
Seorang pria kira - kira berumur empat puluhan tahunan, sedang berdiri di samping lapangan sepak bola. Mata tajamnya menatap para pemain dengan teliti, mereka sedang melakukan latihan rutin pada setiap minggunya. Matheow adalah pelatih sepakbola yang paling terbaik juga pandai di Asia, pria itu keturunan Afrika tepatnya negara Ghana Matheow berdomisili di Indonesia sekarang, dia menikahi artis keturunan melayu dan mereka hidup rukun bahagia.
Di tengah lapangan, Becker beserta teman lainya menggiring bola. Semakin hari gerakan Becker bertambah gesit dan lincah, membuat sang pelatih sangat mengaguminya. Di sisi lain ada seorang teman yang kurang menyukai keberadaan Becker selama ikut masuk di TIMNAS, dia adalah Domanic pria asli kebangsaan merah putih ia benci jika Becker yang jadi penyerang saat berlatih atau berlaga di medan pertandingan.
Kali ini Domanic mempunyai rencana jahat untuk menyingkirkan Becker dari tim sepakbola. Tetapi pria berwajah jawa polos itu tidak mempunyai dukungan kuat untuk mengerjakan rencananya, dia tetap teguh dan keras agar bisa menjadi apa yang dimau yaitu penyerang depan, itulah impiannya sejak kecil dan sekarang sudah dikuasai oleh Becker membuat dirinya tersingkirkan.
"Les't go Becker, tendang pakai kaki dalam. Kamu pasti bisa." ucap sang pelatih Matheow dari tepi lapangan.
Tidak ada angin ataupun badai, tiba - tiba Domanic yang menedang bola di depan Becker terlebih dahulu. Serempak, para teman lainnya bersorak sengit ke arah Domanic. Para pemain bola hanya melihat tingakah aneh Domanic belakangan ini.
" Dom, kamu itu sok - sokan. Dibandingin Becker ya jauh dibawahnya." tukas Salim saat berdiri di samping Domanic.
"Diem loe! bela aja terus si bule sok pinter itu, gue ngak suka." ujar Domanic dengan suara kasar.
Sementara Becker hanya tersenyum melihat tingkah Domanic, dia tidak pernah membenci Domanic si pria aneh dalam club bolanya itu. Matheow mengulurkan tangan seraya melambai memanggil Domanic agar mendekatinya, pria yang dipanggil itupun berlari kecil ke arah Matheow dan berhenti tepat didepan lelaki hampir separuh baya itu.
"Ya, Matheow?" tanya Domanic dengan wajah kusam berlumur keringat.
"Kenapa, kau tadi merebut bola dari timmu sendiri?" sentak Matheow seraya bercagak pinggang.
"oh itu cuma...." ucapan Domanic terputus.
"Cuma apa?" suara Matheow semakin kuat tanyanya.
"aaahhhmmm, refleks saja bukan maksud saya untuk menendang bola." papa Dominic pada Matheow.
"Saya lihat sendiri, itu sengaja." sahut Matheow sinis.
"tidak Matheow!, kenapa yang berhubungan dengan Becker adalah suatu kebenaran." Dominic meninggikan suaranya juga.
"oke, kau keluar dari tim ini sementara." usir Matheow , tangan kananya menunjuk keluar.
Mata Domanic terbuka lebar tak salah dengar suara sang pelatih mengusirnya keluar. Pria muda itu berjalan menunduk dan keluar dari lapangan, dalam hati Domanic menyumpah serapah Becker agar mati di terjang badai. Semakin bertambah benci pada Becker saja pria berkulit sawo matang dan berpostur pendek itu.
"Ingat. Ini belum segalanya," ucap Domanic dalam hati.
"aku akan berusaha untuk merebut hati Matheow." imbuh Domanic dalam hati, kakinya melangkah keuar dari lapangan.
Didalam hati kecil Becker, rasanya ingin pergi menghentikan Domanic karena dia kasihan pada temannya dalam satu tim.
••••
Hari berikutnya, di pusat perbelanjaan paling megah tepat di dalam cafe coffe and cake, tiga gadis sedang duduk bercengkrama menikmati hidangan menu cafe itu. Mereka adalah Jesyca, Linda dan Naya. Dimana ada Jesyca disitu ada Linda atau Naya, sudah seperti tiga serangkai saja walaupun setiap hari mendengar cacian maupun makian dari mulut Jesyca.
"Eh, tau ngak Jes. Pas waktu itu kita lihat bola ke stadiun hari itu?" sela Naya di tengah perbincangan mereka.
"Apa?" kelit Jesyca ingin tahu.
"Kami lihat Geo, sama asisten pribadinya naik mobil mewah." jelas Linda pada Jesyca.
"hahaha.... salah liat kali loe pada," ujar Jesyca terbahak.
"Eh, ngak lah. Mata kami ini belum rabun Jesyca!" tukas Naya membela dia dan Linda.
"Alah, masak supir gue pakek mobil mewah. Ya mobil gue lah paling." ujar Jesyca malah menyombongkan dirinya.
"Ga mungkin, pas kalian udah duluan pulang, aku telfon dia katanya lagi pergi kerumah saudaranya gitu. Ada hajatan atau pesta ala kampung mungkin," papar Jesyca.
"loe ngak percaya?kita ada fotonya," Linda menyodorkan hanphone ke arah Jesyca.
Deg!
"iiihhh.... mirip, aaa.... ngak yakin gue Lin, Nay." ucap Jesyca terbata setelah melihat foto di hp temannya, wajah pria itu memang persis mirip Geo sang supir pribadi.
"Gue, yakin kalau Bryan Alison Becker itu jelmaan Geo." imbuh Linda meyakinkan.
Sementara di ujung sudut mall terlihat pasangan muda mudi sedang bergandeng mesra menuruni eskalator. Gadis itu terlihat anggun rambutnya berwarna emas, kulitnya putih pucat seperti bule. Dan sang pria muda yang menggandengnya adalah Bryan Alison Becker, dari cafe terlihat jelas oleh mata Jesyca, dia tidak percaya jika ada mahluk tampan yang mirip sekali dengan Geo sang pengemudi pribadi Jesyca.
"itu, lihat mirip banget." tunjuk Naya pada pasangan yang melintas tepat di depan cafe.
"Iya Jes," imbuh Linda.
Jesyca langsung bangkit dari tempat duduknya, gadis itu mendekati pasangan yang bergandeng mesra. Tangan Jesyca, menepuk pundak pria yang mirip dengan Geo itu.
"Geo!" panggil Jesyca seraya menepuk punggungnya.
Becker terkejut, tapi dia segera berbalik badan dan menutupi rasa terkejutnya. Dan Taniapun ikut berbicara, gadis itu heran kenapa ada gadis asing memanggil sahanbatnya Geo, padahal jelas nama sahabat kecilnya adalah Bryan Alison Becker.
"Geo siapa ya mbak?" tanya Tania pada Jesyca.
"ya cowok inilah, supir saya iyakan Geo?" ucap Jesyca pada Tania dan pria itu.
"Ini Becker, pemain timnas masak supir mbak. Ya ngak mungkin dia orang terkaya di Asia lho," jelas Tania memuji pria di sampingnya.
"mmmaaasak sih, jelas loe Geo supir guekan?" tanya Jesyca lagi.
"bukan mbak, anda sepertinya salah orang." sela Becker menipu Jesyca yang terlihat panik.
"Kami permisi dulu," imbuh Becker pergi meninggalkan Jesyca yang terpaku melihatnya.
"ngak, loe Geo!" geram Jesyca. Dua pasangan muda mudi itu tidak menanggapi Jesyca lagi. Mereka pergi jauh meninggalkannya.
"Jes, udah ayuk balik aja." ajak Linda tiba - tiba dari belakang.
"Ayo Jesyca, jangan lesu gini." ucap Naya seraya memapah Jesyca di pundaknya.
"Mata gue belum buta, itu Geo supir pribadi gue. Kalian juga taukan," lirih Jesyca seraya di apit di pundak kedua temannya.
"loe baru percayakan, hari itu juga kita lihat orang itu." jelas Linda.
"sekarang gue percaya, kalau cowok resek itu nipu gue." ucap Jesyca masih lemas.
"biar kita selidiki aja, serahin semua ini ke kita," kata Naya.
"Loe pada selidiki deh, nanti kalau beneran Geo kalian gue bayarin uang gedung kampus loe semua." ucap Jesyca bersungguh.
"yes, kita pada penggang janji loe." Linda bersemangat empat lima, begitu juga Naya.
Mereka bertiga memasuki mobil mewah Jesyca dan di kemudikan oleh Naya.