Hubby Sweet Love Me

Hubby Sweet Love Me
Tidak Menyukaiku



Saking paniknya Rania terjatuh tidak memperhatikan langkah kakinya dan kesadarannya pun hilang. Begitu banyak cairan berwarna merah berceceran hingga seorang pelayan tidak sengaja lewat hendak ingin naik ke atas.


"Nona?!" teriaknya kencang.


"Suara apa itu?" gumam Frederick.


"Tolong Tuan muda! Siapa saja," tambahnya.


"Rania? Apa yang terjadi dengannya?" tanya Frederick panik.


"Saya tidak tahu Tuan, Nona sudah seperti ini ketika saya melewatinya," jawabnya gugup.


Frederick langsung menggendong Rania menuju ke mobil perasaannya begitu tidak enak apalagi melihat cairan merah begitu banyak berceceran. Bahkan dipakaiannya juga sudah berganti warna menjadi merah.


"Kalian harus selamat, jangan tinggalkan aku Claire?" batin Frederick.


Terjadi sesuatu kepada Rania sama saja dia sudah menghilangkan dua orang yang paling dia sayangi.


Tidak lama kemudian akhirnya tiba di rumah sakit dan para dokter langsung menolong Rania cepat-cepat berhubung keadaannya sudah kritis.


"Maaf Tuan, kami tidak memperbolehkan siapapun masuk ke dalam kecuali medis," larangnya.


"Kalian harus selamatkan dia bersama dengan anakku. Bagaimanapun juga mereka harus kembali seperti dulu!" pinta Frederick.


"Baik Tuan," jawab sang dokter cepat.


Pikiran Frederick ke mana-mana setelah melihat keadaan Rania yang begitu kritis. Dia hanya bisa berharap mereka berdua baik-baik saja.


Ternyata Christianto mengetahui keadaan Rania kritis langsung menuju ke rumah sakit dengan keadaan tergesa-gesa.


Christianto benci terhadap Frederick tidak pernah becus menjaga Rania.


"Rasakan ini!" Christianto tidak takut memberikan pelajaran kepada Frederick hingga wajah pria tampan itu terlihat memar.


"Beraninya kau?!" bentak Frederick.


"Kalau tidak bisa menjaga Rania kamu lebih baik melepaskannya dari pada menyakiti ya," sentaknya.


"Tidak perlu mengajariku seperti itu, Rania kecelakaan karena itu murni," balasnya.


Wajah Christianto semakin dingin setelah mendengar ucapan Frederick sama sekali tidak ada penyesalan terhadap dirinya apa yang dialami Rania.


"Terserah." Frederick memilih duduk sambil menahan sakit pada wajah ya karena ulah Christianto.


Kedua pria tampan itu memilih duduk bersama namun mereka berdua memilih jaga jarak. Cukup lama juga Rania berjuang di dalam sampai Fredrick cemas dan langsung berdiri.


"Kenapa lama sekali?" batinnya sambil melihat pintu tidak ada tanda-tanda dokter keluar.


Setelah satu jam berlalu lagi, dokter akhirnya keluar hingga dua pria tampan itu berdiri cepat.


"Bagaimana keadaan Rania dan anaknya dokter?" tanya Frederick dan Christianto bersamaan.


"Suami Nona Rania?" ucapnya sambil memperhatikan mereka berdua.


"Saya dok," balas Frederick cepat.


"Nona Rania sudah siuman hanya saja tidak mengenali sekelilingnya," ucap sang dokter.


"Apa? Lalu bagaimana dengan bayinya?" potong Christianto.


"Maaf Tuan, bayi Nona Rania sama sekali tidak bisa kami selamatkan karena sudah banyak mengeluarkan cairan merah." Frederick menitikkan air mata untung saja tidak ada yang melihat.


"Saya mau melihat Rania," lirihnya.


"Baik!" Frederick masuk ke dalam hidungnya menghirup aroma cairan merah.


"Rania?!" panggil ya pelan.


Rania menatap kosong ia semakin tidak ingin melihat wajah Frederick setelah apa yang terjadi dengannya.


"Rania, aku minta maaf tidak ada waktu kamu kecelakaan," tambahnya.


Rania diam seribu bahasa lalu menatap lurus ke depan sambil membayangkan bayi ya sudah pergi jauh meninggalkan dirinya.


"Apa yang terjadi dengannya?" tanya Frederick dingin.


"Kami akan memeriksa Nona Rania lagi Tuan." Dokter heran karena hasil pemeriksaannya tidak mungkin salah.


"Apa kamu benar-benar tidak menyukaiku Rania?" batin Frederick.