Hubby Sweet Love Me

Hubby Sweet Love Me
Menerima Keberadaanku



Frederick semakin kesal karena banyak yang mencari namanya apalagi menyangkut nama Sena. Masyarakat memang mengetahui hubungannya dengan Sena namun itu dulu sebelum mengenal Rania.


"Tuan, media Fitra mengundang anda untuk wawancara mengenai masalah Nona Sena," lapor sekretaris Davin.


"Aku tidak tertarik dengan berita itu Davin, kalau banyak yang masih menghubungiku lakukan seperti yang dilakukan ayah Sena!" ucapnya tegas.


"Baik Tuan," jawab sekretaris Davin cepat.


Frederick kali ini tidak bisa leluasa menelusuri rumah sakit karena wajahnya di mana-mana. Bahkan wartawan mengetahui keberadaannya di rumah sakit sampai datang ke sana.


"Itu Tuan Frederick," tunjuk salah satu wartawan.


"Mereka memang tidak bisa membuat hidupku tenang. Sekretaris Davin malah tidak ada disampingku sekarang?" decak ya.


"Tuan Frederick bisa berikan komentar mengenai ayah Sena?" Bukan hanya satu wartawan yang bertanya namun sangat banyak hingga dia memilih untuk memberi beberapa langkah.


"Berhenti dan berikan saya ruang untuk menjawab pertanyaan kalian," seru Frederick.


"Apa tanggapan anda mengenai berita yang saat ini viral apalagi menyangkut nama anda Tuan Frederick?" tanya wartawan.


"Kalian mempercayai apa yang dia katakan?" tanya balik Frederick.


Wartawan saling berpandangan apa yang dikatakan Frederick mereka sama sekali tidak mengerti.


"Coba kalian periksa media saat ini." Frederick langsung meninggalkan para wartawan sibuk dengan ponsel melihat informasi baru.


Frederick tersenyum puas melihat wartawan sudah mengabaikan dia memilih untuk menulis sebuah artikel mengenai dirinya.


"Kita lihat bagaimana nanti respon ayah Sena," kekeh ya si masuk ke dalam tidak jadi keluar untuk membeli makanan padahal perutnya mulai lapar.


"Aku bosan berada di sini, kak Christianto mananya?" gumamnya pelan.


Tiba-tiba pintu terbuka ketiga bola mata Rania menyipit melihat kedatangan Frederick. Perasaan yang semakin tidak karuan apa yang di faktor kehamilannya saat ini mempengaruhi dirinya.


"Ke mana kak Christianto?" tanya Rania dingin.


"Christianto sedang mengurus sesuatu di luar sana, kamu tidak perlu takut karena dulu pasti aku membuat mentalist." Rania tertunduk perasaannya benar-benar sakit mengingat kelakuan Frederick dahulu kepadanya.


"Saya mau kembali ke tempat ku dulu,"ucap ya lirih.


"Lalu, bagaimana dengan kandungan mu karena pertumbuhannya sekarang rawan!" sentak Frederick tanpa sengaja suaranya naik hingga Rania ketakutan lagi.


"Jangan mendekatiku!" seru Rania


Frederick menjadi serba salah di hadapan Rania, niatnya baik tidak menyakitinya namun sesuatu berkata lain hingga membuat perasaannya sakit.


Semua kejadian dilihat oleh Christianto dia ingin sekali Rania baik kepada Frederick. Entah mengapa perasaannya tiba-tiba tenang melihat tatapan Frederick begitu hangat kepada Rania.


"Lambatlaun Rania akan kembali kepadamu seutuhnya," ucap Christianto pelan.


Waktu terus berputar pada akhirnya Rania kembali ke rumah Frederick namun dia memberikan jarak agar tidak macam-macam kepadanya. Rania secara perlahan mengusap perutnya yang mulai terlihat dia sedih adanya calon membuat hati dalam kandungannya membuat perasaannya tidak karuan.


"Maaf ya sudah membuatmu hadir di sini tanpa ada ikatan," ucapnya pelan.


"Rania kamu harusnya bahagia bersama aku sekarang, Sena dan ayah ya sudah masuk sel hidupmu saat ini sudah tenang namun kamu masih belum mau menerima keberadaanku," lirihnya pelan.