
"Di mana kau nak, mama merindukanmu." ucap pelan Kartini mata senjanya meneteskan linangan air mata.
Dia menatap suasana di lahan karet sekitar rumahnya, lahan yang kini bukan lagi milik keluarga Kartini. Sekarang sudah beralih tangan menjadi milik Jefri menantu yang telah ditinggal lari oleh Naya Afrianti anaknya. Dengan alasan anak gadisnya tidak mencintai sang menantu karena di jadikan pelampiasan hutang piutang orangtuanya.
Sebenarnya dalam benak Kartini menyesali apa yang telah terjadi, namun nasi sudah menjadi bubur Naya pergi entah kemana? berharap anak perempuan pertamanya akan segera kembali atas bantuan pencarian dari Jefri sang menantu. Kartini beruntung mendapatkan menantu sebaik Jefri, tetapi berbalik dengan Naya yang tidak membalas cinta Jefri malah memilih pergi meninggalkannya.
Selama kepergian Naya, kampung Pematang hilir warga disana banyak yang membicarakan keburukan keluarga Ilyas, Kartini orangtua Naya. Setelah kepergian Naya Pematang hilir juga telah di coreng buruk dengan kampung sebelah, sehingga keluarga Naya yang berada di kampung tersisihkan.
Dulu sebelum kejadian semuanya, keluarga Naya yang paling di puja, di segani, karena kaya raya. Pak Ilyas anak kampung Pematang Hilir yang tersukses di kota Metropolitan, tidak semua putra - putri daerah di kampung pematang hilir menjadi sukses setelah merantau bertahun lamanya.
Dua orang wanita setengah baya berlalu di jalan depan rumah papan Kartini, mereka melihat Kartini yang berdiri di teras rumahnya.
"Lihat tuh, mertua ngak tahu di untung anaknya minggat eh, dia malah asik menghirup udara aja," celoteh salah satu dari wanita yang berlalu di depan rumah Kartini.
"Dia itu, mau enaknya aja. Biar tahu rasa jadi orang miskin kaya kita," sahut wanita yang satunya agak keras.
Kartini dengar pembicaraan mereka berudua namun ia tidak menggubrisnya, selama Naya pergi setiap hari dengar orang kampung membicarakan keluarganya.
"Hei, Kartini kau melamunkan apa. Ini masih pagi matahari baru naik," panggil wanita yang melintasi di depan rumahnya.
"Kau siangi kopi - kopi menantu kayamu itu," imbuh yang satunya.
Kartini tak menggubris ucapan mereka, dia pergi masuk kedalam rumah sudah terbiasa dengan cemo'ohan orang - orang di sekitarnya. Lalu menangis lagi, Dava melihat mamanya bersedih terus seperti ini jadi tidak tega.
Pria muda itu mempunyai rencana, dia akan pergi ke ibu kota mungkin disana akan mencari kakanya.
"Tenanglah ma, besok Dava akan pergi ke Jakarta sama kak Jefri. Semoga kak Naya ketemu," ujar Dava mendekati sang mama yang terduduk di lantai kayu.
"Hiks.... hiks.... hiks.... mama nyesel, kalau kakakmu engak suka sama Jefri biarin. Semua harta sudah di gadein sama dia, biar Naya dapat orang yang ia inginkan," ucap Kartini menangis kelu hingga terisak - isak.
"Tapi, ma kak Jefri sebenarnya sayang banget sama kak Naya." kilah Dava.
"Cinta ngak bisa di paksa nak, kasihan kak Nayamu. Cepat pergi cari dia," perintah sang mama kepada Dava.
"Iya ma, mama tunggu aja. Semoga kakak cepat ketemu dengan selamat,"kata Dava ia bangkit dan menyalami mamanya.
Dava bekerja sehari, esoknya ia akan pergi ke kota Jakarta untuk mencari Naya. Berharap di ibu kota bertemu dengan sang kakak yang ia hormati dan sayangi.
Wanita setengah baya itu masih menangis saja, sampai lupa kalau sang suami di ladang belum di kirim makan camilan dan secangkir kopi.
"Astaga, aku ngak inget papa lagi di ladang." cetus Kartini tangannya mengelap mata yang sembab.
Ia mencuci muka di kamar mandi satu - satunya. Lalu pergi berjalan ke dapur dan menggambil cangkir besar di rak, ia membancuh kopi mix gula pasir dan membawa singkong goreng empuk yang di masak pagi buta tadi. Menu sehari - hari keluarganya.
••••
Di tempat yang begitu jauh dari kampung halaman, terbentang luas samudera membelah pulau - pulau. Dia berdiri tegap mengahadap lautan di balkon apartementnya, fikiran Naya tertuju pada kampung halaman dia merasa bersalah karena sudah pergi meninggalkan kedua orangtuanya dan adik sematawayangnya, entah jadi apa mereka sekarang, Naya sebenarnya mau menghbungi Dava. Tetapi takut dengan Jefri jika dia tahu bahwa Naya berada di Australia selama ini.
Sudah tiga bulan semenjak kepergianya, Naya selalu di liputi rasa bersalah. Naya benci dengan dirinya sendiri, semua harta orangtuanya sudah hilang karena ulah dirinya sendiri pergi saat ijab kobul.
"Naya akan kembali, jika sudah mendapatkan uang untuk menebus harta papa dan mama," batinnya.
"Heh," Linda menepuk pundak Naya, hingga membuatnya reflek terkejut.
"Aih," kejut Naya.
"Ngalamun aja, hangout yuk." ajak Linda.
"Sorry Lin, gue ngak bisa. Mau ngirit nabung biar hutang keluarga gue lunas," ucap Naya pelan.
"Astaga, tapi jangan sampe loe nyiksa diri tau. Di posisi loe sekarang dengan gaji yang cukup besar gini, seharusnya ya menghibur diri dong." papar Linda pada Naya.
"Iya, thanks ya loe udah ngasih gue kerjaan bagus Lind, kalau ngak loe siapa lagi sih." Naya tersenyum bangga pada sahabatnya.
"Udah, biasa aja deh. Jangan lebai, eh btw ayuk kita ke SEA LIFE biar otak loe refresh," ajak Linda mengibur Naya.
"Hmmm," dehem Naya.
"Udah ayok," ajak Linda lagi, ia menggeret tangan Naya.
Mereka berduapun siap - siap dandan dan berkemas, setelah satu jam langsung pergi mekuncur menggunakan mobil kesayangan Linda. Sebelum ke tempat tujuan Linda membelokan mobilnya ke lestoran cepat saji. Naya dan Linda turun, memasuki gedung lestoran lalu memesan makanan yang mereka mau.
Setelah pesanan makanan cepat saji itu berada di depan meja tempat mereka berdua duduk langsung saja Linda dan Naya menyantapnya.
Acara makan sudah usai, di lanjutkan lagi melaju ketempat wisata. Untuk sampai ketempat aqua rium raksasa itu menempuh waktu sebentar saja, hanya dua puluh lima menit, karena tidak terjebak kemacetan yang membahana.
Naya dan linda segera masuk ke dalam aqua rium raksasa yang terletak di pinggir kota Melbourne. Di dalam bangunan modern itu terdapat beribu spesies ikan, mata wisatawan di manjakan dengan pemandangan air biru layaknya lautan.
Kedua gadis itu berjalan kelorong demi lorong, hingga tidak sengaja Naya tertabrak seorang pria. Wajah pria itu tampak tak begitu asing di mata Naya dan Linda, mereka saling bertatapan mata kedua gadis itu melihat pria di depan mereka.
Dunia memang tidak selebar daun kelor, lingkaran bumi sebulat ini bertemu dengan pria yang tidak di segani para gadis.
Naya mengumpat kesal kepada pria itu, namun dirinya tetap diam menatap Naya dengan segala ocehan yang keluar dari mulutnya.
"Hei, loe disini ngapain? sakit tau nabrak sesukanya." geram Naya pada pria yang berada di depanya.
"Entah nih, jalan ya pake mata sama kaki dong. Main tabrak aja loe," imbuh Linda membela Naya.
Namun si pria hanya tetap diam, masih memdengarkan ocehan mereka berdua. Pria yang sebangsa dengan mereka entah apa yang ia lakukan di negara kanguru ini.
Naya sangat tidak menyukai pria di depanya itu, walaupun dia tampan tetapi nakalnya melebihi preman jalanan yang suka memeras orang.
"Heh, sekarang loe bisu, ngapain disini?" tekan Naya pada pria di depannya itu.
Dia memang tampan, keren, tetapi bukan impian para gadis.