Hubby Sweet Love Me

Hubby Sweet Love Me
Kebohongan Christianto



Rania menghentikan tangan dokter ketika hendak memeriksa ia. Tatapannya tajam menatap mereka semua ada di ruangan tersebut.


"Pergi kalian semuanya!" usir Rania.


"Rania, kamu harus diperiksa dulu," pinta Frederick.


"Pergi aku bilang!" teriaknya kencang.


Frederick memberikan instruksi kepada dokter agar meninggalkannya mereka. Setelah memastikan sudah tenang, Frederick mencoba mendekati Rania.


"Rania, aku tidak tau harus mengatakan apalagi kepadamu. Kalau aku kejam selama ini adalah bukti cinta ku padamu.


"Anda juga pergi! Jangan kalian mendekati ku lagi," ucapnya penuh kebencian.


"Aku tahu bagaimana perasaanmu Rania. Kamu boleh saja membenciku tapi tidak dengan hubungan kita tetap terjalin." Kedua bola mata Rania terbuka lebar atas apa barusan dia dengar.


Air mata itu tumpah membasahi pipi yang tembem hingga Frederick langsung membawa Rania masuk ke dalam pelukannya.


"Aku minta maaf Rania, kamu berhak menghukum pria seperti ku!" ucap Frederick.


Rania terus menerus menangis sesenggukan bayangan perlakuan Frederick kepadanya terngiang-ngiang. Terlebih lagi calon buah hati yang ia kandun juga pergi untuk selamanya.


"Kalian semua kejam! Apa salahku sampai aku mengalami ini semua?" tangisnya di balik dekapan Frederick.


"Kamu tidak salah Rania. Aku lah yang salah, kumohon maafkan aku," pinta Frederick lalu melepaskan pelukannya.


"Anda sudah menghilang dia untuk selamanya," lirihnya.


"Rania, kamu mau menjadi Istriku?" Tubuh Rania langsung membeku mendengar ucapan Frederick barisan.


"Apa yang anda katakan Tuan, menikah?!" pekiknya.


"Ya, kita menikah dan menjadi suami istri," lanjut Frederick.


Rania termenung sesaat mencerna semua yang dikatakan Frederick. Cukup lama seperti itu, Rania tidak menyadari kalau sebuah cincin keluarga milik Frederick.


Cukup lama Rania diam hingga air matanya tiba-tiba tumpah begitu deras.


"Kak Christianto mana?" Seketika dunia Frederick runtuh mendengar jawaban Rania.


Dia tidak menyangka Rania justru mencari Christianto yang sudah pamit beberapa jam lalu.


"Rania, untuk saat ini lebih baik kamu istirahat dulu ya," rayu Frederick.


"Tuan jangan menghalangi aku mencari keberadaan kak Christianto." Pada akhirnya Frederick memilih keluar kandas juga harapannya agar Rania kembali pada.


Frederick memilih minum bersama dengan wanita yang pernah dia sewa. Rania termenung sendirian di rumah sakit memikirkan masalah yang terjadi. Ia hanya meminta kebebasan agar lepaskan karena sudah cukup semua perlakuan yang tidak adil kepadanya sirna.


Rania pelan-pelan keluar dari ruangan tersebut untuk menghirup udara. Ia termenung sesaat sendirian di taman rumah sakit.


"Rania?" panggilnya.


Ia menoleh ke belakang terkejut melihat sosok pria yang dicarinya selama ini.


"Kak?" jeritnya.


Christianto melangkah cepat karena dia tidak mau kalau Rania yang menghampiri ya dalam keadaan kurang sehat.


"Kakak merindukanmu," ucapnya.


Rania hanya bisa menangis di balik pelukan Christianto yang hangat. Sudah lama mereka tidak berpelukan padahal dulu di panti mereka terlihat seperti suami istri.


"Dari mana kakak selama ini? Kenapa tidak mencari ku?!" tangisnya.


"Maaf ya kakak memiliki pekerjaan Rania, kamu tahu kan pekerjaan di panti banyak sekali," balasnya.


Rania percaya begitu saja ketika Christianto mengatakan itu kepadanya. Ia belum mengetahui selama ini Christianto sudah lama out dari panti hanya demi Rania. Christianto merasa bersalah tidak memberitahu yang sebenarnya kepada Rania soal dirinya.


"Tapi bagaimana dengan pria berkuasa itu nantinya?" batin Christianto dalam hati ya.