Hubby Sweet Love Me

Hubby Sweet Love Me
Wanita Lemah



Frederick memeriksa file yang baru saja di kirim oleh sekretarisnya, April. Banyak laporan yang sempat tertunda beberapa minggu ini Frederick langsung menganalisis sambil menjaga Rania. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari Frederick masih berkutat dilayar laptop miliknya.


Rania mulai sadar secara perlahan bangun ia lihat infus ada di tangannya kejadian yang menimpanya mengingat dirinya terakhir kali di kamar mandi. Rania duduk dan melihat Frederick begitu fokus mengerjakan pekerjaan proyek kantor.


"Laki-laki iblis," ucap Rania dalam hati. Secara perlahan Rania membuka infus di tangannya, merasa sulit Rania menjerit.


"Sakit!" Frederick langsung berdiri menghampiri Rania.


"Jangan dilepas," ucap Frederick dingin namun, Rania tidak tidak peduli dan langsung berhasil ia buka infus tersebut.


"Apa kau sudah tidak waras?" tanya Fredrick lagi sedikit naikkan suaranya.


"Iya aku sudah tidak waras lebih baik kamu hilang kan saja aku dari pada seperti ini. Aku tidak tahu apa salah ku kenapa aku menerima ini semua," lirih Rania lagi.


"Dengarkan!" suara Frederick terdengar berat dan napasnya juga berhembus kuat. Frederick mengusap wajahnya kasar lalu mendekati Rania. Rania mundur kala takut melihat wajah Frederick.


"Malam ini juga kamu akan tahu kebenarannya, kamu terima atau tidak kau tanggung sendiri yang pastinya saya hanya puas." Rania menatap wajah Frederick dan mencoba memahami dari perkataannya.


"Apa maksud anda Tuan?" tanya Rania gugup.


Frederick tarik napas dan menceritakan semua dari awal dimana pada saat dirinya berada di panti, ibu Ani melakukan negosiasi menjanjikan Rania kepada Fredrick agar mau berdonasi lebih. Frederick sepakat dan membuat surat perjanjian kontrak atas nama Rania selama itu Frederick sampai puas lalu melepaskan. Lalu ibu Ani menerima uang sepuluh milyar tambahan Donasi agar panti layak untuk tinggal.


"Tidak mungkin?!" pekiknya.


Frederick dengan sigap menangkap tubuh Rania dan membawa kembali ke tempat tidur yang super big king size tersebut.


"Dasar wanita lemah," decak Frederick.


Pagi harinya Rania mulai mengerjapkan kedua bola matanya, pening dan pusing masih ia rasakan. Ina, pelayan setia Frederick sudah stan by di kamar tersebut sambil membawa sarapan lalu tersaji di meja.


Pelan mulai membuka ke dua bola matanya, Rania bangun sambil memegang kepalanya yang begitu pening.


"Selamat pagi Nona muda," sapa Ina sopan.


Rania sedikit kaget melihat Ina ada di kamar ini ia masih belom mau bersahabat dengan Ina dan memilih diam.


Ia milih pergi menuju ke kamar mandi di sana berkaca sambil memandangi wajahnya yang kurus dan kusut. Rania kembali menangis sambil duduk di tembok memukul-mukul kepalanya teringat perkataan Frederick semalam.


"Ibu Ani kenapa anda tega menjanjikan ku kepada pria asing yang tidak aku kenal, kenapa?" tangisnya.


"Kak Christianto, Rania minta maaf. Rania tidak sudah tidak bisa lagi menemui kakak aku malu kak, aku sudah kotor," ucap Rania bergetar.


Ina yang sedari tadi menunggu Rania mulai cemas, sudah setengah jam Rania berada di dalam namun tidak kunjung keluar. Dia mendekati pintu ingin memastikan keadaan Rania.