Hubby Sweet Love Me

Hubby Sweet Love Me
Frederick DIperintah



Christianto tidak mau membalas pelukannya Rania namun tatapannya tertuju kepada Frederick karena pria itu sudah menatapnya tajam.


Rania merasa begitu tenang berada dalam pelukan Christianto hingga cukup lama mereka berdua seperti itu.


''Rania, kamu istirahat ya,'' ucap ya halus.


''Temani ya kak, aku takut orang-orang itu akan datang kembali untuk membawaku!" lirihnya.


''Ya,'' angguk Christianto.


Frederick merasa dia tidak berguna berada di sini bahkan Rania tidak mau memandangnya sekalipun.


''Apa sesakit itu Rania sampai dia mau melihatku?" batin Frederick.


Dari balik pintu Frederick terus memperhatikan Rania secara perlahan sudah mulai tidur. Akhirnya yang dia tunggu tiba Christianto keluar dengan wajah datar tanpa ada rasa takut melihat Frederick.


''Aku mau bicara denganmu?" ucap ya.


''Ya,'' balas Christianto pelan.


''Apa Rania benar-benar membenciku?" Pertanyaan itu membuat alis Christianto naik.


''Ya,'' jawabnya singkat.


''Rania tidak mau bicara denganku?" tanya ya lagi.


''Ya,'' balasnya.


Frederick menjadi gondok mendengar jawaban Christianto bahkan dia ingin sekali memberikan pelajaran.


''Tidak bisa kamu katakan kepada Rania kalau aku ingin bicara dengannya?" tambah Frederick.


''Saya tidak bisa menjamin Tuan, pekerjaan saya banyak.'' Christianto langsung meninggalkan Frederick begitu saja tanpa ada rasa takut.


''Karena Rania dalam pelukanmu, seenaknya meninggalkanku seperti ini,'' umpatnya.


Tidak ada harga dirinya lagi di mata Christianto semenjak dia dimutasi bekerja dengannya.


''Sesekali orang kaya harus diberikan pelajaran,'' kesal Christianto lalu kembali menuju ke dapur.


Frederick masuk ke dalam kamar dia melihat Rania tertidur pulas bahkan wajah damainya membuat hatinya tenang.


''Bodoh kamu Frederick, selama ini menyia-nyiakan Rania. Bukankah ia terlihat cantik?" ucapnya dalam hati.


''Ayah, ibu? Rania memiliki orang tua?" Frederick merasa heran padahal data diri ya yang dia peroleh dari kepala panti tidak ada.


''Bu, cantik sekali surga ini?" Kedua bola mata Frederick terbelalak mendengar kata surga.


''Rania bangun, hei?!" pekik ya sambil menepuk wajah ya berulang kali.


''Ibu apa tempat itu adalah rumah kita,'' tunjuk Rania lagi.


''Rania bangun! Kamu tidak boleh ke tempat itu?!" teriak Frederick sambil mengguncang tubuh Rania agar bangun.


''Apa yang anda lakukan, Tuan?!" tanya Christianto menghentikan yang dia lakukan kepada Rania.


''Rania ini meninggalkan dunia ini Chris, kita harus membangunkan dia!" pekik Frederick.


Christianto memperhatikan Rania tersenyum lebar sambil mengucapkan kata surga. Hingga dia juga ikut berusaha membangunkan Rania.


''Rania, jangan tinggalkan kakak?'' teriak ya kencang.


''Apa yang harus kita lakukan?" tanya Frederick panik.


''Air, Rania harus kita bangunkan Tuan!" seru Christianto.


Baru pertama kali Frederick diperintah mengambil air padahal seharusnya Christianto yang melakukan itu.


''Minggir! Biar aku yang melakukannya?!" senggol Frederick.


Christianto baru menyadari kalau Frederick lebih berhak dari pada dia atas Rania.


''Banjir?!" teriak Rania langsung bangun ketika percikan air mengenai wajah ya.


''Oh, syukurlah kamu sudah sadar Rania,'' ucap Frederick pelan.


''Tu-tuan sedang apa di sini?" tanya Rania gugup.


Frederick langsung membawa Rania masuk ke dalam pelukannya. Dia mengira Rania meninggalkan dirinya untuk selamanya.


''Jangan pernah lagi membenciku Rania,'' bisik Frederick.


Rania tertegun mendengar ucapan Frederick, ia tidak sengaja melihat wajah Christianto yang terlihat datar. Secara perlahan tubuh itu mulai hilang dari pandangannya.