
Sebuah rumah dari papan kayu bergaya klasik panggung berdiri kokoh di kebun kopi milik Jefri. Ya, itu adalah rumah baru untuk keluarga Ilyas, karena Jefri punya hati kepada sesama manusia walaupun dirinya sudah dibuat kecewa oleh orangtua Naya.
Ilyas sekarang tidak mempunyai kebun kopi, sawit dan perusahaan garmen lagi. Pasalnya Ilyas telah mengalami kebangkrutam yang luar biasa setelah pandemi covid -19 tahun lepas. Pinjaman bermilyar tak sanggup lagi ia bayar, terpaksa semua asetnya disita oleh bank yang memberinya pinjaman.
Pagi itu, Ilyas sedang membersihkan rumput di kebun dekat rumah barunya, bu Kartini membawakan segelas teh hangat untuk suaminya.
"Pagi pa, ngeteh dulu nih." tawar bu Kartini seraya meletakan segelas teh besar di dekat batu lempeng.
"Makasih ma," singkat pak Ilyas wajahnya tak menoleh ke istrinya.
"Istirahat dulu pa, jangan capek - capek nanti sakit." tambah Kartini diapun duduk beralaskan bebatuan.
"Hmmm, udah sakit hati malu sama tetangga sekampung ma, Naya minggat. Usaha kacau." racau pak Ilyas meratapi nasibnya.
"Kita sedang di uji pa, maafin mama gara - gara Naya jadi jaminan hutang jadi pergi," ucap Kartini sendu menahan tangis di tenggorokannya.
"Percuma ma, kita nyesel juga papa berdo'a aja semoga Naya baik - baik saja." ungkap Illyas.
"Huuuh, mamapun demikian."
"Davi udah berangkat kerja?" tanya Ilyas mengalihkan pembicaraan.
"Udah tadi, mama kasihan Dava ngak bisa kuliah. Apa lagi Naya udah mau ujian malah ngak bisa ikut," Kartini mengeluarkan air matanya.
Pak ILyas terdiam tidak melanjutkan apapun lagi agar istrinya tak lagi bersedih. Sekarang pekerjaan mantan kolongmerat itu adalah bertani ke kebun sehari - hari untuk mencukupi kebuhtuhan hidupnya, anak keduanya Dava juga bekerja di perkebunan sawit milik Jefri yang statusnya masih kakak ipar Dava adik sematawayang Naya.
••••
Seorang pria bertubuh tegap gagah perkasa, sedang berdiri tegap di balkon dia tengah menatap pemandangan perkebunan di sekitar rumahnya. Usianya yang sudah sangat matang sekarang mengijak kepala empat, namun sayang cintanya telah gagal hingga ke tiga kali pertama dulu dirinya menikahi seorang janda beranak dua, seminggu setelahnya meninggal dunia tanpa sebab.
Cinta kedua, anak dara putri dari seorang bupati yang telah berhenti masa jabatannya berakhir dengan perceraian alasan orang ketiga. Dan yang terakhir dia menikahi anak gadis yang sangat ia cintai namun orangtuanya menjaminkan gadis tersebut dengan hutang piutangnya, siapa lagi kalau bukan Jefri.
"Sudah tiga kali aku menikah, satu perempuanpun tidak ada yang bertahan walaupun sekejap." kilah Jefri merenungi nasibnya.
Jefri bersama dengan abdinya, seorang pria bertubuh besar juga kekar berdiri di belakangnya.
"Bagaimana? apa tidak ketemu si Naya itu?" selidiknya pada pria bertubuh besar di belakangnya.
"Menurut informasi, gadis itu berada di Jakarta. Sekarang Roni tengah menyelidiki dimana Naya tinggal," ujar Toni pria abdi setia Jefri.
"Aku harap, kalian dapat menemukan Naya Afrianti istri sahku. Secepatnya!" Jefri mengglegarkan suara datarnya.
Bodyguard itu menggauk faham ia segera pergi meninggalkan sang majikan. Jefri masih menatap pemandangan di sekitar perkebunan rumahnya, tatapanya kosong fikiran pria itu tertuju pada Naya. Dia sungguh resah, nomor telfon milik Naya tidak dapat dihubungi setelah kepergian gadis yang ia cintai itu.
"Naya, pulanglah kepangkuanku. Aku mencintaimu dengan tulus." lirihnya sendiri.
Tak terasa air mata pria kuat itu jatuh jua, karena di dalam lubuk hati yang terdalam ia sangat mendambakan Naya. Sejak bu Kartini meminta Jefri menikahi Naya untuk jaminan hutang kekuarganya, namun Jefri di dalam hati mengucap cinta tulus murni kepada Naya. Akan tetapi balasan Naya hanyalah angin belaka, dia malah pergi di hari bahagia mereka. Naya tidak mencintai Jefri.
*
*
*
*
Jesyca terkejut membaca surat kabar online milik perusahaan negara Merah Putih itu. Dengan tajuk Naya hilang langsung saja ia membaca dengan teliti, apakah benar jika Naya yang hilang itu adalah temannya?
Wanita itu segera menghubungi Linda, sahabatnya. Melalui chat pesan singkat di sebuah aplikasi Jesyca menanyakan hal yang ia baca di koran online dan mengirim tautan tersebut kepada Linda.
Linda yang berada di Melbourne sedang menjalankan pekerjaannya terkejut membaca pesan dari Jesyca. Lalu, Linda menceritakan semuanya tentang Naya, Jesyca akhirnya mengerti dia mencari cara agar Naya dapat terhidar dari media tentang hilangnya sahabatnya itu.
"Gimana kalau kita bungkam semua wartawan?" usul Jesyca melalui voice note sebuah aplikasi pesan singkat.
"Kayaknya oke juga, sekalian kita suap itu k*pold* metr*jaya. Ya agar ngak nyariin Naya kita tutup kasusnya," sanggah Linda di dalam voice note pula.
"Aku setuju, jangan kasih tau Naya." Jesyca mengetik kata tersebut dan di kirimkan ke Linda.
Onwer perusahaan perempuan muda pemilik sepatu bermerek itupun menyetujui permintaan Jesyca.
"Setuju, ingat semua ini hanya demi persahabatan kita utuh Jes," balas Linda di pesan singkat.
Jesyca membalas dengan stiker jempol besar dan senyum mengembang. Ia meletakan handphonenya di tepi ranjang dan tidur memeluk Becker yang sudah beberapa menit lalu telah memejamkan matanya.
Ia sejenak memandangi wajah suami tampannya itu, lalu mengecup bibir manis Becker dan Jesyca tertidur dengan kehangantan pelukan Bryan Alison Becker.
••••
Sedangkan Linda masih duduk termangu menikirkan nasib sahabatnya yang di kabarkan menghilang, padahal sekarang Naya bekerja untuk Linda. Sungguh sesuatu seperti kasus Naya mungkin tidak pernah terjadi di hidup sahabatnya tercinta.
"Moga aja Naya betah disini, dan ngak pernah denger berita hoaks tentang dia." lirih Linda.
Ia meletakan handphonenya di meja kerja, kursi yang ia duduki di putar ke arah belakang kini matanya menatap pemandangan gedung - gedung pencakar langit, dalam hati Linda berkata.
"Kasihan Naya, segitunya orangtua dia menggorbankan dirinya." ucap Linda dalam hati.
"Gue yang udah, enggak punya ortu pengen punya. Eh, giliran yang punya malah senaknya sama anak. Hmmm, dasar manusia," imbuhnya lagi.
Linda tidak habis fikir dengan kedua orangtua Naya, hingga nekat menikahkan putrinya kepada pria yang tidak di cintai Naya.Linda berharap semoga dirinya dapat menemukan keindahan walaupun mendiang kedua orang tuanya telah meninggal dunia.
"Tenang mommy, daddy semoga tuhan kudus memberimu sorga yang indah," do'a Linda kepada tuhan yang ia percaya.
Karena Naya sudah mulai bekerja di kantor milik Linda, hari ini dia akan mengajak Naya untuk makan siang di luar gedung kantor.