
Keluarga Sena semakin kesal mendengar ucapan putrinya impian mereka menginginkan menantu seperti Frederick.
''Kita harus melakukan sebuah rencana agar Frederick bisa menikah dengan Sena,'' ucap ayah Sena.
''Tapi bagaimana caranya, Pak?" tanya ibu Sena khawatir dengan rencana suaminya itu.
''Kita adakan pertemuan antara dua perusahaan lalu Sena dapat melancarkan aksinya agar Frederick jatuh ke dalam perangkap kita.'' Sena tidak sengaja mendengar ucapan orang tuanya tersenyum puas.
''Ayah memang terbaik, apapun yang kuinginkan selalu terpenuhi,'' tawanya licik.
Sesuai dengan rencana keluarga Sena, Frederick mengikuti keinginan mereka dan melangsungkan acara makan malam. Senyuman Sena begitu lebar melihat kedatangan pujaan hati ya yang sudah lama dia dambakan.
''Hai Frederick sudah lama,'' sapa ayah Sena.
''Ya Om,'' jawabnya datar.
''Silahkan duduk mari kita mengobrol dengan tenang,'' ucap ayah Sena.
Frederick mengangguk lalu duduk di samping Sena tanpa melihat sedikit dia cantik atau tidak.
''Frederick kau tidak mau memujiku?" tanya Sena sambil bergelayut manja.
''Aku tidak melihat,'' jawab Frederick santai.
''Awas nanti kalau kita sudah menikah Frederick, kau akan takluk kepadaku,'' batin Sena.
''Bagaimana perkembangan perusahaan kamu Frederick?" tanya ayah Sena berpura-pura akrab.
''Ya seperti yang Om lihat tidak ada yang spesial,'' balas Frederick.
''Pria ini terlalu merendah sekali sungguh norak,'' kesalnya.
''Ayo kita makan malam dulu baru enak mengobrol,'' potong ibu Sena.
''Ayolah Frederick, habiskan makanan mu semuanya lalu malam ini kita akan berpesta,'' ucap Sena dalam hati sambil memperhatikan Frederick mulai makan.
''Astaga kenapa pria ini selalu datang di waktu yang tidak tepat,'' jerit Sena.
''Apa itu?" tanya Frederick lalu meletakkan sendok tersebut kembali ke tempat semula.
''Nona Rania kesehatannya tidak baik Tuan, saya mendapatkan laporan kalau beliau demam tinggi,'' ucap sekretaris Davin.
''Apa?! Ayo kita kembali!" perintah Frederick.
''Tapi bagaimana dengan makan malam ini?" potong Sena.
''Maaf Om, Tante saya harus pergi.'' Tanpa menunggu jawaban Frederick meninggalkan tempat tersebut.
''Ayah, kenapa tidak bisa mengambil waktu yang baik?" teriak Sena begitu frustasi melihat kepergian Frederick.
''Ayah tidak tahu juga menjadi seperti ini,'' kesalnya.
''Tapi siapa Rania yang dikatakan sekretaris Davin?" tanya ibu Sena.
Mereka bertiga saling menatap satu sama lain karena baru pertama kali mendengar nama Rania dan Frederick begitu heboh meninggalkan mereka bertiga.
''Sena mana tahu? Penting Frederick milikku selamanya!" Kedua orang tua Sena tepuk jidat mendengar jawaban putrinya itu.
''Ayah akan mencari tahu tapi untuk sementara ini kita harus tetap waspada. Frederick mungkin bisa jadi curiga terhadap entah karena mendadak mengundang makan malam,'' peringat ayah Sena.
''Ya ayah,'' jawab Sena singkat.
Namun berbeda dengan Frederick diam begitu marah mendengar laporan sekretaris Davin ternyata Rania dalam keadaan baik.
''Maaf Tuan, saya terpaksa berbohong karena keluarga Nona Sena berusaha untuk menjebak anda supaya berhasil menikahi putrinya,'' lapor sekretaris Davin.
''Aku tidak tahu tadi bagaimana nasibku di sana kalau kau tidak datang Davin, terima kasih sudah menolongku,'' ucapnya sambil menahan marah.
''Ya Tuan,'' jawab sekretaris Davin gugup karena baru pertama kali Frederick mengucapkan kata terima kasih kepadanya.