
Waktu begitu cepat berlalu tidak ada perubahan dalam diri Rania bahkan, Frederick hampir putus asa karena Rania tidak mau bertemu dengan dia.
"Rani, aku membawa buah anggur, kamu mau tidak?" ucap Frederick halus.
"Jangan temuin saya lagi Tuan!" tangan itu lalu di tepi karena masih ada ingatan kelakuan Frederick dahulu balapan waktu sudah berputar begitu cepat.
"Rani, Sena sampai sekarang kritis di rumah sakit, kamu mau menjenguk dia atau tidak?" tambah Frederick.
Rania menatap wajah pria tampan itu yang penuh dengan brewok. Ia tidak menyangka kalau Frederick nampak seperti pria yang tidak terurus.
"Sena?!" gumamnya tidak percaya padahal sudah beberapa minggu pasca kejadian.
Frederick langsung mendekati Rania dia berusaha keras untuk menggenggam tangan itu yang dingin.
Rania mundur beberapa langkah untuk menjauhi Frederick masih menginginkan dirinya.
"Pergilah, Nona Sena begitu membutuhkan Tuan," ucap ya pelan.
"Tapi kamu juga membutuhkan kehangatan dariku Rania," pinta Frederick.
Rania semakin kesal terhadap Frederick mendengar ucapannya yang tidak ia sukai.
Di rumah sakit kedua orang tua Sena sibuk mengurus dia yang masih betah tidur cukup lama. Namun sesuatu membuat heboh rumah sakit karena Sena bangun dari koma lebih dua Minggu.
"Sena, kamu mendengar suara ayah?" tanya ayah Sena panik.
"Siapa kamu?" Ayah Sena terbelalak mendengar pertanyaan putrinya itu lalu dia menatap dokter yang memeriksanya.
"Apa yang terjadi dengan putriku?" pekik ya.
"Tuan, benturan mengakibatkan Nona Sena mengalami amnesia. Tapi anda tidak perlu khawatir Nona Sena hanya mengalami amnesia ringan." Ayah Sena merasa sedikit tenang.
"Di mana aku?" tanya Sena lagi.
"Nak, kamu ada di rumah sakit kemarin kecelakaan membuatmu seperti ini. Ibu dan ayah sempat depresi karena kamu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda untuk sadar," ucap ayah Sena lirih.
"Frederick di mana? Kenapa suamiku tidak ada di sini?" tanyanya.
Ayah Sena kembali menatap dokter untuk memastikan keadaannya baik.
"Tapi Sena belum pernah menikah sekalipun bagaimana mungkin dia memiliki suami?" pekik ayah Sena.
Pintu tiba-tiba terbuka semua pandangan langsung tertuju kepada Frederick.
"Sena, kamu sudah sadar?!" pekik Frederick.
"Suamiku aku takut." Sena langsung memeluk tubuhnya Frederick.
"Suamiku?" Frederick menatap dokter dan ayah Sena untuk memberikan penjelasan yang baru saja didengar ya.
"Om, bagaimana bisa Sena mengatakan itu kepadaku?" tanya Frederick heran.
"Kamu harus mengikuti apa yang dikatakan Sena, efek dari kecelakaan yang menimpanya ini," ucap ayah Sena.
"Sena amnesia? Tapi wajah ya terlihat baik-baik saja?" batin Frederick.
Kini hanya mereka bertiga dalam ruangan tersebut, Frederick tidak mau dekat-dekat dengan Sena.
Sena kembali tidur karena efek samping obat yang dia minum karena butuh istirahat lagi agar kondisinya semakin sehat.
"Sena amnesia?" batin Frederick.
"Ayolah Frederick, kamu harus bertanggungjawab terhadap Sena. Kalau kamu abaikan Sena, hukum yang akan berjalan," ucap ayah Sena dalam hati sambil tersenyum kecil.
"Tuan Sena kenapa senyum-senyum sendiri?" batin sekretaris Davin.
Ayah Sena kembali duduk sambil meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Halo Tuan?" sahut seseorang dari seberang sana.
"Bagaimana perkembangan anak buah kita?" tanya ya.
"Masih memantau Tuan, Rania banyak mengawasi di apartemen kami begitu sulit untuk mendekati ya," ucapnya.
"Hilangkan ia dari muka bumi ini!" Kedua bola mata sekretaris Davin terbelalak bersama dengan Frederick.