Hubby Sweet Love Me

Hubby Sweet Love Me
Menghirup Aroma Kebebasan



Frederick meninjau lokasi pembangunan pusat perbelanjaan yang saat ini sedang berlangsung. Dia sengaja datang ke sana untuk melihat pekerjaan Christianto.


Tatapannya tidak mau lepas terus memantau pergerakan Christianto bahkan sekretaris Davin sampai lelah menunggu.


''Sebenarnya apa yang terjadi kepada Tuan Frederick?" gumam sekretaris Davin.


''Davin tidak perlu bicara dalam hati seperti itu,'' semprot Frederick.


''Saya tidak bicara dalam hati Tuan,'' elak sekretaris Davin.


''Buat dia melakukan kesalahan,'' ucap Frederick.


''Siapa Tuan?" tanya sekretaris Davin heran.


''Christianto,'' tunjuk Frederick.


''Tapi dia bekerja dengan baik Tuan,'' balas sekretaris Davin.


''Kau lakukan atau tidak?" sorot mata Frederick membuat nyali sekretaris Davin menciut.


''Baik Tuan,'' jawab sekretaris Davin lalu meninggalkan tempat tersebut.


Christianto berubah menjadi pria yang begitu dingin namun bekerja keras untuk menghidupi dirinya sekaligus memikirkan cara untuk menolong Rania.


''Chris, kenapa belum istirahat?" tanya mandor.


''Tanggung Pak,'' jawab Christianto.


''Makan siang mu sudah lewat sepuluh menit.'' Christianto diam dia juga merasa sudah lapar namun karena pekerjaan yang begitu tanggung.


''Baik Pak,'' jawabnya.


Kesempatan sekretaris Davin membuat kesalahan agar Christianto mendapatkan masalah. Pekerjaan hampir selesai berakhir menjadi seperti benang terlilit.


''Maaf ya Christianto, sebenarnya saya pria baik namun karena pengaruh Tuan Frederick menjadi jahat sebentar.'' Sekretaris Davin langsung meninggalkan tempat proyek sambil memperhatikan dari jarak jauh pergerakan Christianto.


Hanya dalam sepuluh menit menghabiskan makan siang, Christianto kembali ke proyek namun langkahnya berhenti melihat hasil pekerjaannya.


''Siapa yang melakukan ini?!" teriaknya begitu kuat.


''Ya, tapi siapa yang melakukan ini.'' Semua tidak memperdulikan masalah yang baru saja menimpa Christianto.


Semua heboh ketika Christianto mendapatkan masalah kali ini kedatangan Frederick untuk pertama kalinya datang ke sebuah proyek.


''Bagaimana proyek ya?" tanya Frederick sambil menyilangkan kedua kakinya.


''Maaf Tuan, pelukis mengalami masalah berat karena mendapatkan musibah di lapangan,'' jawab mandor.


''Siapa pelukis itu? Dia tidak tahu atau berpura-pura tidak tahu masalah ada di sini?" tanya Frederick tiba-tiba cerewet seperti wanita.


''Christianto, dia baru saja bekerja di sini atas rekomendasi dari kepala mandor Tuan,'' jawab sekretaris Davin.


''Panggil dia ke sini untuk mempertanggungjawabkan pekerjaannya?!" sentak Frederick.


''Baik Tuan,'' jawab sekretaris Davin cepat.


Senyuman seringai terlihat dari wajah Frederick melihat kedatangan Christianto melangkah begitu berat untuk menghadapinya.


''Kau ternyata berani juga membuat tembok yang ingin ditampilkan menjadi seperti ini,'' tunjuk Frederick.


''Tuan, saya tidak melakukan itu. Siang tadi saya makan namun tiba-tiba lukisan menjadi rusak,'' bela Christianto.


''Kau pikir saya percaya setelah ini? Rania yang akan menanggung kesalahanmu Christianto.'' Kedua bola mata Christianto melebar mendengar ucapan Frederick.


''Saya bisa melakukan sumpah kalau anda tidak percaya, Tuan,'' tambah Christianto penuh harapan agar tidak melepaskan dari pekerjaan ini.


''Aku tidak peduli apa yang kau katakan biarlah sekretaris Davin yang memperbaiki masalah ini.'' Frederick langsung meninggalkan tempat itu dengan perasaan yang begitu senang bisa mengerjai Christianto.


Frederick kembali ke kediamannya lebih awal karena dia ingin memberikan kejutan kepada Rania.


''Aku pulang!'' seru Frederick.


''Nona saat ini berada di taman belakang, Tuan,'' balas pelayan.


Frederick langsung menuju ke sana karena sudah tidak sabar lagi untuk bertemu dengan Rania. Tapi langkah Frederick seketika langsung berhenti melihat Rania mencoba coba menghirup aroma kebebasan.