Hubby Sweet Love Me

Hubby Sweet Love Me
Grup Hale



Ina memilih keluar dari kamar mandi karena sudah melihat keadaan Rania saat ini sangat memprihatinkan. Namun, tetap setia menunggu di dalam kamar tersebut untuk memenuhi kebutuhan Rania.


Rania yang di dalam kamar mandi secara perlahan keluar mengenakan handuk nya. Rania masih merasakan tubuhnya sakit sekali dan Rania tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya menangis meratapi dirinya. Rania keluar dari kamar mandi dilihatnya Ina masih setia menunggui nya.


"Sudah saya katakan kau keluar dari sini," bentak Rania sambil menjulurkan tangannya kearah pintu kali ini Rania tidak mau diganggu oleh siapapun.


"Maafkan saya Nona kali ini saya tidak bisa menuruti perintah Nona. Saya akan memenuhi semua kebutuhan nona di sini mulai dari sekarang ini adalah sudah perintah dari Tuan muda kepada saya Nona!" jawab Ina sopan.


Rania mendengus kesal pasalnya Ina tetap melotot akan melayaninya apa boleh buat, semua kebutuhan Rania dari pakaian, sarapan pagi dan sebagainya Ina mempersiapkannya dengan baik.


Rania sarapan pagi, tetap ditunggui oleh Ina, awalnya Rania ingin melakukan mogok makan mengingat dirinya saat ini sedang kacau balau namun, Rania berpikir kembali bahwa dirinya tidak makan dari kemarin. Ina yang memperhatikan Rania makan sangat lahap tersenyum namun tidak ditunjukkannya.


Rania yang sudah selesai sarapan pagi, langsung mengambil piring kotornya keluar menuju ke lantai bawah membiarkan Rania di dalam kamar atas perintah tuan muda Frederick.


Rania yang sudah merasakan lebih baik Pergi menuju ke arah balkon, duduk di sana sambil termenung sambil melihat di bawah banyak Para pengurus villa ini sedang mengerjakan tugas mereka. Rania menitikkan air matanya, di pikirannya saat ini hanya Panti. Rania merasakan kangen sekali kepada Christiano, Kakak dan juga sekaligus sahabatnya.


"Kak Christianto tolong Rania," lirih Rania sambil menenggelamkan wajah nya di kedua lututnya. Rania Masih memikirkan semua yang terjadi kepada dirinya yang secara tiba-tiba. secara perlahan-perlahan Rania mengingat dirinya saat itu sedang berada di belakang taman Panti lalu seseorang telah membekap mulutnya setelah itu tidak tahu apa yang terjadi sampai sekarang.


"Aku tidak paham ini semua, apa Aku sedang diculik? Kak Christianto, ibu Ani tolong Rania," lirihnya.


Rania merasakan Kepalanya pusing, lalu tiba-tiba Rania tertidur di bangku balkon tersebut. tidak ada yang menyadari Rania saat ini sedang pingsan.


Di tempat lain yang berbeda yaitu gedung yang sangat menjunjung tinggi dan besar yaitu group Hale sangat disibukkan dengan aktivitas yang padat, banyak para karyawan saat ini sedang kocar-kacir kala Frederick telah membentak sebagian karyawan yang tidak becus dalam bekerja. Asisten Frederick yang tidak lain adalah Davin, hanya diam dan mengikuti alur Frederick.


"Davin kau urus itu karyawan yang tidak becus dan jangan pernah berikan ampun sedikitpun, aku tidak akan mengampuni siapapun yang telah menggagalkan usahaku!" ancam Frederick devil.


"Baik Tuan muda," jawab Davin membungkuk lalu pergi mengurus karyawan yang telah gagal menjalankan proyek taman pusat kota yang saat ini Frederick bangun namun, justru salah satu karyawan telah melakukan penghianatan yaitu melarikan cetak biru proyek Taman pusat kota.


"Sial," Frederick berdecak kesal memukul meja kerjanya sangat kuat.


Proyek taman pusat kota itu adalah proyek yang akan ditampilkan di depan para pengusaha terbaik dunia dan akan dilelang dengan harga yang sangat fantastis. Frederick sengaja akan melelang taman pusat kota itu untuk meningkatkan pundi-pundi grup Hale namun, sebelum selesai proyek tersebut dibangun cetak biru telah dilarikan.


Frederick yang terlihat kesal luar biasa di dalam ruangannya. April, sekretaris pribadi Frederick masuk dan membuka salah satu dokumen penting untuk ditandatangani Frederick.


"Tuan muda, meeting bersama group Jeremy akan segera dimulai," ucap April sopan. Frederick menghela nafasnya dan menerima dokumen yang dibawakan oleh April dan di tandatangani ya.


"Selamat siang tuan Frederick," sapa Jeremy sambil menjulurkan tangannya, namun tidak dibalas kan oleh Frederick.


Jeremy kesal dan tetap tersenyum miris, jika bukan karena masalah proyek penting Jeremy tidak akan menerima perlakuan seperti ini dari frederick.


April sekretaris dari Frederick sudah stand by di depan layar untuk memaparkan beberapa poin penting dalam proyek iklan yang akan mereka lakukan ke depannya.


Wina, juga asisten Jeremy telah memaparkan poin penting proyek iklan yang akan dibawakan oleh model terbaik dunia yaitu, Mika Fernandez, ratu Kecantikan dunia yang namanya tidak pernah pudar selama tujuh tahun ini.


Wajah Frederick terlihat masam kala sekretaris Jeremy menyebut nama Mika Fernandez. namun Jeremy tersenyum kecil melihat wajah Frederick yang tidak baik.


Grup Jeremy sengaja memilih Mika Fernandez sebagai model dari iklan yang akan dipasarkan kedua belah perusahaan besar tersebut. mengingat ini adalah proyek yang sangat menguntungkan kedua belah pihak, grup Jeremy yakin Frederick tidak akan menolak tawaran kali ini.


Frederick yang tadi kesal karena proyek taman pusat kota dan lagi semakin kesal karena kerja sama antara grup Jeremy dengan dirinya yang melibatkan mereka Mika Fernandez.


Frederick menarik nafasnya sangat kuat lalu dibuangnya kasar. senyum kemenangan sangat jelas diwajahnya Jeremy karena berhasil membuat Frederick takluk kali ini.


Jeremy sudah mengatur proyek ini sangat detail dan mencari sisi lemah dari Frederick ternyata Jeremy tidak salah memilih Mika Fernandez.


"Urus semua ini April.!" ucap Frederick lalu pergi.


"Baik Tuan muda," jawab April sopan.


"Dasar," Jeremy berdecak melihat kesombongan Frederick yang tidak menghargainya, akhirnya kesepakatan telah berhasil kedua grup besar tersebut menjadikan Mika Fernandez sebagai model untuk iklan besar mereka kali ini.


Frederick masih uring-uringan di dalam ruangannya masih dalam marah besar, karena Davin telah gagal menangkap salah satu penghianat group Hale atas proyek taman pusat kota yang bernilai lima triliun tersebut.


"Bagaimanapun, kau Davin harus menemukan penghianat itu. Aku tidak akan mengampuninya," ucap Frederick sambil menggebrak meja kerjanya hingga isinya berserakan di lantai.


"Baik Tuan muda." Davin pergi dan Frederick kembali duduk di bangku kebesarannya sambil memijit pelipisnya yang berdenyut.


Frederick yang sudah sangat kesal sekali dengan kejadian satu harian ini di kantornya memutuskan untuk kembali ke Villa. Setibanya di Villa langsung naik ke atas dengan wajah yang tidak bisa diartikan lagi. Rania yang baru mengerjapkan kedua bola matanya kaget melihat Frederick dengan wajah dingin ada dihadapannya.