
Frederick sedari tadi ternyata tahu Rania terus memandanginya dalam hati dia tertawa melihat wajah polos itu mengangumi ketampanannya.
"Apa aku makan sekali lagi ya?" gumam Frederick.
"Aku lebih baik tidur, tidak tahu apa yang terjadi hari esok. Tapi, kak Christianto semoga dia baik-baik selalu di luar sana, aku merindukan kak," lirihnya.
"Masih mencintai ya? Akan ku buat Christianto kena pelajaran dariku," decih Frederick lalu tangannya berhasil menarik tubuh Rania masuk ke dalam pelukannya.
Beberapa jam berlalu akhirnya aktivitas kantor kembali seperti biasa. Christianto masuk dengan wajah yang tidak bersahabat bahkan tidak mempedulikan karyawan menyapa dia.
"Dia kan karyawan baru tapi sombong sekali tidak mau menyapa," sindir karyawan tersebut tanpa diketahui siapa namanya.
"Dia harus kuberikan pelajaran. Apa salah kalau tidak menyapa balik? Presdir saja tidak pernah membalas sapaan kalian padahal siapa yang buat perusahaan ini maju kalau bukan karyawannya? Introspeksi diri masing-masing, mari bekerja dan buat perusahaan ini semakin maju bukan down." Seketika orang-orangnya yang mendengar ucapannya barusan merasakan kurang oksigen.
Christianto langsung naik ke atas menggunakan lift kebetulan sudah terbuka dan isinya kosong karena karyawan tidak berani naik bersamaan.
"Dia pria aneh, bagaimana kalau Presdir nanti mendengar kabar ini ya?" tanyanya dalam hati.
Kabar tersebut langsung menyebar hingga sampai ke telinga Frederick.
''Bagaimana namaku dibawa-bawa mereka, Davin?" tanya Frederick kesal.
''Bisnis Tuan,'' jawab sekretaris Davin.
''Apa maksudmu?" tanya Frederick heran.
''Membawa nama anda membuat dia menjadi terkenal Tuan.'' Frederick berdecih mendengar penjelasan sekretaris Davin yang konyol.
Frederick untuk pertama kalinya berkeliling untuk melihat para karyawan siapa yang rajin atau tidak. Kedatangannya membuat seluruh karyawan panik bahkan mereka sampai jatuh untuk agar terlihat baik di hadapan sang CEO.
''Tuan, mereka melakukan pekerjaan dengan baik namun kebersihan kurang,'' ucap sekretaris Davin,.
''Cleaning servicenya ke mana?" tanya Frederick.
''Kenapa dua kali masuk padahal sudah diterapkan semua karyawan harus patuh dengan aturan yang sudah berlaku,'' sentak Frederick.
''Ya Tuan,'' jawab sekretaris Davin cepat.
Frederick tidak sengaja melihat Christianto handak mau fotokopi beberapa berkas penting untuk diserahkan kepada CEO.
''Bawa dia ke ruanganku!" Setelah mengatakan itu Frederick meninggalkan tempat tersebut begitu kecewa melihat pekerjaan karyawannya.
''Chris, hentikan itu ayo ke ruangan CEO, kau di panggil!'' panggil sekretaris Davin.
''Baik Tuan,'' jawabnya cepat.
Para karyawan tidak menyangka kalau Christianto akan dipanggil langsung ke ruangan CEO. Sebagian mereka beranggapan kalau Christianto dipanggil karena ucapannya tadi pagi di lobby.
''Aku yakin kalau Christianto detik ini juga akan dipecat,'' tawa karyawan pria itu senang.
''Tidak boleh seperti itu karena yang dia katakan itu benar,'' bela karyawan wanita tersebut.
''Kau, ikut saya ke ruangan CEO!" tunjuk sekretaris Davin kepada karyawan wanita tersebut.
''Saya mau diapakan Tuan? Saya akan memperbaiki kalau melanggar dan menerima semua konsekuensinya,'' ucapnya lirih.
''Kau yang bicara dengan CEO, bukan denganku.'' Pintu terbuka mulut wanita tersebut terbuka lebar melihat Christianto berjongkok.
''Tuan, saya bisa menjelaskan yang terjadi di ruangan pemasaran,'' tambahnya memohon agar sekretaris Davin menyelamatkannya.
Christianto melirik melihat ke arah wanita itu yang ketakutan mengikuti langkah sekretaris Davin.
''Teruslah buat masalah agar dirimu cepat dapat promosi,'' tawa Christianto dalam hati.