Hubby Sweet Love Me

Hubby Sweet Love Me
Suara Aneh



Sena semakin tidak menyukai Rania diam dan tidak mau meninggalkan kediaman Frederick.


''Fred, aku mau bertanya siapa wanita ini?" tanya Sena lalu bergelayut manja di lengan Frederick.


''Aku mau istirahat.'' Frederick bukannya menjawab malah naik ke atas.


''Fred, tunggu!" Sena mengejar sampai ke atas sementara Rania tidak tahu apa yang akan dilakukannya setelah kedatangan Sena.


''Apa yang sebenarnya terjadi? Aku mau dinikahi pria itu?" tanyanya tidak percaya.


Rania sama sekali tidak berani main ke atas padahal kalau Frederick kembali ia harus melayaninya.


Berbeda dengan Sena tidak ada rasa malu masuk ke dalam kamar Frederick. Namun kedua bola matanya terbelalak melihat isi ya yang penuh dengan pakaian kurang bahan.


''Fred, pakaian siapa ini?" tanya Sena.


''Rania,'' jawabnya ketus.


''Kalian tidur bersama?" cecar Sena.


''Ya.'' Frederick masuk ke dalam kamar mandi setelah membuka dasi.


Sena membuka satu persatu lemari kedua bola matanya semakin terbuka lebar. Berbagai macam pakaian serupa dengan miliknya.


''Jadi nama wanita itu Rania ya?'' ucapnya geram.


Sena bergegas turun ke bawah untuk menemui Rania, perasaan semakin tidak enak kalau ada wanita satu atap dengan ya.


''Rania?" panggilnya kuat.


''Anda memanggil saya?" balas Rania berpura-pura tenang padahal jantungnya sudah berdetak kencang.


''Sini kamu!" Sena menariknya menuju ke kolam dan tidak memperdulikan kalau Rania meringis kesakitan.


''Sakit Mbak,'' ucapnya.


''Lebih sakit dari sini akan kamu rasakan. Aku mau bertanya, sejak kapan kamu tinggal disini?" tanya Sena berapi-api.


''Hampir dua bulan,'' jawabnya pelan.


''Apa? Selama itu bagaimana hubunganmu dengan Frederick?" tanya ya lagi.


''Lalu, kenapa ada pakaian model kurang jahit ada di lemari Frederick?" Rania melepaskan tangan Sena kuat.


''Kalau ingin tahu lebih baik bertanya kepada ya bukan ke saya.'' Rania langsung meninggalkan Sena di sana dan masuk ke dalam karena Frederick pasti sudah menunggu dirinya.


''Awas kamu Rania, derajat kita beda dan kekuasaan akan kuambil alih lihat saja,'' pekiknya.


Rania pelan-pelan masuk ke dalam menyapu seluruh isi kamar. Ia tidak melihat Frederick perasaannya tenang namun tiba-tiba pelukan hangat membuat jantung ya berdegup kencang.


''Dari mana? Sudah lama aku menunggumu di sini?" bisik Frederick tepat ke telinga Rania.


''Saya dari dapur,'' jawabnya gugup.


''Yakin?" tanya Frederick tangannya mulai jalan-jalan membuat Rania semakin gugup.


''Ya,'' jawabnya cepat.


''Layani aku ya!" Rania seketika memejamkan kedua bola matanya merasakan tangan Frederick naik turun.


Frederick sama sekali tidak memperdulikan Sena di bawah sedang memarahi pelayan karena tidak becus menyusun pakaiannya.


''Kalian bisa bekerja tidak?" teriaknya .


''Maaf Nona, kami akan melakukannya dengan baik.'' Sena kembali mengeluarkan isi pakaiannya dari lemari karena tidak suka.


Dia membayangkan pakaian kurang bahan ada di kamar Frederick sementara dia beda.


''Jawab kalian dengan jujur, Rania tidur di kamar Frederick?" tanya ya.


''Kami tidak bisa menjawab itu Nona,'' jawab salah satu pelayan tersebut.


''Kenapa? Kalian tidak tahu kalau aku adalah calon Nyonya di sini?" sentaknya.


Pelayan memilih menunduk daripada menjawab pertanyaan Sena. Karena tidak ada jawaban Sena keluar dari sana dengan perasaan yang tidak tenang.


Langkahnya berhenti melihat kamar Frederick tepat berada di sampingnya. Tiba-tiba dia mendengar suara aneh membuat bulu halusnya merinding.


''Ja-jangan Frederick dan Rania sudah melakukan hubungan lebih?!" ucapnya terbata-bata lalu menutup mulutnya.