Hubby Sweet Love Me

Hubby Sweet Love Me
Mendapatkan Balasan



Frederick tidak memperdulikan Rania terus memberontak untuk dilepaskan.


''Lepaskan aku Tuan!" teriaknya sambil memukul punggung Frederick.


''Aku tidak mau Rania, kamu harus menjawab pertanyaan ku dulu,'' ucap Frederick.


''Saya tidak mau mendengarnya Tuan, kembalilah kepada Nona Sena dia membutuhkan anda saat ini,'' balasnya.


Frederick melepaskan pelukannya dalam menatap wajah Rania yang terlihat sembab.


''Aku tidak menyukai Sena tapi menyukaimu Rania.'' Rania tertegun mendengar ucapan Frederick.


''Apa anda katakan Tuan?" tanya Rania sambil menutup mulut menggunakan kedua tangannya.


''Kamu adalah calon istri masa depanku bukan Sena,'' tambah ya.


''Anda jangan bercanda berlebihan, lebih baik tinggalkan saya di sini!" seru Rania.


Apapun yang sudah dilakukan Frederick kepadanya selama ini tidak ia permasalahkan.


''Rania, dengarkan dulu penjelasan ku soal Sena. Aku sama sekali tidak menyukainya bahkan memberikan izin untuk tinggal bersama kita itu hanya modus. Kamu tahu keluarga Sena begitu ambisius kepadaku karena semua yang tidak dimiliki orang-orang di luar sana ada padaku. Hanya saja satu yang tidak kumiliki yaitu kamu Rania.'' Rania tertegun mendengar ucapan Frederick.


Air matanya menetes membasahi kedua pipi ya yang terlihat sembab.


Christianto secara perlahan mundur ke belakang mendengar pengakuan Frederick. Hatinya begitu sakit memiliki Rania sepertinya tidak bisa lagi.


''Nona Sena, bagaimana dengannya Tuan?" tanya Rania pelan.


''Dia sudah sadar namun memiliki masalah. Seperti kata dokter Sena mengalami efek samping kalau ingatannya hilang. Tapi kamu jangan cemas ya, dokter sudah berusaha untuk mengembalikan memorinya,'' ucap Frederick sambil memberikan kedua pipinya.


Rania memilih membuang wajahnya ke samping karena perasaan yang masih tidak yakin dengan yang dikatakan Frederick. Pikirannya kacau memilah semua masalah yang terjadi kepadanya.


''Maaf Tuan tapi saya bukan wanita bodoh seperti dulu mudah untuk di bohongi,'' batin Rania.


Perlakuan Frederick dahulu masih membekas dalam ingatannya.


''Rania, boleh aku mengatakan sesuatu?" tanya Frederick.


''Apa itu?'' jawab Rania.


''Pergi! Aku tidak mau melihatmu di sini?!" teriak Rania kuat bahkan suaranya sampai keluar hingga Christianto sampai kaget.


''Ini aku Rania, Frederick,'' ucap Frederick sambil menahan kedua tangan Rania karena menarik rambut dan kuat hingga sampai rontok.


Frederick berusaha untuk menahannya karena itu dapat menyakitinya.


''Hentikan Rania, kamu bisa terluka!" sentak Frederick.


''Pergi! Kalian semua jahat?!" teriaknya lagi.


''Sebaiknya anak pergi Tuan, Rania masih trauma dengan kejadian yang menimpanya,'' potong Christianto.


''Tapi Rania membutuhkanku,'' tolak Frederick.


''Pergi atau Rania akan terus seperti ini?" ancam Christianto.


Frederick kecewa karena Rania lebih memilih Christianto ketimbang dirinya. Setelah memastikan kepergian Frederick, Christianto langsung memeluk Rania.


''Hei, tidak mengenali kakak?" ucapnya halus.


''Aku mohon jangan menyakiti aku,'' pintanya memohon.


''Aku Christianto Rania, coba lihat wajah kakak!" tambah ya begitu sabar.


''Kakak,'' lirihnya pelan.


''Kamu membutuhkan sesuatu?" tanya Christianto mengalihkan obrolan.


''Bukankah tadi aku berbicara dengan Tuan Frederick?" tanya Rania setelah keadaannya sudah tenang.


''Ya, tapi beliau sedang keluar. Kamu ingin bicara dengannya?" tanya Christianto lembut.


''Aku tidak mau kak, dia pria yang jahat selalu menginginkan tubuhku.'' Hati Christianto sakit mendengar perkataan Rania karena Frederick sudah merenggut semua yang ingin dia miliki dari dulu.


''Frederick suatu saat kamu akan mendapatkan balasannya,'' ucapnya geram sambil mengepalkan tangannya.