
Christianto sekali lagi memeluk Rania kerinduannya tidak bisa diukur lagi.
''Ayo kak kita kembali ke panti, ibu pasti sudah menunggu!" ucap Rania.
Christianto terbelalak mendengar ucapan Rania menginginkan kembali ke panti. Tidak mungkin mereka ke sana karena ibu panti sudah melakukan kesalahan besar.
''Jangan sekarang ya Rania, kondisimu belum pulih kalau kembali ke sana anak-anak dan lainnya akan sedih melihatmu seperti ini,'' bisik Christianto halus.
''Tapi Rania merindukan suasana panti kak,'' lirihnya.
''Kakak mengerti apa yang kamu inginkan Rania, kita akan kembali ke panti.'' Rania mengerti lalu ia kembali ke kamar inapnya.
''Kakak jangan pergi ke mana-mana ya? Rania tidak mau sendirian lagi!" ucapnya.
''Ya, kakak akan bersamamu sekarang istirahat ya.'' Christianto mengusap kepala Rania menghantarkan wanita lemah itu tidur.
''Maaf Rania kakak tidak bisa membawamu ke sana lagi. Kakak tidak mau kamu jadi korban kedua oleh ibu panti,'' lirihnya.
Flashback off
Sebelum kepergian Christianto dia mendengar ibu panti bernegosiasi dengan Frederick membawa Rania keluar panti ini melalui pintu belakang. Mobil mewah itu dia kenali karena tidak sengaja melihat Frederick keluar dari mobil tersebut. Christianto menyaksikan Rania dibawa dalam keadaan tidak sadar.
Christianto langsung melapor kepada ibu panti namun kenyataannya dia salah besar karena beliau telah berbohong.
Tidak terima jawaban yang telah dia dapatkan Christianto langsung keluar dari panti untuk mencari keberadaan Rania. Namun, hampir sebulan dia begitu sulit mencari keberadaan Rania.
Sumber mengatakan Rania berada salah satu rumah mewah pada akhirnya Christianto menyamar agar Frederick tidak mengenali dirinya.
Flash back on
''Sampai detik ini aku ingin memberantas kebohongan yang sudah dibuat ibu panti. Kelihatannya harus terungkap ke seluruh dunia kalau beliau telah melakukan dosa besar mengatasnamakan anak-anak.'' Christianto mengepalkan tangannya begitu kuat hingga terlihat urat-urat tangannya.
Frederick mendekati Christianto dan Rania namun dengan cepat mereka berdua sudah berada di luar. Christianto menarik Frederick karena tidak mau Rania bangun dan kembali menjerit.
''Mau apalagi anda datang ke sini?" tanya Christianto dingin.
''Bagaimana keadaan, Rania?" tanya ya lemah.
''Ia sudah lebih baik karena ada yang merawatnya di tangan yang tepat,'' sindir Christianto.
''Ya kamu benar. Rania memang membutuhkan tangan sepertimu bukan sepertiku,'' tambahnya pelan.
Christianto merasakan napas Frederick yang mau begitu menyengat. Dia memperhatikan penampilan pria ini yang selalu dijunjung orang-orang tiba-tiba menjadi menyedihkan.
''Apa yang anda lakukan sekarang, Tuan?" tanya Christianto hati-hati.
''Kamu mau tahu?" Christianto menyipitkan mata ya penasaran apa yang ingin dikatakan Frederick.
''Rania memaafkan ku dan mengatakan yang sebenarnya kepada ia kalau selama ini, ibu panti yang memberikan dirinya kepadaku tentu saja dengan harga yang fantastis. Namun sekarang Rania malah membenciku padahal aku sudah mencintainya,'' ucapnya sambil menatap kosong ke depan.
Christianto merasakan hatinya sakit mendengar pengakuan Frederick. Ternyata pria ini telah jujur kepadanya padahal baru dia mengatakan itu kepada dirinya sendiri.
''Kalau Rania mengetahui fakta ini apa respon ya?" batin Christianto lalu dia melihat kepergian Frederick dengan langkah yang gontai.
''Tuan, ternyata anda di sini!" pekik sekretaris Davin.
''Bawa aku jauh dari tempat ini Davin,'' ucapnya lalu tidak sadarkan diri lagi.
''Tuan?!" teriak sekretaris Davin.