
Frederick terus membuat Rania mengeluarkan suara halus maupun jeritan sampai telinga Sena sakit mendengarnya.
Bukan hanya di situ saja Frederick menarik Rania sampai ke pintu dengan gaya yang terbilang aneh. Sena pada akhirnya merinding karena tiba-tiba mendengar suara Rania yang sudah seperti hantu.
"Nona Sena sedang apa di sini?" sektretaris Davin tiba-tiba sudah berada di belakangnya dengan wajah yang datar.
"Apa? Aku sedang mencari anting tadi jatuh dibuat pelayan di bodoh itu," balasnya gugup.
"Boleh saya bantu mencarinya Nona Sena?" tawar sekretaris Davin.
"Sudah ketemu." Sena langsung meninggalkan tempat itu dengan langkah yang tergesa-gesa.
"Sayang sekali wajah cantik itu jadi jelek di pandang," batin sekretaris Davin.
Namun telinganya juga tidak salah dengar mendengar suara halus dari dalam kamar Frederick.
"Merinding aku!" Davin juga meninggalkan tempat itu karena pekerjaannya menumpuk karena Frederick mogok kerja beberapa hari terakhir.
"Pelan-pelan Tuan, saya tidak tahan lagi," pekik Rania.
"Tanggung! Jangan di tahan keluarkan saja biar enak!" balas Frederick.
"Tapi terlalu sakit Tuan kalau di tahan," jeritnya.
"Jangan berteriak telingaku." Rania pada akhirnya berteriak kencang karena Frederick berhasil mengeluarkan duri yang menempel ke telapak kaki Rania.
"Sakit!" rengek ya.
"Tapi sudah enak kan?" tanya Frederick.
"Ya, sudah enak," balas Rania gugup.
"Lain kali bilang sama pelayan kamar ini harus bersih, mengerti!" Rania mengangguk ia tidak tahu harus bagaimana sekarang.
Setelah diamati lebih dalam Frederick telah banyak berubah bahkan dia tidak banyak menuntut lebih keinginannya. Padahal dulu jangankan angkat tangan saja tidak mampu karena kelakuan Frederick.
Frederick langsung masuk ke dalam selimut malam ini dia tidak berselera lagi meminta jatah kepada Rania. Rania menghela napas lalu ia juga ikut tidur namun tidak di samping pria itu.
"Ke mana kamu tidur?" Langkah Rania langsung berhenti karena ia masih takut dengan Frederick walaupun sudah tidak se galak dulu.
''Sini kamu!" Rania tidak mendekati Frederick karena perubahan dalam pria itu terlalu banyak.
''Saya mau ke dapur Tuan tenggorokan saya kering,'' alasannya.
''Sini!" tekan Frederick.
''Baik, kalau anda tetap bersikeras menginginkan saya.'' Rania pelan-pelan mulai berbaring di samping Frederick namun ia memberikan jarak.
''Bagaimana pendapatmu tentang, Sena?" tanya Frederick lalu membawa Rania masuk ke dalam pelukannya.
''Dia wanita yang cantik, elegan dan sempurna,'' jawabnya gugup.
''Hanya itu?" tanya Frederick.
''Dia pasti pintar,'' tambahnya.
''Ayo kita tidur.'' Frederick langsung membawa Rania masuk ke dalam pelukannya.
''Astaga pelukannya kenapa begitu erat sekali. Kan aku jadi sulit bernapas?" jeritnya dalam hati.
Frederick merasakan napas Rania yang terputus-putus akhirnya meregangkan pelukannya.
''Kenapa wanita ini tidak bertanya kenapa aku ingin menikahinya?" batin Frederick.
''Pria ini mau jadikan aku istri? Bagaimana nanti perasaan kak Christianto?" ucapnya sendu.
Mereka berdua larut dalam pikiran masing-masing hingga waktu terus berputar menghantarkan mata itu akhirnya terpejam.
Sena kembali ke kamar Frederick melihat lampu sudah mati bahkan suara aneh tidak ada lagi dia dengar. Tiba-tiba dia teringat dengan Rania tidak dilihatnya dari tadi sore sampai malam ini.
''Rania ternyata sudah berhasil memikat Frederick. Aku salah langkah dengan wanita kampungan itu,'' ketusnya.
Tidak mau ketinggalan informasi Sena akhirnya melaporkan semua yang dia lihat di kediaman Frederick kepada kedua orang tua ya.
''Berikan perhitungan kepada wanita kampungan itu nak, jangan berikan Rania akses untuk menguasai Frederick!" ucap ayah Sena.
''Baik ayah,'' balas Sena dengan senyumannya yang terlihat menakutkan.