
Rania kaget melihat kedatangan Frederick secara tiba-tiba, mundur adalah langkah Rania saat ini kala Frederick telah sudah membuka pakaiannya di hadapan. Rania kali ini sangat ketakutan.
Frederick mendekati Rania dengan wajah tidak bisa di artikan lagi, semua emosi Frederick satu harian ini ingin segera di tuntaskan bersama Rania.
"Tu-tuan!" ucap Rania gugup.
Tubuhnya sudah mengenai dinding dan tidak bisa lagi mundur. Fredrick tidak menjawab langsung menarik Rania dan tubuh mereka saat ini sudah sangat dekat.
"Jangan banyak bicara dengan saya," ucap Frederick sambil menarik sedikit dagu Rania secara kasar.
Rania terdiam kaku dan lidahnya terasa sangat kelu dan lagi melihat tatapan Frederick membuatnya semakin menciut.
Frederick mendekatkan wajahnya hingga semakin dekat tanpa sengaja Frederick melihat Rania menitikkan air mata. Dia bingung melihat Rania lalu bangkit. Di sana Rania masih saja terisak.
"Sial," umpat Frederick.
Frederick menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh lengketnya karena satu harian ini begitu banyak aktivitas ya. Rania masih menangis di tempat tidur Frederick. Tidak lama kemudian Frederick telah selesai mandi dan hanya mengenakan handuk melilit di pinggang.
Frederick melihat Rania sudah berada di balkon memeluk ke dua kakinya dan tubuhnya terlihat bergetar. Frederick mendekati Rania menepuk pundaknya.
"Kau!" Rania tergelonjak kaget bukan kepalang langsung berdiri dan mundur ketika Frederick mendekatinya lagi.
"Tuan, aku mohon jangan sakiti saya!" pinta Rania sangat memohon langkahnya terhenti karena sudah terhalang tembok balkon.
Frederick tidak menjawab ke dua bola matanya ingin Rania saat ini juga menghilangkan penat di kepalanya bagaimana pun caranya.
Frederick memegang lengan Rania kuat membuatnya meringis lalu dia kunci bersama dengan tubuh tegabnya. Tubuh Rania membeku dan wajahnya juga sudah terlihat sangat pucat.
"Semakin banyak kau berbicara, habis kau malam ini!" ucap Frederick senyum menyeringai membuat bulu kuduk Rania berdiri semua.
Frederick mendekatkan wajahnya tangan kirinya menarik dagu Rania lalu tidak mau berlama-lama langsung meraih buah ceri tersebut sangat lahap. Rania untuk ke dua kali merasakan sentuhan langsung seperti ini gugup luar biasa karena ini pertama dan ke dua kalinya bagi Rania melakukan ini.
Frederick melihat Rania tidak mau membalas langsung membuatnya kaget dan ia tiba-tiba saja membuka mulutnya lebar, Frederick tersenyum puas kembali melakukannya sampai puas.
Rania kali ini sangat pasrah dengan perbuatan Frederick kepadanya padahal oa ingin sekali berbicara kepada Frederick soal dirinya kenapa bisa terjebak bersamanya.
Frederick yang masih menikmati sambil memperhatikan Rania menahan suaranya agar tidak keluar merasakan sensasi luar biasa dalam permainan Frederick.
Hampir dua jam lamanya Frederick menikmati yang di miliki Rania, langung merebahkan tubuhnya di samping Rania bahkan nafas yang terdengar memburu begitu terdengar.
"Sakit sekali," batinnya. Rania merasakan tubuhnya perih karena ulah Frederick menjamahnya tanpa memperdulikan rintihannya sama sekali.
Frederick merasa sangat kelelahan langsung tertidur di samping Rania, cukup selimut tebal menutupi tubuh polos mereka berdua. Rania berusaha turun dari ranjang pelan-pelan agar Frederick tidak terbangun.
Rania memunguti pakaiannya yang berserak di lantai lalu menuju ke kamar mandi membersihkan sisa-sisa permainan Frederick yang masih terasa. Rania berdiri di depan kaca yang cukup besar menampilkan tubuh polosnya yang sudah banyak tanda merah dan juga kebiruan.
Rania tersungkur jatuh dan menutup wajahnya dengan ke dua tangannya sambil terisak.
"Kenapa? Kenapa aku harus mengalami ini semua?!" tangisnya.
Rania pergi ke kran shower menggosok kembali tubuhnya sangat kuat, baginya
ia sudah sangat kotor dan juga hina. Akibat gosokan yang kuat mengakibatkan beberapa luka terlihat. Air yang mengguyur tubuhnya yang penuh luka sama sekali tidak ia rasakan lagi.
Frederick terusik lalu terbangun dari tidur mendengar suara gemercik air dia melihat ke samping namun Rania tidak ada. Pada Akhirnya Frederick menuju ke kamar mandi namun pintu di kunci.
"Dia menguncinya," umpat Frederick. Hampir satu jam Frederick menunggu Rania namun tidak kunjung keluar.
"Apa yang di lakukannya di dalam? Buka pintunya?" tanya Frederick.
Tanpa berpikir panjang Frederick langsung mendobrak pintu. Kedua bola mata Frederick terbelalak melihat tubuh Rania sudah membiru dan lagi dia melihat bekas kuku mengeluarkan noda merah.
"Keterlaluan!" berang Frederick lalu mengangkat Rania ke tempat tidur. Frederick meraih ponselnya menghubungi dokter pribadinya, Daniel.
"Cepat datang ke sini," ucapnya lalu dia matikan tanpa menunggu jawabannya.
"Frederick masih tetap, tidak pernah berubah," tawanya.
Sembari menunggu kedatangan Daniel, Frederick memakaikan pakaian Rania dan juga dirinya. Dokter Daniel tiba di Villa dan Ina pelayan setia Frederick membukakan pintu mempersilahkan Dokter Daniel masuk.
"Selamat malam dokter Daniel," sapa Ina halus.
"Malam Ina, Tuan muda di mana Ina?" tanya dokter Daniel.
"Tuan muda ada di atas dokter, mari!" ucap Ina. Dokter Daniel dan Ina naik ke atas lalu pintu terbuka wajah Frederick terlihat dingin.
"Frederick," ucap dokter Daniel.
Dokter Daniel adalah sahabat Frederick sejak mereka menempuh pendidikan sekolah menengah atas karena itu Dokter Daniel bisa memanggil nama Frederick.
"Periksa dia cepat Daniel!" Frederick terlihat khawatir dengan keadaan Rania saat ini.
"Ya Frederick." Dokter Daniel memeriksa Rania yang masih belom sadar.
Daniel kaget melihat tubuh Rania lalu dia memberikan Infus agar tenaganya cepat kembali pulih.
"Bagaimana Daniel?" tanya Frederick.
"Bro, hasil pemeriksaan ku, untuk sementara biarkan Nona ini tenang jika terus seperti ini kamu akan tahu akibatnya Frederick." Frederick mendengus tahu arti perkataaan Daniel lalu dia memilih duduk di sofa dan di ikuti Daniel.
"Siapa dia?" kepo Daniel. Frederick menatap Daniel tatapan tajam.
"Ok tidak usah beritahu," ucap Daniel langsung, takut Frederick bakal mengamuk.
"Wanita baru ku," jawab Frederick pelan sambil menatap tubuh Rania yang terbaring.
"Apa?! Serius lho Bro?" ucap Daniel kaget luar biasa, selama ini Daniel tahu Frederick tidak mau lagi mengenal perempuan, jangankan mengenal menyentuh wanita saja Frederick risih.
"Kenapa?" tanya Fredrick menatap wajah Daniel yang masih tercengang. Tidak ada jawaban Fredrick mendorong Daniel hingga terjatuh di lantai.
"Sakit!" Daniel merasakan sakit di bagaian bokongnya.
"Rasakan. Makanya jangan terkejut." Frederick berdiri mengambilkan air putih karena tenggorokannya berasa kering.
"Tunggu! AkU mau tanya Bro?" Frederick tidak menjawab terus fokus minum.
"Apa lho sudah melakukan itu?" selidik Daniel.
Frederick menatap wajah Daniel datar, seketika Daniel menciut walau sahabat Daniel takut dengan Frederick karena Frederick lah dirinya bisa sampai di puncak ini.
"Ok bro sori, gue pamit ada pasien yang menunggui ku tapi jika memang lho udah rasain harap Pelan-pelan," ucap Daniel sambil lari cengegesan sambil ledek Frederick.