
Sena bukan main senangnya mendengar jawaban Frederick membuatnya begitu puas dengan ini dia bisa menguasai seluruh kekayaan Frederick.
''Dan aku akan menyingkirkan Rania,'' seringainya.
''Kamu senang menikah denganku, Sena?" tanya Frederick.
''Sangat, kamu tahu dari dulu aku sudah menginginkan jawabanmu Frederick. Tapi entah kenapa sekarang bisa kamu jawab,'' balas Sena.
''Walaupun jadi istri kedua?" Sena mengeram kesal tentunya dia tidak senang menjadi istri kedua.
Melihat keberadaan Rania membuatnya semakin kesal bisa menghambat rencananya yang sudah lama disusun.
''Asal cinta kita dua abadi Frederick.'' Frederick yang mendengar jawaban Sena ingin mules.
''Kalian dua adalah wanita berbahaya dalam hidupku.'' Frederick melihat Rania sudah cantik seperti yang dikatakannya.
Frederick langsung melepaskan pelukan Sena dan menghampiri Rania yang sudah mendekat.
''Maaf saya lama,'' ucapnya pelan.
''Ayo kita pergi!" Frederick menarik tangan Rania namun langsung dilepaskan Sena.
''Fred, kalian mau kemana kenapa tidak mengajakku?" protes Sena.
''Sebagai calon istri kedua lebih banyak tinggal di rumah,'' balasnya.
''Apa? Tapi dia belum menjadi istrimu Fred?" tambahnya.
''Besok Rania sudah menjadi istriku.'' Frederick langsung menarik Rania meninggalkan kediamannya.
''Tuan, ikutkan Nona Sena ya,'' ucap Rania dengan hati-hati agar Frederick tidak marah kepadanya.
''Kamu yakin dia ikut?" tanya Frederick langkahnya berhenti dan menatap Rania datar.
''Ya,'' jawabnya singkat.
Frederick langsung memerintahkan pelayannya untuk memanggil Sena.
''Nona, anda dipanggil Tuan Frederick!" ucapnya.
''Apa? Kamu yakin nih Frederick memanggilku?" tanya Sena begitu bahagia.
''Ya Nona,'' angguk ya.
Sena langsung lari keluar tidak sabar lagi untuk bersama dengan Frederick.
''Fred!" panggilnya.
''Berhenti di sana,'' cegahnya.
''Kenapa?" tanya Sena tidak suka diberi batas.
''Kamu ikut tapi berada di belakang kami.'' Kedua bola mata Sena terbuka lebar mendengar ucapan Frederick.
''Tapi Fred-'' Frederick dengan cepat langsung memotong ucapan Sena.
''Membantah lebih baik tinggal di sini, ayo Rania!" ajak Frederick.
''Tunggu, aku ikut.'' Sena terpaksa ikut karena tidak rela Frederick bersama dengan Rania.
Sena menahan marah karena dia berada di belakang duduk sementara Rania ada di depan. Kekesalannya berlipat ganda karena Rania ternyata melakukan perawatan di salon milik Frederick.
''Tuan, saya tidak menginginkan ini,'' tolak Rania halus.
''Masuk atau nanti malam mendapat hukuman tiga kali lipat?" ancam Frederick.
''Tapi Tuan-'' Sena langsung mengambil kesempatan.
''Fred, bagaimana kalau aku yang melakukannya,'' potong Sena.
''Rania yang kuinginkan hari ini bukan kamu,'' telak Frederick hingga membuat Sena seketika menjadi diam.
''Awas kamu Rania, untuk saat ini dirimu masih dilindungi Frederick tapi lain waktu tidak,'' gumamnya sambil mengepalkan tangannya.
Rania terpaksa melakukan apa yang dikatakan Frederick, ia sama sekali tidak percaya diri melihat penampilannya segera diubah.
Frederick tidak memperdulikan Sena terus berada di sampingnya manja.
''Fred, aku haus,'' ucapnya.
''Minta sama wanita itu,'' tunjuk Frederick.
''Tapi aku ingin kamu yang mengambilnya,'' tambahnya.
''Kamu masih memiliki kaki kan? Pergunakan dengan baik.'' Wajah Sena memerah menahan rasa malu karena para pengunjung mendengar ucapan Frederick.
Rania secara perlahan membuka kedua bola mata mau tiba-tiba jantungnya berdetak begitu kencang.
''Mbak, apa yang anda lakukan dengan wajahku?!" teriaknya tanpa sadar.
''Nona, kami melakukan seperti yang dikatakan Tuan Frederick,'' jawab wanita itu.
''Tapi sama saja kalian yang membuatnya,'' protes Rania.
''Ada apa?" tanya Frederick datar.
''Tuan, semoga anda puas dengan hasilnya,'' ucapnya.
''Kita kembali ke rumah!" Frederick meninggalkan salon tersebut tanpa mengatakan sepatah kata pun.
''Ya Tuhan, kenapa wajahku jadi seperti boneka sih?" batinnya.
''Rania ternyata cantik juga setelah di rias,'' kesal Sena.
''Sena, bisa kamu beli minuman di seberang sana?" tanya Frederick.
''Kenapa harus aku, Fred?" tanyanya balik.
''Rania baru selesai di salon nanti make up yang ia gunakan pudar.'' Kedua wanita itu tercengang mendengar ucapan Frederick.
''Frederick baru kesambet apa sampai dia menjaga Rania?!" teriaknya dalam hati.
''Pria ini kenapa tiba-tiba menjadi wanita ya? Terlalu!" pekiknya.
''Mau tidak?" tanya Frederick sambil melihat arloji di tangannya.
''Ya,'' jawab Sena cepat.
''Demi Tuhan, pria ini benar-benar keterlaluan memanfaatkan Nona Sena,'' batinnya.
Sena menahan marah sambil mengumpat sesekali dia menyeberang tidak memperhatikan mobil yang melaju ke arah ya.
''Tin!" Suara klakson mobil mengalihkan perhatian kepada Sena.
Frederick dan Rania tersentak kaget melihat Sena sudah tidak sadarkan diri di aspal.
''Sena?!" teriaknya dan langsung berlari ke arah Sena.
Frederick dalam hitungan beberapa detik melupakan Rania yang dia tinggal di depan salon.
''Tuan mengenal wanita ini?" tanya salah satu pengunjung.
''Dia calon istriku,'' jawab Frederick dengan spontan.
Rania menjatuhkan tas ya melihat Frederick khawatir dengan keadaan Sena berbeda sebelumnya. Tanpa diketahui Frederick, Rania udah meninggalkan mereka berdua di sana pergi jauh tanpa arah tujuan.
''Sena bangun!" pekik Frederick.
''Tuan, sebaiknya anda membawanya ke rumah sakit,'' ucap mereka.
''Tolong saya membawanya ke dalam mobil,'' seru Frederick.
Frederick langsung membawa Sena menuju rumah sakit miliknya yang tidak jauh dari klinik atau salon kecantikannya.
Sesampainya di rumah sakit, kedua orang tua Sena juga sudah tiba di sana.
''Apa yang terjadi dengan, Sena?!" pekik ayah Sena.
''Saya juga tidak tahu kenapa Sena bisa seperti ini Om,'' jawab Frederick takut.
''Awal mula kejadiannya bagaimana? Tidak mungkin Sena tertabrak kalau tidak ada asapnya?!" bentak ayah Sena.
''Sena, tadi saya menyuruhnya untuk membeli minuman di seberang. Hanya itu saja Om,'' ucapnya.
''Kamu harus mempertanggungjawabkan putriku Frederick. Kalau terjadi sesuatu dengannya hukum yang akan berurusan kepadamu, ingat itu!" peringat ayah Sena.
''Tapi saya tidak melakukannya lalu tujuan itu tidak mendasar membawaku ke ranah hukum Om,'' tolak Frederick.
''Kita buktikan nanti di pengadilan Frederick!" kedua dua bola mata Frederick melebar mendengar ancaman ayah Sena.
''Aku harus menghubungi sekretaris Derulo,'' batin Frederick dalam hati.
Frederick bisa saja melupakan Rania namun tidak dengan ayah Sena terus memburunya.
''Cari wanita itu sampai dapat dan jangan sampai lolos karena ia sudah menghambat rencanaku!" perintah ayah Sena kepada anak buahnya.
''Baik Tuan,'' jawabnya dengan cepat.