
Ina yang sudah mulai mengetuk pintu terkejut Rania keluar dengan wajah yang sudah tidak bisa di artikan lagi, mata bengkak, bibir biru, wajah pucat pasi.
"Nona?" ucap Ina kaget namun, Rania tidak memperdulikan Ina dan melewatinya begitu saja dan tanpa disuruh sarapan pagi Rania sudah memakannya.
Ina merasa heran dengan tingkah Rania saat ini memilih untuk keluar ingin menghubungi Frederick atas apa yang terjadi barusan.
Fredrick yang sibuk mengurusi proyek yang bermasalah melihat panggilan dari Ina dia membuang napas kasar lalu diangkatnya malas.
"Halo Tuan muda, maaf sudah menganggu anda?" sapa Ina sopan.
"Ada apa Ina?" tanya Frederick.
"Tuan maaf sudah mengganggu anda," tambah Ina lagi.
"Tidak apa-apa Ina katakan?" Ina menceritakan tentang Rania pagi ini, makan tanpa disuruh bagi Ina, ini sangat janggal dan penuh tanda tanya. Frederick yang mendengar semua laporan Ina pagi ini menghela napasnya begitu kuat.
"Lanjutkan pekerjaan kamu Ina!" ucap Frederick datar.
"Baik Tuan muda." Frederick sudah menganggap Ina sebagai keluarga, jadi setiap kali ada masalah atau hal yang penting Ina selalu siap laporkan termaksud dengan Rania. Frederick melihat ponselnya sekilas dan kembali mengutak-atik laptopnya.
Pintu kena ketuk beberapa kali, Davin masuk membawa sebuah amplop cokelat lalu di serahkan kepada Frederick.
"Tuan saya sudah menemukan identitas yang menculik cetak biru proyek taman kota," lapor sekretaris Davin. Frederick membuka amplop tersebut seketika alisnya naik.
"Siapa pria ini?"" tanya Frederick heran.
"Christianto, Tuan muda. Dia telah membantu menangkap pak Eko salah satu rumah kosong di jalan Josep. Kebetulan dia berada di sana ketika kami sedang menggerebek," terang sekretaris Davin.
"Terus?" tanya Frederick lagi sambil memperhatikan foto Christianto yang tidak asing.
"Christianto adalah salah satu pengurus panti. Ibu Ani kepala Panti yang anda pernah kunjungi Tuan muda," terang sekretaris Davin lagi.
"Taman kota?" tanya Frederick dingin
"Kau boleh pergi Davin!" potong Frederick sambil memutar kursi kebesarannya.
"Baik Tuan muda." SekretarisDavin pergi, Frederick kembali memutar kursi kebesarannya kembali memperhatikan Foto Christianto lagi dan data dirinya.
"Pria ini adalah teman Rania," gumam Frederick. Frederick melihat ada lagi kertas yang menempel dengan Foto Christianto.
"Tanggal lima belas bulan sekian Christianto keluar dari Panti, kenapa?" gumam Frederick sambil memperhatikan lagi tanggal tersebut. Akhirnya Frederick mengingat sesuatu.
"Ini bukannya tanggal di mana saya membawa Rania dari panti itu? Kenapa Christianto keluar dan bukankah dia salah satu pengurus terbaik panti tersebut?" tidak sabaran Frederick langsung menekan tombol dan sekretaris Davin kembali nmasuk.
"Ada yang bisa saya bantu lagi, Tuan?" tanya sekretaris Davin.
"Katakan, apa maksudnya ini semua?" sekretaris Davin paham maksud perkataan Frederick.
Davin menjelaskan semua sebab kenapa Christianto keluar dari panti hanya untuk mencari kehidupan baru yang lebih baik dari sebelumnya, sekaligus mencari jati dirinya yang sudah hilang. Frederick mendengar dan mencerna setiap perkataan Davin dia merasa lucu terhadap Christianto.
"Dimana dia sekarang?" tanya Frederick.
"Dia tinggal salah satu rumah para pengawal saya Tuan," jawabnya.
"Bawa dia ke rumah khusus!" perintah Frederick.
"Baik Tuan muda." Sekretaris Davin kembali bekerja semula.
Hari semakin sore Frederick memutuskan kembali ke vila dengan wajah yang datar dan dingin.
Ketika melewati para karyawan yang menyapa dirinya namun Frederick tidak membalas hanya melihat saja. Walau terkesan dingin para wanita masih saja mau mengejar Frederick, wajah tampan Frederick mampu menghipnotis para kaum Hawa yang melihatnya.
"Semoga saja Tuan muda mau melirik kita dan jadikan wanitanya, sama seperti wanita yang di atas," tawa mereka setelan Fredrick hilang dari pandangan.