
Frederick terlihat kecewa melihat Christianto banyak wanita yang mendekatinya. Hadiah yang telah diberikan kepada salah satu wanita mendapatkan balasan pelukan yang hangat.
''Rania juga bisa seperti itu,'' ucap Frederick ketus.
''Tuan, sebaiknya anda hati-hati kepada Christianto karena dia sangat berbahaya,'' ingat sekretaris Davin lagi.
''Berikan dia besok pekerjaan yang berat Davin, tentukan juga waktunya,'' perintah Frederick.
''Baik Tuan dengan senang hati,'' jawab sekretaris Davin senang.
Frederick meninggalkan tempat tersebut karena dia tidak kuat berlama-lama di luar. Hari ini butuh kesenangan untuk menuntaskan semua masalah yang datang kepadanya.
''Rania yang bisa mengobati penat dan lelah ini,'' gumamnya.
''Tuan, boleh saya mengatakan sesuatu?" tanya sekretaris Davin sambil fokus menyetir.
''Apa itu?" tanyanya tanpa membuka kedua bola mata.
''Tuan tidak merata kalau saat ini terlalu banyak memberikan perhatian kepada Nona Rania. Maksud saya, Tuan berbeda pertama kali membawa Nona dan sekarang.'' Kedua bola mata Frederick spontan terbuka dia menatap tajam sekretaris Davin.
''Jangan bicara sembarangan Davin! Kamu hanya melihatnya saja tapi berbeda dari luar,'' sentak Frederick.
''Maaf Tuan,'' lirihnya.
''Jalan yang benar,'' tambah Frederick.
''Baik Tuan,'' jawabnya.
Rania melihat kedatangan Frederick ia merasa tenang tidak mau terlalu serius lagi menanggapinya.
''Aku pulang!" ucap Frederick lalu duduk untuk istirahat sebentar.
''Pasti ada sesuatu yang terjadi kepadanya,'' gumam Rania.
''Kamu sedang apa di sana berdiri?" Rania kaget kedapatan memperhatikannya dari jarak jauh.
''Hanya melihat rumah ini isinya begitu cantik,'' jawabnya kagum.
''Yakin?" tanya Frederick.
Frederick langsung berdiri menghampiri Rania yang tiba-tiba sudah kembali masuk ke kamar.
''Kamu sedang apa di sana?" tanya Frederick tidak suka melihat Rania yang saat ini terlalu patuh apa yang dikatakannya.
''Melayani,'' jawabnya singkat dan tenang.
''Hentikan! Kamu pikir kau ini wanita murahan?!" bentak Frederick sambil tekan lengan Rania hingga membuatnya meringis.
''Saya memang wanita seperti itu bahkan anda pernah menyatakannya.'' Jakun Frederick terlihat naik turun mendengar ucapan Rania.
Dia memang pernah mengatakan itu kepada Rania namun untuk saat ini berbeda. Tidak mau memperpanjang masalah Frederick memilih masuk ke dalam mandi.
''Bodohnya kamu ini Frederick. Rania bahkan mengingatnya sampai sekarang ternyata perbuatanmu dahulu begitu sakit,'' ucapnya lalu membiarkan air mengenai wajahnya.
Rania menatap pintu kamar mandi berharap Frederick tidak pernah keluar dari sana. Namun doa itu tidak pernah terkabul pada akhirnya Frederick keluar dengan rambut basahnya.
''Hei, kenapa malah bengong seperti itu?" tanya Frederick sambil menyadarkan Rania.
''Saya akan bersiap Tuan.'' Rania langsung berbaring di atas tempat tidur seperti yang diminta Frederick.
''Oh astaga wanita ini benar-benar keras kepala?!" pekik Frederick.
Frederick tidak mau melepaskan kesempatan ini akhirnya untuk mengurangi rasa lelah dia mengambil haknya itu. Tidak ada suara jeritan dalam kamar tersebut namun air mata beberapa tetes terus keluar tanpa diundang.
''Tidurlah! Besok ada seseorang yang ingin bertemu denganmu lagi,'' ucap Frederick.
''Baik,'' jawabnya singkat.
''Jawaban macam apa itu, wanita ini bukan wanita seperti yang dulu lagi,'' decaknya lalu duluan tidur tidak memperdulikan Rania masih membuka semua bola matanya.
''Aku tidak minum obat?!" pekiknya.
Rania langsung berbalik menatap wajah damai Frederick tidur namun kedua bola matanya terbuka.
''Sabar Rania, kamu hanya tinggal menunggu waktu untuk mengembalikan semula. Kamu terlalu banyak sekali menderita selama ini," batinnya