Hubby Sweet Love Me

Hubby Sweet Love Me
Kontrakan Kecil



Waktu berlalu semua menjalani aktivitasnya masing-masing semenjak kejadian tersebut bahkan Frederick tidak mau lagi menemui Rania karena merasa bersalah.


Christianto tidak pernah lagi bertemu dengannya bahkan kesehariannya dia jalani sebagai pelayan sebuah restoran tidak jauh dari rumah kontrakan yang dihuninya bersama dengan Rania.


Rania sampai detik ini masih belum mau keluar dari rumah kontrakan karena trauma kejadian yang pernah menimpa dirinya.


"Rania, apa kau di dalam?'' panggil Christianto sambil membuka sepatunya di luar.


"Kakak sudah pulang," ucapnya antusias.


"Apa yang kamu lakukan hari ini?'' tanyanya.


"Hanya diam di rumah dan tidak melakukan aktivitas apapun kak, aku merasa menjadi wanita bodoh," lirihnya.


"Jangan merasa seperti itu Rania. Tunggu sebentar lagi kakak sedang mengumpulkan uang agar kita kembalikan ke panti, kamu mau kan?'' Rania mengangguk sambil tersenyum lebar ia sampai sekarang belum mengetahui fakta mengenai dirinya.


"Kakak sudah makan makan malam atau belum, Rania masakan sebentar," tambah ya.


"Sudah, hari ini kakak sedang lembur beberapa jam lagi akan kembali ke restoran." Seketika wajah Rania berubah menjadi sendu kembali ditinggal sendirian di rumah kecil ini.


"Jam berapa kakak kembali?'' tanyanya pelan.


"Maaf ya, kakak melakukan ini agar kita bisa hidup lebih baik daripada sebelumnya." Christianto menangkup wajah sedih Rania.


Dia tidak tega meninggalkan Rania sendirian di sini apalagi ia wanita tentu bahaya kalau tidak ada yang menjaganya.


"Tapi kakak harus makan dulu sebelum pergi kerja lagi!" keluh Rania.


"Ya," angguk Christianto karena tidak mau membuat Rania kecewa padahal perutnya baru saja kena isi makanan sisa restoran.


Rania memperhatikan Christianto sepertinya tidak menyukai masakannya karena berulang kali mengeluarkan dari mulut.


"Enak, masakanmu yang paling enak Rania," serunya sambil tersenyum.


"Habiskan ya kak, Rania mau ke kamar dulu." Christianto mengangguk mengerti setelah Rania dipastikan lama keluar dari sana makanan tersebut dibungkus lalu dibawa ke restoran sebagai bekal ya.


"Rania, kakak pergi sekarang ya?" panggil Christianto.


"Kog cepat sekali kak?" Christianto hanya bisa tersenyum lalu mengusap kepala Rania sebelum meninggalkan rumah.


"Kalau ada sesuatu hubungi kakak ya," pesan Christianto.


"Ya kak," balas Rania.


Christianto menaiki motor yang dia beli dari hasil gajinya selama bekerja beberapa bulan ini. Kini, hanya seorang Rania tinggal di rumah kecil itu lagi.


"Bosan, andaikan saja saat ini kami berada di panti pasti ramai," gumamnya.


Rania terus memikirkan panti tempat dulu ia dibesarkan dan tiba-tiba pikirannya ternyata kepada Frederick yang membawanya dari sana tempat sepengetahuan ibu panti.


"Kenapa sampai sekarang aku belum menerima pemberitahuan atas kehilanganku selama ini?" gumam Rania.


Rania mulai curiga mengenai dirinya yang selama ini hilang bagaikan ditelan bumi. Bahkan, Christianto dulu tidak bisa menemuinya dan sekarang mereka berdua kembali bersama.


"Lalu, apa yang dilakukan pria arogan itu sekarang ya?" tambah Rania tiba-tiba saja teringat akan sosok ya.


Frederick baru saja meluncurkan anak perusahaannya terletak di sebuah daerah kota tidak terlalu padat penduduknya. Senyumannya terbit dan para wartawan mengabadikan momen tersebut dan membagikan wajahnya di berbagai media.


Rania tidak sengaja menyalakan televisi langsung muncul wajah Frederick. Tubuhnya langsung bergetar mengingat perlakuannya dahulu kepada dirinya serta ia sampai hamil dibuat. Namun ada sesuatu yang menarik perhatiannya balik layar televisi tersebut.