ngos ngosan nafas gadis itu, tak mau tinggal diam Revano mengikuti dua gadis itu hingga memasuki toko Asia yang di tuju Naya dan Linda.
"Apa yang mereka ambil, biar saya yang membayar dan ini uangnya." ucap Revano pada penjaga kasir dalam bahasa Inggris Australia.
"Baik tuan, terimakasih." jawab kasir perempuan Tiongkok itu.
Revano berdiri di luar emperan toko sambil menghisap rokok di mulut yang ia runcingkan, berharap Naya akan luluh hatinya dan jatuh cinta padanya.
Karena Revano sangat yakin jika Naya juga mencintai dirinya.
Setangah jam setelah Naya dan Linda memilih barang belanjaan bahan pokok,
"Udah Lin, ayok keluar," ajak Naya.
"Iya, kita bayar dulu yuk." alih Linda.
"Eh, oke," seru Naya.
Seraya berjalan ke kasir.
"Gue benci sama...." geram Naya suaranya terputus.
"Revano," tebak Linda.
"Iya Lin, tepat. Benci aku dia gayanya ngejar gue terus gimananih," ucap Naya yang memang kebingungan.
"Kayaknya, dilihat dari pola cara dia ndeketin loe emang serius." ujar Naya.
"Ngak Linda," sanggah Naya.
"Dan loe, sayang sama diakan?" desak Linda, seraya memegang pundak Naya dan kini keduanya saling berhadapan.
"Yakin, masih mau mengharapkan suami loe yang hanya cinta utang bokap loe itu Nay!" imbuh Linda menatap mata Naya tajam.
Naya mengeluarkan nafas dari dalam tubuhnya sekuat tenaga, fikiran gadis itu kembali teringat kejadian yang menimpa dirinya sekitar dua tahun lepas.
Air mata gadis itu menetes sesaat tegananya seperti letih terkuras, entah harus merasa bersalah atau Naya yang paling benar.
"Loe ceritakan, ke breng* ek itu?" tanya Naya pelan.
"Ngak Nay, tapi di surat kabar Indo. Loe dikabarkan hilang dan yang nyebarin itu suami sah loe. Itu semua gue dan Jesyca yang menutupi," jawab Linda gamblang.
"Hah, ja-jadi selama ini gue di kabarkan Jefri hilang." ucap Naya sendiri, pelan hingga manusia di sekitarnya hanya tahu akan ekspresi mimik kesedihan di wajahnya.
"Iya Naya!" kata Linda agak keras.
"Thanks, Linda. Gue mau pulang ke Indo," ujar Naya bersemangat.
"Buat apa?" Linda mengerutkan keningnya.
"Mau minta maaf sama nyokap, dan cerein Jefri. Terus mau bayar semua utang sitaan tanah," jawab Naya serius.
"Oh, oke gue kasih loe libur sebulan," sahut Linda.
"Jangan, kelamaan." potong Naya.
"Jadi?" Linda heran.
"Seminggu saja, habis itu gue akan kembali lagi kemari sama keluarga," ucap Naya seraya menghapus sisa air matanya sendiri.
"Bagus, gue setuju aja. Mending ajak keluarga loe kemari dan biar adik sematawayang loe kuliah disini." kata Linda memberi semangat Naya.
"Hmmm, oke ayok ke kasir." ajak Naya.
Keduanya berjalan ke arah kasir yang terletak di depan pintu masuk, tampak seorang perempuan China tersenyum ramah kepada mereka berdua.
"Nona - nona, tidak perlu membayar." ucap sang pelayan toko Asia itu, logatnya kental khas Mandarin.
"Lho, tapi kami belum scand semua belajaan." Naya membenarkan.
"Sudah dibayar sama itu," tunjuk sang kasir keluar ruangan ruko.
Tampak Revano berdiri membelakangi mereka.
"Astaga, nekad banget sih." kelit Naya, seraya memdenguakan nafas kesal.
"Revano, yaamplop romantis dia Naya. Berani korban demi cinta," ujar Linda terkekeh bahagia.
"Sialan!" gerutu Naya.
"Thank ya ci," alih Linda.
Lalu kedua gadis itu keluar dari dalam ruko membawa dua masing - masing tentengan kardus tempat wadah sayur dan buah.
Naya menghampiri Revano.
"Btw, thanks ya. Nih belanjaan loe, buat nyokap loe tuh suruh masak yang enak." cecar Naya, seraya meletakan barang belanjaannya ketangan Revano.
"Eh, ini bukan belajaan gue culun!" tampik Revano.
"Itu, katanya cici yang di dalam loe bayarin, jadi itu barang belanjaan punya loe preman!" sanggah Naya pada Revano.
"Tapi ini buat loe Nay, gue beneran cinta sama loe. Kenapasih ngak ngerti!" kata Revano. Seraya berjalan mengikuti Naya yang sudah cepat di depanya.
Lindapun buru - buru menyusul mereka, dan akhirnya berjalan bertiga seperti waktu tidak sengaja bertemu di aquarium raksasa milik kota Melbourne itu.
"Revano, tolong loe jauhi gue." ucap Naya ia berhenti melangkah.
"Gue hargai perasaan yang loe berikan sama gue," tambahnya Naya.
"Terus, kalau gue maunya ngejar cinta loe sampai dapat," timpal Revano.
Linda yang menyaksikan mereka berdua hanya tersenyum kaku, dan mengamati keduanya saling bertatapan penuh mesra.
"Rese, jadi obat nyamuk gueh," batin Linda.
"Ngak bakal itu terjadi Rev," sela Naya, dengan ucapan Revano yang barusan.
"Kenapa? bukannya loe jomblo kaya gue," ujar Revano menyipitkan kedua matanya.
"Terima napa sih Nay! gue timpal pake kentang pala loe biar tau rasa," alih Linda mengancam Naya.
"Gue...."
"Terima!" sahut Linda ketus, membelalakan kedua matanya.
"It's oke Naya, kalau loe belum jatuh cinta sama gue. Revanomu ini akan nungguin sampai loe sadar cinta atau ngak ke gue," celetuk Revano.
Pria itu meletakan barang belanjaan Naya di bawah kakinya, tepatnya lantai jalanan yang tertata rapih dengan batu bata alami.
"Naya!" tukas Linda.
Revano pergi meninggalkan Naya yang masih berdiri mematung, ia melihat kepergian Revano. Di dalam hati menyesal karena sebenarnya dia sangat merindukan Revano
"Maafin gue Rev," lirih Naya dalam hati.
"Tuh, napa diam. Gue ngak jadi kasih loe cuti balik Indo, ya." ketus Linda kesal,
Lalu ia berjalan meninggalkan Naya yang tengah berdiri mematung.
"Tunggu woi!" teriak ) Linda pada Revano.
Pria itu sudah pergi dengan cepat, Linda menyusul dengan tergesa - gesa menahan nafas yang tidak teratur.
Sedangkan Naya berjalan pelan langkahnya seperti tertahan, dalam benaknya ingin mengungkapkan sejujurnya namun takut Revano patah hati setelah tahu siapa Naya sebenarnya.
"I'm so sorry, semoga kamu cepat ngerti keadaanku Revano." ucap Naya dalam hati.
Di tempat yang agak jauh dari Naya, Linda sudah berada di samping Revano. Mereka berdua jalan bersamaan, Linda memberi semangat pada Revano.
"Gue yakin, kalau Naya jatuh cinta sama koe Rev," cetuk Linda.
Revano menoleh kesamping sambil melanjutkan jalan kaki.
"Gue tetap akan menunggu, sampai dia cinta ini tulus apa ngak. Dan satu dari awal emang gue liat Naya udah jatuh cinta. Sejak dari pertama!" ungkap Revano nada kalimat belakangnya semangat membara.
"Gue akan bantuin, tapi mungkin minggu ini Naya akan pulang ke kampung halamannya. Dia berencana akan boyong keluarganya kemari," papar Linda.
"Itu bagus, ngak butuh bantuan loe, gue tunggu Naya sampai jatuh cinta dengan Revano ini." tambah Revano, lalu pergi berjalan meninggalkan Linda.
"Oke," singkat Linda.
"Sialan tuh, mantan berandal udah gue tawarin bantuan malah sok - sokan cih! " dengus Linda kesal.