
Frederick mondar-mandir memastikan keadaan Sena belum ada kabar mengenai kondisinya.
"Semua ini kesalahanku, andai saja aku tidak memaksa Sena beli?" Frederick merasa begitu sial hari ini.
Niat ingin membuat Rania bahagia hanya dalam satu hari malah kebalikannya.
"Tuan, Nona Sena sudah sadar," panggil dokter.
"Apa? Lalu bagaimana keadaannya?" tanya Frederick panik.
"Silahkan masuk Tuan!" Frederick merasa tidak enak kala dokter menyuruhnya masuk.
Bau noda berwarna merah tercium hingga hidung mancung itu perih. Frederick berusaha kuat agar bisa mengetahui keadaan Sena.
"Di mana Sena?" tanya Frederick.
"Ikut saya Tuan!" Kedua bola mata Frederick terbuka lebar melihat Sena penuh dengan alat medis.
"Tidak mungkin?!" pekik Frederick sambil menutup mulutnya.
"Nona Sena koma Tuan. Kami tidak bisa memprediksi kapan sadar karena benturan yang dialaminya merusak tubuhnya," terang dokter Lina.
"Bagaimana kalau Sena dibawa ke luar negeri?" usul Frederick.
"Kami sudah berkonsultasi dengan dokter terbaik di dunia ini Tuan. Beliau menolak karena data diri Nona Sena sangat bahaya untuknya." Frederick semakin gusar dia tidak tahu apa yang harus dilakukan saat ini.
"Baiklah tapi saya minta sesuatu kepada kalian tolong jaga Sena dua puluh empat jam. Soal biaya saya akan tanggung semuanya," pinta Frederick.
"Baik Tuan," jawab dokter Lina dengan cepat.
Frederick memandang Sena sebelum keluar dari ruang operasi. Dia tidak tahu nanti hadapi keluarga Sena terlebih lagi ayah ya yang galak.
"Tuan, Nona Rania hilang!" lapor sekretaris Davin.
"Saya mendapatkan laporan kalau jejak Nona Rania hilang di simpang salon kecantikan anda Tuan," tambahnya.
"Sial! Davin temukan Rania, saat ini ia pasti ketakutan karena sudah bebas!" perintah Frederick.
"Baik Tuan," jawab sekretaris Davin cepat.
Frederick tidak habis pikir bisa melupakan Rania pasca kejadian dan masalah selanjutnya telah tiba. Kedua orang tua Sena tiba dengan wajah yang galak menghampirinya.
"Di mana Sena?" tanya ayah Sena mengamuk.
"Om, Sena masih di dalam," jawab Frederick datar.
"Terjadi sesuatu kepada putriku, siap-siap pengadilan akan turun tangan mengadili pria tidak bertanggung jawab sepertimu," tunjuk ayah Sena tepat depan wajah Frederick.
"Tenanglah ayah, jangan seperti itu kepada Frederick mungkin kecelakaan ini siapapun tidak akan pernah menginginkannya. Tapi kalau Sena kenapa-kenapa dan pergi untuk selamanya lebih baik mamah pergi juga," tangisnya.
"Tante, saya akan bertanggung jawab atas Sena, kumohon berikan saya waktu melakukan yang terbaik untuknya," pinta Frederick.
"Kalau terjadi sesuatu kepada putriku, kamu harus bertanggung jawab penuh atas dirinya. Kalaupun Sena sadar suatu saat sudah keajaiban untuknya tapi balik itu semuanya, kemungkinan besar Sena akan lumpuh." Frederick langsung tegang dia belum siap Sena kenapa-kenapa di masa muda ya ini.
"Itu tidak akan pernah terjadi Om. Saya akan memastikan Sena kembali ke semula," janji Frederick.
"Kalau tidak bagaimana?" Frederick seketika diam, pandangan mereka teralihkan pintu kena buka.
"Bagaimana keadaan putriku?" tanya ayah Sena.
"Tenanglah Tuan! Nona Sena saat ini belum menunjukkan perubahan. Berdoa saja mudah-mudahan malam ini atau esok ada lampu hijau kita dengar," terang dokter tersebut.
"Pak, Sena pasti menderita di dalam sana karena tidak bebas lagi." Ibu Sena terus menerus menangis di hadapan Frederick sambil memukul namun tidak kuat.