
Wajah tampan Frederick terlihat begitu masam memasuki halaman rumahnya. Hal tersebut sempat dilihat Rania namun ia memilih tidak bertanya.
''Bertanya tidak berguna juga,'' batinnya.
''Kamu sedang apa berdiri di sana?" tanya Frederick dengan tatapan yang terlihat datar.
''Saya mau ke dapur,'' jawabnya menunduk.
''Untuk apa? Kalau butuh sesuatu tinggal panggil pelayan,'' ucapnya.
''Saya tidak bisa melakukan itu Tuan.'' Alis Frederick naik mendengar jawaban Rania yang terdengar kesal.
''Kenapa?" tanyanya bahkan Frederick bisa bodoh berbicara dengan Rania.
''Karena pelayan tidak pernah ada di waktu saya membutuhkannya.'' Seketika Frederick tepuk jidat, dia langsung menarik Rania masuk ke dalam kamar.
''Tekan ini bodoh!'' Frederick tekan tangan Rania hingga dua orang pelayan langsung masuk ke dalam.
''Wah luar biasa sekali tombol batman ini?" tawanya.
''Batman?" tanya Frederick bodoh.
''Tuan tidak pernah menonton film Batman? Ternyata seorang pria seperti anda bisa melewatkan film menarik.'' Kedua pelayan yang mendengar ocehan Rania ingin tertawa namun di tahan karena melihat wajah Frederick sudah petak.
Rania baru menyadari ucapannya terlalu banyak membuat pria yang sudah menyakitinya menatapnya serius.
''Sudah selesai mengoceh?" tanya Frederick datar.
''Gila kamu Rania. Bagaimana bisa mengatakan hal sebodoh itu kepada pria yang paling bodoh ini?" umpatnya.
''Jawab aku?" tanya Frederick.
''Ia sudah,'' jawabnya singkat.
''Kalian pergi dari sini!" usir Frederick.
''Baik Tuan,'' jawab mereka berdua serempak.
''Habis aku malam ini,'' rutuk ya.
''Sediakan air dan hangatkan!" perintahnya.
''Ya,'' jawabnya singkat.
Rania kembali sampai memberikan handuk dengan wajah yang masih menunggu karena takut melihat Frederick masih berwajah petak.
''Tunggu aku dan jangan kemana-mana mengerti!" tekan Frederick.
''Ya,'' jawab Rania singkat.
Rania menatap punggung Frederick yang terlihat kekar ia menghela napas menahan diri agar tidak menggigit pundak yang terlihat bersih tanpa ada noda.
Frederick melihat dirinya di balik cermin yang sudah basah dia marah membayangkan aksi nekat keluarga Sena menginginkan tubuhnya.
''Kalian pasti akan kuberikan pelajaran yang tidak akan pernah terlupakan,'' gumamnya.
Tiba-tiba Frederick memukul cermin sampai retak suara itu sampai terdengar keluar hingga Rania yang sedang termenung tergelonjak kaget.
''Apa yang terjadi?" pekik Rania sambil berdiri.
Terdengar kembali suara pecahan sampai berulang kali lalu Frederick keluar hanya menggunakan handuk. Rania terbelalak melihat tangan Frederick yang sudah berwarna merah singgah mengeluarkan cairan yang kental.
''Tu-tuan tangan anda?!" pekiknya.
''Diam kamu?!" sentak Frederick.
Rania menutup mulutnya ketika Frederick melewatinya begitu saja. Tidak tahu keberanian dari mana Rania mengambil obat lalu menggenggam tangan itu.
''Nanti bisa infeksi,'' ucapnya pelan.
Frederick diam melihat tangan itu pelan-pelan membersihkan cairan lalu membalut dengan rapi. Setelah selesai Frederick keluar dari sana lalu pelayan masuk membawa alat kebersihan.
''Mbak, apa yang terjadi?" tanya Rania.
''Nona sebaiknya tidak melakukan kesalahan kalau tidak masalah ini akan berimbas kepada anda,'' jawab pelayan penuh penekanan.
''Astaga mengerikan sekali,'' batin Rania.
Rania mondar-mandir sambil menunggu pelayan keluar dari kamar mandi. Sudah hampir satu jam semenjak kepergian Frederick perasaannya tidak tenang.
''Sebenarnya apa yang terjadi dengan pria itu? Pergi sehat namun kembali mengerikan?" gumamnya.
Pintu kena dobrak, Rania terkejut melihat Frederick wajahnya bahkan ada goresan.