
Ayah Sena menatap wajah Frederick dingin karena calon menantunya ini, Sena jadi korban tabrak lari.
"Apa rencana mu sekarang?" tanya ayah Sena.
Kali ini ayah Sena tidak ada lagi kelembutan kepada Frederick karena putri satu-satunya kini harus berjuang sendirian di dalam sana.
"Om, saya belum bisa memikirkan seorang, berikan saya waktu," pinta Frederick.
"Kalau Sena kenapa-kenapa di dalam sana bagaimana?" sentak ya.
"Sena pasti sembuh Om. Saya akan memastikan keadaannya." Ayah Sena tidak mau detik inilah juga Frederick harus memberikan keputusan.
"Kalau tidak sadar, apa yang bisa kamu lakukan kepadanya?" tambahnya lagi.
"Biarkan dokter pribadiku memeriksanya beberapa hari ini. Kalau tidak ada perubahan, saya siap menikahinya!" kedua bola mata ayah Sena terbuka lebar.
Senyuman tipis terlihat dari sudut bibirnya yang tebal namun terlihat hitam. Namun, dibalik itu semua ada yang harus dia kerjakan terlebih dahulu.
"Tidak perlu dokter pribadimu memeriksanya karena keluarga kami tidak mempercayai siapapun," tolaknya.
"Bukankah kita sebentar lagi akan menjadi keluarga, Om?" pertanyaan itu membuat ayah Sena jadi gugup karena keadaannya terdesak.
"Frederick memang pria yang tegas, pantes dia tidak pernah kalah dalam hal bidang apapun karena teliti," ucap ayah Sena dalam hati.
"Om?" panggil Frederick lagi.
"Nikahi Sena baru dokter pribadimu bisa memeriksanya!" Frederick menghembuskan napasnya kuat karena tidak bisa melakukan itu dalam waktu yang singkat ini.
"Mari kita sama-sama menuggu kesadaran Sena Om baru keputusan dilakukan kembali. Saat ini biar kita serahkan semuanya kepada dokter. Saya pikir Sena masih butuh perawatan pasca kejadian." Ayah Sena terlihat gusar karena perkataan Frederick.
Tidak ada jawaban lagi Frederick izin pamit karena dia harus mencari keberadaan Rania. Tetap saja khawatir karena luar sana banyak orang-orang yang tidak bertanggungjawab terhadap wanita, apalagi seperti Rania yang polos tidak tahu apa-apa.
"Davin sudah kalian temukan Rania?" tanya Frederick panik.
"Ke mana Rania di bawa?" tanya Frederick.
"Kami kehilangan jejak Tuan." Sekretaris Davin menunduk karena bersalah tidak becus mengurus satu orang.
"Temukan Rania karena hanya ia yang bisa menyelamatkan pernikahan penebus nyawa," ucap Frederick kesal.
"Maaf Tuan," ucap sekretaris Davin pelan.
Frederick terus menonton layar berukuran sedang itu Rania lari sampai ke ujung jalan blok delima. Berulang kali diputar Frederick hentikan karena menangkap sosok pria yang sepertinya dia kenal.
"Christianto?!" pekik Frederick tidak percaya.
"Ada apa Tuan?" tanya sekretaris Davin cemas.
"Di mana Christianto tinggal saat ini, Davin?" tanya Frederick dingin.
"Apartemen royal air Tuan," jawab sekretaris Davin.
"Kita ke sana!" perintah Frederick.
"Baik Tuan," angguk sekretaris Davin.
Frederick yakin Rania berada di apartemen miliknya itu, perasaanya tenang karena wanita yang sudah mengisi hari-harinya itu telah selamat di tangan tepat.
Mobil Frederick tiba mereka berdua langsung naik ke atas memastikan keberadaan Rania. Berulang kali sekretaris Davin menekan bel namun tidak ada tanda-tanda Christianto keluar.
Frederick memberikan perintah pintu didobrak karena waktu tidak banyak lagi menyelesaikan masalah baru ini.
"Tuan sudah bisa masuk ke dalam," lapor sekretaris Davin.
Ruangan kosong bahkan untuk satu lampu tidak ada yang hidup. Kedua bola mata itu secara tidak sengaja menangkap sesuatu bakol Fred