
Rania bangun lebih awal ia melihat wajah tenang Frederick tidur dalam pelukannya. Tiba-tiba perasaannya menjadi baik untuk pertama kalinya.
Sebelumnya berganti hari adalah waktu yang tidak cocok untuknya karena bahaya selalu menanti. Namun kali ini berbeda, ketenangan telah membuatnya bisa merasakan cinta dan kasih sayang walaupun hanya sebentar dinikmati.
''Apa yang kamu lihat?" tanya Frederick tiba-tiba membuka kedua bola mata ya.
''Anda udah bangun Tuan?!" pekiknya.
''Usap wajahku cepat!" perintahnya.
''Tapi?" Karena melihat kedua bola mata Frederick melotot akhirnya Rania melakukan itu.
Tangannya bergetar merasakan kulit halus itu untuk pertama kalinya. Frederick menatap datar lalu semakin lama rasa kantuk itu mulai menyerang matanya.
''Dia tidur lagi kah?" gumam Rania.
''Tangannya seperti es batu,'' tawa Frederick.
Namun ketenangan itu tiba-tiba menjadi buyar karena Sena memanggil dari luar. Frederick merasa terganggu dengan kehadiran Sena dia langsung memerintahkan pelayan untuk tidak melakukan itu.
''Davin, jangan biarkan wanita itu melakukan hal-hal yang membuatku jengkel di pagi hari,'' perintah Frederick.
''Baik Tuan Muda,'' jawab sekretaris Davin.
''Kenapa anda tidak menemui Nona Sena, Tuan?" tanya Rania dengan hati-hati.
''Lakukan seperti yang tadi!" ucap Frederick.
''Anda tidak mau menemuinya Tuan?" tanya Rania memastikan.
''Kamu mau melakukan atau tidak?" pekik Frederick.
''Baik,'' jawabnya cepat.
Frederick kembali merasakan tangan itu namun kali ini semakin dingin. Mood ya akhirnya berubah karena tidak sesuai dengan keinginannya di pagi hai ini.
''Bersiaplah kamu akan keluar dari tempat ini untuk pertama kalinya,'' ucap Frederick sambil turun dari tempat tidur.
''Ke mana?" tanya Rania.
Frederick tidak menjawab dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Rania senang bisa kembali melihat dunia luar yang sudah lama tidak dilihatnya.
''Tapi aku mau dibawa ke mana?" gumamnya.
''Kamu di sini tidur semalam?" tanya Sena tidak suka apalagi tadi pagi dia diusir sekretaris Davin.
''Ya Mbak,'' jawabnya singkat.
''Sini kamu! Bagaimana bisa Frederick mau tidur dengan wanita sepertimu?!" pekik Sena.
''Mbak sakit,'' lirihnya.
''Diam kamu! Katakan dengan sejujurnya?" tekannya.
''Saya juga tidak tahu kenapa Tuan menginginkan saya Mbak,'' balasnya.
''Kamu memang pantas diberikan pelajaran agar bisa jujur ya.'' Sena kembali menekan lengan Rania hingga membuatnya semakin kesakitan.
Namun tiba-tiba pintu terbuka Sena melihat dan melakukan sebuah drama.
''Aduh, apa yang kamu lakukan?" tangis Sena dan berpura-pura jatuh ke bawah.
''Apa?'' pekik Rania tidak mengerti.
''Ada apa ini?" tanya Frederick dengan wajah yang datar.
''Tu-tuan saya tidak melakukan ini?" bela Rania.
''Fred, ternyata wanita ini mengerikan mampu melakukan kejahatan di rumahmu,'' keluh Sena.
''Itu tidak benar Tuan,'' elak Rania.
''Kalian lanjutkan saja berantem.'' Hal yang tidak terduga membuat kedua wanita itu tercengang melihat kepergian Frederick.
''Awas kamu!" ancam Sena lalu mengejar Frederick yang sudah hampir turun ke bawah.
''Wanita ini terlalu pintar sekali melakukan akting, kalau seperti ini terus Frederick pasti semakin membenciku,'' lirihnya.
Rania tidak jadi ke dapur ia memilih kembali ke kamar untuk membersihkan tubuhnya yang lengket. Namun berbeda dengan Frederick dan Sena duduk santai ruang tengah.
''Fred, kapan kamu melakukan pernikahan kita?" tanya Sena.
''Segera,'' jawabnya singkat.