
Frederick langsung menarik Rania keluar dari kamar untuk memberikannya pelajaran karena sudah berani menantangnya.
"Kamu sudah berani bicara banyak, malam ini pelajaran untukmu akan lebih daripada sebelumnya,'' ucap Frederick geram.
''Lepaskan saya, kamu pria yang sakit hanya mengandalkan kekuasaan untuk mengendalikan semuanya,'' tambah Rania.
Frederick semakin marah mendengar ucapan Rania tanpa berpikir panjang dia langsung membuat tubuh itu jatuh ke lantai.
''Wanita sepertimu terlihat polos namun ternyata tidak, bagaimana perasaan ibu Ani melihat anak didiknya berkelakuan sepertimu?" Rania menahan amarah karena mereka yang berkuasa ia berakhir di tempat seperti ini.
Rania berdiri sambil mengusap siku tangannya yang sempat tergores karena tidak bisa seimbang kan tubuhnya.
''Baiklah, saya menyerah,'' ucapnya pelan.
''Tidak semudah yang kamu katakan, ikut aku!'' Frederick menarik Rania hingga keluar dari Penthouse.
Kedua kakinya mengenai batu karena Frederick menariknya tergesa-gesa hingga mengeluarkan noda yang berwarna merah namun, pria dewasa itu tidak memperdulikannya.
''Jalan Derulo!" perintah Frederick.
''Baik Tuan,'' jawab sekretaris Derulo cepat.
''Dia mau membawaku ke mana?" batin Rania.
''Kalian dua akan kupertemukan malam ini,'' ucap Frederick sambil tersenyum penuh arti.
Hingga mereka tiba di kediaman tempat para pengawal Frederick semuanya langsung menyambut kedatangan mereka. Begitu juga dengan Christianto belahan berdiri tepat di hadapan Frederick.
''Keluar!" perintah Frederick lalu menarik Rania keluar dari mobil.
''Kak Christianto sedang apa di sini?!" pekik Rania.
''Keluar!" ucap Frederick lagi.
Tubuh lemah sulit untuk berdiri tegak Rania berusaha untuk tetap tegar berdiri di hadapan ini pria yang selama ini menjaganya.
''Rania,'' lirih Christianto.
Frederick menikmati pemandangan pilu itu yang dia pertemukan di hari yang seharusnya tidak dilakukannya hari ini. Situasi yang membuatnya harus melakukan secepat ini dari dugaannya.
''Kalian saling kenal?" tanya Frederick berpura-pura.
''Apa?!" Frederick menatap mereka berdua bergantian begitu juga dengan sekretaris Davin.
''Bawa Rania ke dalam!" perintah Frederick dengan wajah yang begitu masam.
''Baik Tuan muda,'' jawab sekretaris Davin.
''Mereka membawa Rania ke mana?" ucap Christianto dalam hati dengan perasaan yang begitu cemas.
Hingga suara teriakan membuat Christianto kaget bukan kepalang spontan dia langsung masuk ke dalam memastikan keadaan Rania.
''Rania?!'' teriaknya.
''Diam di tempat,'' ucap sekretaris Davin cepat.
''Jangan sakiti dia, saya mohon Tuan,'' pinta Christianto.
''Jadi kalian memang benar-benar tidak saling kenal?" tanya Frederick lagi.
''Kak, Rania mohon jangan mengakuinya,'' ucapnya dalam hati sambil geleng-geleng kepala.
''Ya,'' jawabnya dengan jujur.
''Kamu berpura-pura menolong saya karena sudah mengetahui keberadaan Rania?" tuduh Frederick.
''Itu tidak benar Tuan. Saya murni menolong anda kemarin,'' jawabnya dengan cepat.
''Saya tidak mempercayainya. Rania saat ini sudah berada dalam genggamanku, untuk itu apapun yang terjadi minumnya jangan pernah ikut campur. Davin tetap akan memberikanmu pekerjaan tapi tidak dengan Rania,'' ucap Frederick.
''Ya Tuhan, kak Chris kenapa harus terjebak di sini?" tangis Rania.
''Saya mau tanya sesuatu kepada anda Tuan?" ucap Christianto.
''Apa itu?" tanya Frederick datar.
''Jadi, keluarga Rania apa benar anda Tuan?" Frederick tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Christianto.
Rania hanya bisa menundukkan wajahnya mendengar pertanyaan bodoh Christianto sementara ia di sini korban atas kekuasaan Frederick.
''Bagaimana nasib kami berdua sekarang?" jerit Rania sambil menahan sakit pada kakinya.