Hubby Sweet Love Me

Hubby Sweet Love Me
Drama Yang Cukup Bagus



Frederick mengulung rambut Rania dia bangun lebih awal hingga tangannya tidak mau berhenti di sana. Rania bangun merasakan tangan kekar itu sesekali mengenainya.


"Dia sudah bangun ya?" gumam Rania dalam hati.


"Kamu sudah bangun?" tanya Frederick.


"Saya mau ke kamar mandi." Rania turun namun tangan itu hentikan ia.


"Tetaplah tidur!" ucap Frederick.


Rania mengiyakan tapi tubuhnya menolak bersama Frederick karena pikirannya terus tertuju kepada Christianto.


"Bagaimana ya nasib kak Christianto?" batinnya.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Frederick.


"Tidak ada," jawabnya lemas.


"Ayo kita bangun!" Frederick menarik Rania turun dari tempat tidur.


"Sakit," lirihnya.


"Apa yang sakit?" tanya Fredrick cek dari atas sampai bawah.


"Ada apa dengan pria ini?" gumam Rania dalam hati.


"Mana yang sakit?" tanya Frederick lagi.


"Tidak ada," elaknya.


Rania langsung meninggalkan Frederick, ia gugup menuju kamar mandi hendak membersihkan tubuhnya yang lengket.


Frederick mengusap wajahnya baru menyadari bahwa dia memberikan perhatian kepada Rania.


"Apa yang kulakukan tadi?" ucapnya gusar.


"Apa pria itu masih di kamar ya?" pekik Rania sambil mondar-mandir kamar mandi.


"Buka pintunya!" gedor Frederick.


"Oh, astaga bagaimana sekarang?" Rania panik apalagi kondisinya saat ini yang polos.


"Buka atau?" Frederick tercengang melihat Rania keluar begitu saja.


"Cantik sekali?" ucap Frederick tanpa sadar.


"Apa aku salah dengar? Cantik, yang benar saja?" pekik Rania.


"Berpakaianlah dengan baik, hari ini kita akan ke taman menemui seseorang," ucap Frederick lalu dia juga ikut berpakaian setelah selesai membersihkan tubuhnya.


"Ya," jawabnya singkat.


"Kamu tidak penasaran siapa yang ingin kita temui?" tanya Frederick dingin.


"Terserah kamu saja." Frederick keluar setelah rapi tapi Rania tidak ikut keluar karena Ina telah datang membawa sarapan paginya.


"Nona, selamat pagi," sapa Ina.


"Pagi," balas Rania pelan.


"Nona cantik sekali," puji Ina.


"Terima kasih." Rania tersenyum kecil sambil menerima sarapan paginya.


"Makan yang banyak ya Nona. Nona cantik sekali, Ina sampai pangling," kekeh ya.


"Ina bisa saja," balas Rania.


Ina senang melihat Rania mau bicara dengannya dibandingkan sebelumnya. Tanpa mereka sadari Frederick melihat dan mendengar obrolan itu.


"Ia ternyata cantik juga kalau tersenyum," kekeh ya.


Hingga akhirnya mereka berdua menuju taman namun pikiran Rania hanya kepada Christianto. Frederick melirik dia menaikkan alisnya karena heran dengan kepribadian Rania yang tiba-tiba dingin.


"Dasar bunglon," cebiknya.


Mobil akhirnya berhenti situasi saat itu sepi hanya ada penjaga Frederick ada di mana-mana.


"Ayo ikut aku!" ajak Frederick.


"Kita mau ke mana?" tanya Rania memberanikan diri.


"Nanti kamu tahu juga." Rania hanya bisa ikut saja dari belakang. Kedua kakinya terhenti ketika melihat sosok pria yang ia sayangi selama ini.


"Kak Chris?!" pekik ya.


"Rania, kau di sini?" tanya Christianto tidak percaya.


"Kakak sedang apa di sini?" tanya Rania balik.


"Drama yang cukup bagus." Frederick tepuk tangan membuat mereka berdua kaget.


"Apa yang terjadi kak?" tanya Rania takut.


"Tenang ya, semua akan baik-baik saja," bisik Christianto.


"Dia akan bekerja di perusahaan miliki ku," ucap Frederick.


"Kak, benarkah itu?" tanya Rania.


"Ya Rania. Kamu setuju kan?" Rania menatap Frederick dan Christianto, ia merasa ada yang tidak beres baru didengarnya.


"Bagaimana Rania, setuju atau tidak?" tanya Frederick.


"Apa yang harus katakan?!" pekik ya dalam hati.