Hubby Sweet Love Me

Hubby Sweet Love Me
Obsesi Frederick



Christianto sama sekali tidak merasakan takut karena ada misi yang harus dia tuntaskan dengan Frederick. Suhu dalam ruangan tersebut tiba-tiba dingin hingga Christianto memilih mundur beberapa langkah.


"Apa yang kau lakukan dengan pekerjaanmu ini!" tunjuk Frederick.


"Tugas saya sudah selesai Tuan. Hasil akhir dari proyek ini bagian pemasaran," jawab Christianto tenang.


"Pria ini sungguh gila, dia menantang CEO?!" pekiknya.


"Kalian harus bekerja keras agar pemasaran ini jalan dengan seutuhnya," tambah Frederick.


"Saya akan hubungi direktur pemasaran Tuan." Tanpa berpikir panjang Christianto menghubungi tepat di depan Frederick.


"Oh My God?! Apa lagi yang dia lakukan?" teriak wanita tersebut.


Dia sudah keringat dingin merasakan hawa semakin mencekamnya.


"Tuan, anda detik ini juga ke ruangan CEO!" ucapnya datar.


"Siapa kau, beraninya menyuruhku datang ke sana?" tanya ya tidak suka.


"Dan bawa hasil laporan proyek yang saya kirim beberapa hari lalu." Setelah mengatakan itu Christianto mematikan ponselnya.


"Hasil proyek ini tergantung kehadiran direktur pemasaran Tuan," ucap Christianto halus namun terdengar begitu menakutkan.


"Menarik! Ternyata dia berguna juga menuntaskan jajaran yang korupsi. Tapi jangan sampai lengah Frederick karena Rania masih ada di tanganmu maka Christianto akan tetap lunak.


Setengah jam berlalu namun tidak ada tanda kedatangan direktur pemasaran.


"Finishing! Kerugian sudah kembali ke kas perusahaan Tuan," ucap Christianto tanpa merasa bersalah.


''Kalian boleh pergi!" usir Frederick.


''Baik Tuan,'' angguk mereka berdua secara bersamaan.


Frederick memukul keras meja kerjanya melihat kinerja karyawannya yang tidak serius. Namun secepat kilat Christianto mengembalikan dalam sekejap.


''Tuan, dia bisa saja menjadi ancaman bagi anda kapanpun,'' ucap sekretaris Davin serius.


''Aku tahu Davin, kau tidak melihat sorot kedua bola matanya yang tajam?" tanya Frederick.


''Ya Tuan,'' jawab sekretaris Davin singkat.


''Semua ini terjadi karena Rania. Christianto ingin mengambil kembali Rania dalam genggamanku Davin,'' ucapnya.


''Kau mau Rania semakin membenciku, Davin?!" sentak Frederick.


''Maaf Tuan,'' lirihnya.


Frederick terus memikirkan cara untuk membuat Christianto tidak betah bekerja. Namun hasilnya sama sekali tidak berbuat arena Christianto rapi bekerja.


''Davin, kembali ke rumah!" perintah Frederick.


''Baik Tuan,'' jawab sekretaris Davin cepat.


Di tengah-tengah keramaian yang begitu padat Christianto masuk diantara masyarakat. Dia memilih masuk ke dalam butik pakaian wanita dan tidak menyadari Frederick juga ada di sana.


''Mbak, saya beli baju ini!" ucap Christianto.


''Baik Tuan, sebentar kami akan membungkusnya,'' jawabnya sopan.


''Bukankah yang di sana Christianto?" tanya Frederick.


''Ya Tuan,'' jawab sekretaris Davin.


''Dia membeli pakaian untuk siapa? Rania kan sekarang ada dalam naunganku?" tanyanya dalam hati.


Christianto menerima paper bag tersebut lalu keluar dari pusat perbelanjaan lebih tepatnya butik.


''Ikuti dia, Davin!" seru Frederick.


''Baik Tuan, bukannya mencari pakaian untuk Nona tapi justru membuntuti pria dingin,'' gerutu sekretaris Davin.


Christianto menghentikan motor kecilnya sebuah rumah kecil yang terletak di pinggir kota. Seorang wanita muda keluar dengan sejuta senyuman menyambut kedatangan ya.


''Maaf ya lama menunggu,'' ucap Christianto.


''Tidak apa-apa ayo masuk kak!" ajaknya.


Frederick melihat pemandangan itu dia semakin kepanasan karena kalah dengan Rania tidak pernah menyambutnya seperti itu.


''Rania harus bisa seperti wanita itu,'' ucapnya penuh percaya diri.


''Tuan terlalu terobsesi hingga tidak tahu apa yang akan terjadi kelak masa depan,'' batin sekretaris Davin.