Hubby Sweet Love Me

Hubby Sweet Love Me
Menang Satu Langkah



Pria itu meninggalkan tempat tersebut bimbang karena dia tidak mungkin salah lihat. Hingga dia bertabrakan dengan Jason kebetulan hendak kembali karena ponselnya ketinggalan.


"Maaf Tuan, saya tidak sengaja," ucap ya gugup karena melamun jalan.


"Kenapa melamun?" tanya Frederick berusaha tetap ramah.


"Saya tadi seperti melihat hantu Tuan di lorong sana!" tunjuk ya.


"Hantu? Rumah sakit memang banyak hantunya dan itu sudah fakta," balas Frederick sambil geleng-geleng kepala.


"Tapi hantu kali ini berbeda Tuan karena di ujung sana kan kamar ICU. Pasiennya malah bisa jalan normal dan tegak," ucapnya sambil mengusap wajahnya berulang kali.


"Sana?" gumam ya pelan.


"Saya permisi ya Tuan," pamit ya.


Frederick mengangguk dia langsung bergegas menuju ke ruang inap Sena. Dia begitu penasaran akan Sena seperti yang dikatakan tadi.


Tidak ada yang mengambil ponselnya padahal sudah terletak di luar. Frederick terus melangkahkan kakinya memastikan yang dikatakan pengunjung tadi.


Tidak ada yang mencurigakan namun suara obrolan telah dia dengar dari luar.


"Kalian sudah melakukan yang kuperintahkan?" ucapnya.


"Berikan kami waktu lagi Tuan. Kami akan pastikan Nona Rania sudah tidak akan pernah lagi melihat dunia ini," balas ya.


"Saya berikan waktu sampai esok kalau kalian belum juga bereskan maka." Ayah Sena terbelalak melihat wajah Frederick sudah terlihat datar. Wajahnya langsung pucat antara takut dan tidak.


"Frederick?!" pekik ya.


"Maaf bukan bermaksud mengejutkan anda Om. Ponsel saya tadi ketinggalan jadi saya kembali.


Frederick langsung meraih ponsel ya dengan cepat-cepat meninggalkan tempat tersebut tanpa melihat Sena terbaring.


Sesampainya di pintu keluar Frederick mengusap wajahnya berulang kali. Dia kaget mengetahui dan melihat Sena terbaring tidak seperti yang dikatakan.


"Sena?" ucapnya tidak sengaja.


"Tuan, anda ingin kembali ke rumah?" tanya sekretaris Davin.


"Davin, ada banyak sekali kejanggalan kejadian ini tapi aku tidak bisa mengatakan dari mana," curhat ya.


"Tuan Sena adalah dalang dari semua yang terjadi," lapor sekretaris Davin.


Kedua bola mata Frederick terbuka lebar mendengar ucapan sekretaris ya itu.


"Maksud mu ayah Sena sengaja melakukan tabrak lari agar Sena sakit dan saya adalah korban yang merawat korban," pekik Frederick.


"Semua ini adalah ide Tuan Sena karena beliau terlalu berambisi inginkan anda karena semua ada." Frederick memukul meja meluapkan amarahnya.


"Kenapa aku tidak kepikiran ke sana ya?" ucapnya terus sampai dia merasa bodoh.


"Saya siap menuggu perintah dari anda Tuan," seru sektretaris Davin.


"Dari mana kamu tahu semua ini Davin?" tanya Frederick heran.


Sekretaris Davin menceritakan kalau dia sering mendengar obrolan ayah Sena. Lebih memastikan bahwa pendengarannya tidak salah akhirnya merekam semua pergerakan ayah Sena.


Frederick melihat semua bukti itu dia mengeram kesal karena telah tidak menyadari ambisi ayah Sena. Namun kedua bola mata ya terbelalak melihat video terakhir.


"Rania dalam bahaya Davin?!" pekik ya.


"Saya sudah pasang jebakan Tuan agar bisa memancing mereka. Christianto sudah menjaga Nona Rania di apartemen jadi anda tidak perlu khawatir." Sesaat Frederick diam, dia benar-benar salah menilai Christianto.


"Christianto menang satu langkah denganku. Ini semua karena Sena kalau tidak aku dan Rania sudah menikmati hidup," kesal ya lalu memejamkan mata agar pikirannya tenang hadapi anak buah ayah Sena sudah mulai bergerak.