I Love You Driver Handsome

I Love You Driver Handsome
Bab. 15 Flashback



Dua bulan sebelum penyamaran Bryan Alison Becker. 


                           ••••


"selamat datang, tuan muda Becker." sapa seorang pelayan rumah keluarga Henderson. 


"terimakasih," jawab Becker ramah pada sang pelayan. 


Di ruang tengah kediaman Henderson dan sang istri sedang menunggu kedatanga Becker. Karena tahun ini dan berikutnya dia disewa oleh negara untuk tim nasional sepak bola, nyonya Ratih begitu antusias saat melihat kedatangan putra sematawangnya. Beliau memeluk erat, karena rindu satu tahun tidak berjumpa. 


"Oh, anakku. Becker kamu semakin dewasa, tinggimu sudah melebihi mommy. " kata nyonya Ratih saat menyapa anaknya. 


"mommy, kitakan sering vidio call. " ujar Becker seraya melepas pelukan mommynya. 


Sedangkan dady Henderson juga ikut memeluk sang putra dengan erat. Beliau juga menahan rindu pada sang putra dan sekarang sudah bertemu di depan mata. 


"Daday, Geo apa kabar?" sapa Becker pada kedua orangtua kesayangannya. 


"We are oke. " ucapnya serempak. 


Setelah bercakap cukup lama selama tiga puluh menit Becker pergi ke kamarnya yang berada di lantai tiga. Diapun merebahkan diri di atas ranjang, memikirkan permintaan teman sang Dadynya. 


     Keseokan harinya, sekitar pukul 09.00 WIB pagi, Becker , Henderson dan Wisanggeni bertemu di sebuah hotel. Mereka sedang membicarakan perjodohan antara Becker dan Jesyca, putri sematawayang Wisang dan Famala. 


"saya harap, kamu bisa menerima perjodohan ini Becker." ujar sang Dady Henderson. 


"Tapi, kenapa saya harus menyamar sebagai driver?" Becker menggangkat kedua tangannya seperti orang muslim berdoa. 


"Maaf nak Becker, karena anak saya tingkahnya harus di perbaiki. " ucap tuan Wisang. 


"Saya ngak faham," Becker menggelengkan kepalanya dan memijit. 


"Begini Becker, anak om Wisang ini. Manja susah diatur dia tidak menyukai orang yang derajatnya dibawahnya. Dia  gadis angkuh," jelas Henderson pada Becker. 


"Jadi?" Becker belum faham juga. 


"tolonglah, ajari dia budipekerti yang baik. Om kira kamu mampu, karena Jesyca sudah sangat kelewatan. " papar tuan Wisang wajahnya memelas. 


"Karena itu, saya harus meluluhkan calon istri saya?" tanya Becker. 


"Iya, itupun kalau kamu setuju. Saya dan mamanya sudah sangat kewalahan. Tolong, kamu menyamar sebagai driver Jesyca Anggelin putri saya." kata tuan Wisang lagi. 


"samarin nama kamu, sebagai nama almarhum adikmu Geo." sambung tuan Henderson mengingat nama anak keduanya yang sudah tiada. 


"Jadi, aku harus berpura - pura jadi Geo. Tapi dad" sahut Becker mengerti. 


"Iya nak, kamu setuju ngak?" tanya sang dady Henderson. 


"setuju dad. " jawab Becker begitu mantap. 


"Om, sangat senang mendengarnya. Mulai besok pagi pergilah kerumah om," ujar Wisanggeni bersemangat. 


"Akhirnya, dadymu mau punya menantu." kekeh Henderson bahagia. 


"saya juga senang, tapi kalau misi Becker gagal. Hmmmm.... " tukas Wisang tertawa kecil seraya memainkan telunjuknya terkantung - katung maju ke depan. 


"Harus berhasil dong, " ucap Henderson bersemangat. 


"aku, yakin banget kalau Becker berhasil. " Wisang bersemangat. 


"Tapi, kalau seandainya penyamaran aku ketahuan om. Akukan familiar di seluruh dunia?" tegas Becker. 


"Kalaupun, ketahuan kalian akan tetap kami nikahkan." teguh Wisanggeni. 


Dua pria setengah baya itu, tertawa bahagia memdengar Becker menyetujui rencana perjodohan antara Becker dan Jesyca. Sejak saat itulah Becker  mengubah namanya menjadi mendiang Geo sang adik yang meninggal sejak lima belas tahun lalu. 


                           ••••


Sekarang


Di kompleks perumahan mewah, terlihat seorang gadis di sedang berlari pagi atau joging mengelilingi kompleks perumahan. Dia adalan Linda Kameru, sahabat kuliah Jesyca tidak sengaja saat lewat di gang perumahan mewah dia mendengar seorang pria sedang


melakukan percakapan telfon. Linda sangat tidak asing pada suara pria itu, diapun memdekati pagar besi bercat emas dan Linda melihat sosok Geo berdiri disana sedang berbicara dalam sambungan telfon bersama Jesyca.


"sorry, Jesyca aku ngak bisa hari ini ada acara keluarga." terdengar suara Geo dengan jelas, di dekat kolam ikan hias halaman depan rumah mewah.


"yes, bisa latihan bola lagi buat minggu depan. " seru Geo bersemangat.


Linda, yang mendengar suara jelas Geo terkejut. Dia sekarang tahu siapa Geo sebenarnya, adalah Bryan Alison Becker pemain sepak bola yang sangat di gandrungi oleh Jesyca sampai tergila - gila hingga ke ubun kepala sang sahabat yang memang bersifat gila.


"Tuh kan, kecurigaanku benar." ujar Linda, suaranya terdengar oleh Geo yang ada di tengah halaman rumahnya.


Geo alias Becker, mencari sumber suara itu dia berjalan keluar pagar dan ....


Seketika mata Geo membulat, melihat Linda berdiri tepat di depan pagar masuk halaman rumahnya.


"Li, li, Linda!" Geo terbata suaranya meninggi karena terkejut.


"Geo, loe bukan Geo tapi Bryan Alison Becker! loe nipu temen gue, sialan loe kenapa ngak jujur aja sih!" tukas Linda kesal dia bercagak pinggang.


"fuhhhhh, gue jelasin!" sahut Geo tak kalah keras dan masih gugup.


"Ini, karena permintaan om Wisang. Jesyca udah kelewatan benget dia harus di sadarkan dengan wujudku sebagai driver pribadinya. Dengan alasan, agar dia menghargai orang yang berada dibawahnya atau orang tidak mampu." jelas Geo pada Linda.


"iya juga sih, emang kebangetan mulut Jesyca. Gue dan Naya juga udah curiga pas loe main bola di stadiun tempo itu." kata Linda.


"Tolong, jangan loe kasih tahu ke Jesyca siapa gue sebenarnya. " pinta Geo berharap.


"Ada syaratnya, " ujar Linda.


"Apa?"


"Loe, harus pura - pura jadian sama Naya." cetus Linda memberi ide itu.


"Rumit, gimana kalau Jesyca ngak ngefek?" kelit Geo.


"ck, kayaknya gue lihat Jesyca mulai jatuh cinta sama loe. Dan loe ya siapa?" Linda menelangkupkan kedua tangannya ke dada.


"Becker,"


"Tembak Naya, di depan Jesyca." ide Linda .


"Yang lain dong, nlaktir loe kek beli apa gitu." pinta Geo memohon.


"Ogah, tembak Naya di depan Jesyca." ulang Linda kedua kalinya.


"Heh, loe ngak suka tas branded atau...."


"Gue ngak suka, dirumah udah setumpuk!" sahut Linda tegas.


"Ah, loe. Oke deh besok siang dikampus kalian. Kalau sampe Jesyca kena sesak nafas lagi, hmmm gue jodohin loe sama tuh...." tujuk Geo ke arah anjing peliharaanya.


"gila loe, emang gue animal." cetus Linda.


"Eh, tapi beneran ya. Kan kemarin Jesyca jealus liat loe makan di canteen sama Naya." ujar Linda.


"Hah, yakin loe?" Geo penasaran.


"Yakin, Naya cerita ke gue waktu di rumahsakit. Jesyca  demen ama loe tapi dia sembunyiin, kami sebagai sahabat bisa ngertiin dia dong. " jelas Linda.


Becker dalam hatinya tersenyum bahagia, rasaya ingin lonjak ke angkasa menari besama Jesyca. Karena tinggal selangkah dia harus merubah kelaukan dan kekasaran Jesyca selama ini, berharap dia akan menjadi perempuan yang lebih baik.


"gimana? loe sanggupkan? kalau enggak. rahasia kebongkar nih." desak Linda.


"woo, iya dong. Harus aku akan usahain. Hahaha...." kekeh Geo alias Becker.


"Nah, gitu. Besok siang!" linda mengingatkan.


"Oke, btw loe tinggal disini Lin?" tanya  Geo.


"baru satu bulan," jawab Linda.


"oh, oke - oke, kalau ada apa - apa telfon gue ya. Atau main kesini boleh, tapi gue ngak ada siapapun selain ortu dan  para pelayan disini." papar Geo.


"Siap, Becker." Linda memberi hormat Geo.


Mereka berdua tertawa serempak.